Peta kekuatan ekonomi dunia sedang mengalami pergeseran yang cukup signifikan di awal tahun 2026 ini. Berdasarkan data terbaru yang dirilis Departemen Keuangan Amerika Serikat, kepemilikan China atas obligasi pemerintah AS atau US Treasuries tercatat mengalami penurunan tajam.
Pada November 2025, angka kepemilikannya merosot menjadi 618,2 miliar dolar AS, sebuah angka yang cukup mengejutkan jika dibandingkan dengan posisi bulan sebelumnya yang masih berada di level 688,7 miliar dolar AS.
Penurunan ini membawa kepemilikan China ke level terendah sejak September 2008 silam. Fenomena ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan sebuah manuver strategis dari Negeri Tirai Bambu untuk mulai menjaga jarak dari ketergantungan pada aset dolar.
Sebagai pemegang obligasi AS terbesar ketiga di dunia, langkah China yang telah mengurangi kepemilikannya lebih dari 10 persen sejak awal 2025 ini tentu saja mengirimkan sinyal kuat ke pasar keuangan global.
Optimalisasi Aset dan Upaya Menjaga Stabilitas Keamanan Luar Negeri
Para pengamat ekonomi menilai bahwa langkah China ini merupakan bagian dari optimalisasi dan diversifikasi portofolio aset luar negeri mereka.
Keputusan tersebut diambil demi memperkuat keamanan dan stabilitas keseluruhan aset cadangan negara di tengah ketidakpastian geopolitik.
Dengan mendiversifikasi aset, China berusaha memastikan likuiditas tetap terjaga sekaligus mengincar imbal hasil yang lebih stabil dibandingkan hanya mengandalkan satu jenis instrumen investasi dari negara tertentu.
Strategi ini dianggap sangat masuk akal bagi negara dengan skala ekonomi sebesar China yang ingin memiliki daya tahan lebih kuat terhadap risiko eksternal.
Di saat kepemilikan obligasi AS menurun, negara-negara lain seperti Jepang dan Inggris justru masih kokoh menempati posisi pertama dan kedua sebagai pemegang US Treasuries terbesar.
Perbedaan langkah ini menunjukkan adanya visi yang mulai berseberangan dalam pengelolaan risiko aset antarnegara ekonomi utama dunia.
Tren Memborong Emas Jadi Andalan Baru Bank Sentral China
Menariknya, di saat China melepas obligasi AS, mereka justru terlihat makin rajin mengoleksi emas. Data dari People’s Bank of China (PBOC) menunjukkan bahwa cadangan emas mereka melonjak menjadi 74,15 juta ons pada akhir Desember 2025.
Ini adalah tren kenaikan selama 14 bulan berturut-turut, sebuah durasi yang menunjukkan keseriusan bank sentral dalam meningkatkan nilai aset cadangan mereka melalui logam mulia yang dianggap lebih aman dan tahan inflasi.
Langkah memborong emas ini diprediksi akan terus berlanjut di masa depan karena proporsi emas dalam aset cadangan China saat ini dinilai masih relatif rendah jika dibandingkan dengan ekonomi besar lainnya di dunia.
Dengan menambah cadangan emas, PBOC berharap dapat memperkuat kemampuan mereka dalam menghadapi guncangan ekonomi global yang tak terduga.
Stabilitas aset cadangan kini menjadi prioritas utama demi mendukung fondasi ekonomi domestik yang tetap solid.
Menuju 2026 dengan Sistem Pengelolaan Devisa yang Lebih Cerdas
Memasuki tahun 2026 yang juga menjadi tahun pertama Rencana Lima Tahun ke-15, otoritas moneter China mulai mematangkan sistem pengelolaan devisa yang lebih modern.
State Administration of Foreign Exchange (SAFE) berkomitmen untuk membangun mekanisme yang lebih terbuka, aman, dan cerdas.
Hal ini dilakukan seiring dengan peningkatan cadangan devisa China yang mencapai 3,3579 triliun dolar AS pada akhir Desember 2025, berkat kenaikan nilai aset dan konversi nilai tukar yang menguntungkan.
Transformasi ini juga mencakup upaya untuk mendorong internasionalisasi yuan secara lebih terkoordinasi. Fokus ke depan tidak hanya soal pelestarian nilai aset, tetapi juga memfasilitasi kerja sama lintas batas yang lebih berkualitas.
Dengan penguatan pada akun modal dan reformasi investasi langsung, China berambisi menciptakan ekosistem keuangan yang lebih mandiri dan memiliki daya tawar tinggi di kancah internasional tanpa harus terikat erat pada fluktuasi kebijakan moneter Amerika Serikat.
Statement:
Xi Junyang, profesor di Shanghai University of Finance and Economics
“Penurunan kepemilikan US Treasuries oleh China merupakan hasil dari peningkatan optimalisasi dan diversifikasi kepemilikan aset luar negeri yang terlihat dalam beberapa tahun terakhir, yang membantu memperkuat keamanan dan stabilitas keseluruhan portofolio.”
3 Poin Penting:
-
Pelepasan Obligasi AS: Kepemilikan China atas US Treasuries turun drastis ke level terendah sejak 2008 untuk mengurangi ketergantungan pada aset dolar.
-
Akumulasi Cadangan Emas: Bank sentral China (PBOC) telah meningkatkan cadangan emas selama 14 bulan berturut-turut guna meningkatkan stabilitas dan menghadapi risiko eksternal.
-
Modernisasi Devisa: China meluncurkan rencana jangka panjang (2026-2030) untuk mengelola devisa secara lebih cerdas dan mendorong internasionalisasi mata uang yuan.

![jemaah haji dan umroh [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/Haji-dan-umroh-adalah-panggilan-Allah-swt-300x225.jpg)
![AS-Iran gencatan senjata [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/perang-di-timur-tengah-mencapai-titik-kritis-setel-hjvy-300x202.webp)
