Laporan terbaru yang diterbitkan di Jurnal Nature menunjukkan temuan mengejutkan: emisi dari perusahaan energi fosil global telah memicu 213 gelombang panas ekstrem di seluruh dunia antara tahun 2000 hingga 2023.
Tiga perusahaan asal Indonesia, yaitu Adaro Energy, Bumi Resources, dan Pertamina, masuk dalam daftar 180 “carbon majors” atau perusahaan penghasil emisi karbon terbesar di dunia.
Studi ini secara proporsional mengaitkan frekuensi dan intensitas gelombang panas dengan emisi karbon yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan besar di sektor minyak, gas, batu bara, dan semen.
Temuan ini menegaskan peran signifikan korporasi dalam krisis iklim yang semakin memburuk.
Kontribusi Perusahaan Indonesia Terhadap Gelombang Panas
Di Indonesia, emisi dari Adaro Energy, Bumi Resources, dan Pertamina terbukti cukup besar.
Gabungan emisi dari ketiga perusahaan ini berkontribusi terhadap 50 dari 213 gelombang panas ekstrem yang terjadi dalam dua dekade terakhir.
Artinya, jika hanya emisi dari ketiga perusahaan ini yang ada, 50 gelombang panas tersebut tetap akan terjadi.
Secara global, emisi dari 14 perusahaan besar bahkan setara dengan gabungan emisi dari 166 perusahaan lainnya.
Dua di antaranya adalah ExxonMobil dan Saudi Aramco, produsen minyak terbesar di dunia, yang bersama-sama bertanggung jawab atas sekitar 30% total emisi CO₂ sejak tahun 1850.
Risiko Hukum dan Kerugian Kemanusiaan
Penemuan ini juga membuka potensi konsekuensi hukum.
Menurut Richard Heede, Direktur Climate Accountability Institute dan salah satu penulis studi, perusahaan-perusahaan ini kemungkinan akan diminta untuk memberikan kompensasi kepada komunitas dan individu yang dirugikan oleh gelombang panas yang diperparah secara signifikan oleh bahan bakar fosil mereka.
Studi ini juga mencatat bahwa gelombang panas menjadi 20 kali lebih mungkin terjadi pada tahun 2000-2009 dibandingkan era pra-industri, dan meningkat menjadi 200 kali lebih mungkin pada 2010–2019.
Bahkan, hampir 500.000 orang meninggal dunia akibat gelombang panas pada 2000-2019, banyak di antaranya dapat secara langsung dikaitkan dengan perubahan iklim.
Statement:
Cassidy DiPaola, juru bicara kampanye Make Polluters Pay
“Kini kita dapat menunjuk pada gelombang panas tertentu dan berkata Saudi Aramco melakukan ini, ExxonMobil melakukan ini, Shell melakukan ini.”
“…ketika emisi dari perusahaan-perusahaan ini saja sudah cukup memicu gelombang panas yang seharusnya tidak terjadi, maka kita bicara tentang manusia nyata yang meninggal, tanaman pangan yang gagal, dan komunitas yang menderita. Ini semua akibat keputusan di ruang rapat korporasi.”



