Search

Seni Rajah Tubuh dan Risiko Kesehatan: Apa yang Perlu Kamu Tahu Sebelum Bikin Tato

Jumat, 6 Maret 2026

Seni tato (visualhunt)

Seni merajah tubuh atau tato kini semakin lazim dijumpai dan menjadi bagian dari gaya hidup modern di berbagai kalangan masyarakat.

Berdasarkan data dari Pew Research Center tahun 2023, sekitar 32% orang dewasa di Amerika Serikat setidaknya memiliki satu tato di tubuh mereka.

Fenomena ini menunjukkan bahwa tato bukan lagi sekadar subkultur, melainkan sudah menjadi ekspresi diri yang diterima secara luas oleh publik global, termasuk di Indonesia.

Namun, di balik popularitasnya yang terus meroket, muncul rangkaian studi ilmiah terbaru yang memberikan peringatan serius mengenai potensi risiko kesehatan jangka panjang.

Para peneliti mulai menyoroti kaitan antara tinta tato dengan risiko penyakit kritis seperti kanker.

Hal ini menjadi perbincangan hangat di kalangan medis karena banyak orang yang kurang menyadari bahwa zat kimia dalam tinta tato tidak hanya menetap di permukaan kulit saja.

Temuan Mengejutkan Mengenai Risiko Limfoma dan Kanker Kulit

Sebuah studi yang dimuat dalam jurnal The Lancet tahun 2024 mengungkapkan fakta yang cukup mencengangkan bagi para pencinta seni tubuh.

Riset tersebut menemukan bahwa orang yang memiliki tato memiliki risiko 21 persen lebih tinggi terkena limfoma, yaitu jenis kanker yang menyerang sistem kekebalan tubuh.

Temuan serupa juga muncul dari Denmark pada awal 2025, yang melaporkan adanya peningkatan risiko kanker kulit sebesar 62% pada individu yang memiliki tato.

Bahkan, penelitian tersebut mencatat bahwa ukuran tato sangat berpengaruh terhadap tingkat risiko yang dihadapi seseorang.

Individu yang memiliki tato berukuran besar, atau lebih besar dari telapak tangan, disebut memiliki risiko limfoma hampir tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak bertato.

Hal ini memicu diskusi baru mengenai standar keamanan tinta tato yang digunakan oleh para seniman rajah di seluruh dunia.

Reaksi Sistem Imun Terhadap Partikel Tinta di Kelenjar Getah Bening

Para ahli menjelaskan bahwa tinta tato bekerja dengan cara disuntikkan jauh ke dalam lapisan dermis kulit, namun partikel mikroskopisnya tidak tinggal diam di sana.

Partikel-partikel ini dapat berpindah melalui sistem limfatik dan mengendap di kelenjar getah bening dalam waktu yang sangat lama, bahkan hingga puluhan tahun.

Tubuh manusia secara alami mengenali partikel tinta tersebut sebagai benda asing, sehingga memicu reaksi sistem kekebalan secara terus-menerus.

Proses perlawanan tubuh yang konstan ini dapat menyebabkan peradangan kronis dan stres oksidatif yang mampu merusak jaringan tubuh serta memicu pertumbuhan sel tidak normal.

Masalah semakin kompleks karena banyak tinta tato mengandung zat berbahaya seperti logam berat (timbal dan merkuri) serta pewarna azo pada tinta merah.

Senyawa ini diketahui bersifat karsinogenik, terutama saat terpapar sinar UV yang dapat menguraikan partikel tinta menjadi zat beracun.

Dilema Penghapusan Tato dan Langkah Proteksi bagi Pemilik Seni Tubuh

Banyak orang beranggapan bahwa menghapus tato dengan laser adalah solusi mutlak untuk menghilangkan risiko kesehatan, namun prosedur ini justru berpotensi meningkatkan risiko kanker.

Sinar laser bekerja dengan memecah partikel pigmen tinta menjadi fragmen yang lebih kecil, yang justru mempercepat migrasi senyawa berbahaya menuju kelenjar getah bening.

Studi menunjukkan bahwa orang yang melakukan penghapusan tato dengan laser memiliki risiko limfoma dua setengah kali lipat lebih tinggi.

Meski temuan ini mengkhawatirkan, para ilmuwan menekankan bahwa diperlukan studi lebih lanjut untuk membuktikan hubungan sebab-akibat secara pasti.

Bagi kamu yang sudah memiliki tato, sangat disarankan untuk selalu menggunakan tabir surya minimal SPF 30 pada area bertato guna mencegah penguraian kimia akibat sinar matahari.

Selain itu, lakukan pemeriksaan rutin ke dokter spesialis kulit jika menemukan benjolan atau perubahan tekstur yang tidak biasa pada area tato agar penanganan bisa dilakukan sejak dini.

3 Poin Penting:

  1. Studi terbaru menunjukkan adanya korelasi antara kepemilikan tato dengan peningkatan risiko kanker limfoma sebesar 21% dan kanker kulit hingga 62%.

  2. Partikel tinta tato dapat bermigrasi ke kelenjar getah bening, memicu peradangan kronis yang berpotensi merusak jaringan tubuh dalam jangka panjang.

  3. Prosedur laser untuk menghapus tato justru meningkatkan risiko penyebaran senyawa karsinogenik dalam tubuh dibandingkan dengan membiarkan tato tersebut.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan