Skena pasar keuangan di kawasan negara berkembang (emerging markets) Asia mendadak kehilangan bensin pada sesi perdagangan awal pekan ini.
Reli saham yang sempat bergerak gahar terpaksa gigit jari dan berbalik arah ke zona merah akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang kembali memanas.
Langkah militer Amerika Serikat yang melancarkan serangan udara terbaru ke wilayah Iran sukses membuyarkan optimisme para pelaku pasar modal jaman sekarang yang awalnya berharap banyak pada kesepakatan damai dalam waktu dekat.
Melansir data dari Reuters, koreksi massal ini dipicu oleh aksi ambil untung (profit taking) yang dilakukan para investor raksasa di tengah tingginya ketidakpastian geopolitik global.
Padahal, sentimen positif sempat mengudara lantaran menteri luar negeri kedua belah pihak sedang melakoni pembicaraan diplomatik intensif di Doha.
Namun, pernyataan dari Washington yang menyebut proses negosiasi masih butuh waktu lama langsung menjadi hantaman keras yang memicu kekhawatiran baru mengenai lonjakan harga minyak dunia serta risiko inflasi global.
Efek Domino Serangan Udara Hingga Ancaman Suku Bunga Tinggi yang Mencekik
Dampak dari runtuhnya optimisme perdamaian ini langsung merembet ke lantai bursa saham negara-negara ASEAN yang kompak mengalami penurunan indeks sekitar 0,4%.
Bursa Singapura yang memegang bobot kasta tertinggi di Asia Tenggara terpantau merosot hingga 0,6 persen, diikuti koreksi tajam di Filipina, Malaysia, dan Indonesia yang tergerus antara 0,5% hingga 1%.
Fenomena ini mencerminkan sikap para pengelola dana yang mulai ekstra hati-hati dalam memilah aset investasi mereka.
Para pengamat investasi global menyebutkan bahwa gangguan berkepanjangan pada jalur pasokan minyak mentah berpotensi besar menghambat tren penurunan laju inflasi dunia.
Jika harga energi terus meroket, bank sentral di berbagai belahan dunia kemungkinan besar bakal terpaksa mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang jauh lebih lama.
Skenario terburuknya, beberapa bank sentral bahkan berpeluang menaikkan suku bunga tambahan demi meredam gejolak ekonomi domestik mereka.
Negara Importir Energi Boncos Parah dan Rekor Terendah Mata Uang Garuda
Gelombang panas ekonomi ini menjadi pukulan telak, khususnya bagi negara-negara Asia yang sangat bergantung pada impor energi luar negeri untuk memenuhi kebutuhan harian.
Lonjakan harga komoditas minyak dalam dua bulan terakhir otomatis menekan neraca transaksi berjalan serta memicu arus modal keluar (capital outflow) secara masif.
Kondisi pelik inilah yang menjadi dalang utama di balik rapuhnya nilai tukar mata uang kawasan, hingga memaksa otoritas moneter melakukan langkah stabilisasi yang agresif.
Nasib kurang beruntung harus dialami oleh mata uang garuda, di mana rupiah Indonesia keok dan menyentuh rekor terendah baru sepanjang sejarah di level Rp17.790 per dolar AS.
Sentimen negatif dari arus keluar modal asing dikombinasikan dengan isu tata kelola serta regulasi pengendalian ekspor membuat performa rupiah kian volatil.
Efek domino ini juga langsung menyeret kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terperosok lebih dari 1 persen pada penutupan pasar perdagangan.
Ledakan Industri Chip Korsel dan Berkah AI Sukses Selamatkan Bursa Taiwan
Meskipun mayoritas bursa saham Asia Tenggara sedang megap-megap, pemandangan berbanding terbalik justru terjadi di kawasan Asia Timur berkat berkah industri teknologi.
Indeks KOSPI Korea Selatan malah sukses mencetak rekor tertinggi baru yang dipimpin oleh performa gila-gilaan saham sektor produsen komponen semikonduktor.
Saham raksasa teknologi Samsung Electronics melesat tajam 3,3%, sementara kompetitornya SK Hynix terbang tinggi hingga 7,5% ke level tertinggi sepanjang masa.
Tidak mau kalah gahar, demam kecerdasan buatan (artificial intelligence) juga terus menjadi motor penggerak utama bagi meroketnya pasar saham Taiwan.
Berkat tren booming AI yang tak terbendung ini, bursa saham Taiwan kini sah dinobatkan sebagai pasar ekuitas terbesar keenam di seluruh dunia.
Daya tarik teknologi masa depan ini bahkan sukses menyedot aliran dana asing masuk (capital inflow) dalam jumlah yang fantastis, yakni menyentuh angka sekitar USD25 miliar sepanjang tahun berjalan.
Statement:
Fakhrul Fulvian, Chief Economist Trimegah Securities dan Ecaterina Bigos, Chief Investment Officer Asia ex-Japan BNP Paribas Asset Management
“Investor mulai membedakan antara sentimen positif sementara akibat harapan perdamaian dengan kerentanan fundamental ekonomi kawasan. Gangguan berkepanjangan terhadap pasokan minyak berpotensi menghambat penurunan inflasi. Kondisi tersebut dapat memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan.”
3 Poin Penting:
-
Reli saham emerging markets Asia berbalik melemah akibat serangan terbaru Amerika Serikat ke Iran yang merusak prospek damai dan memicu kekhawatiran inflasi global.
-
Krisis geopolitik ini memicu lonjakan harga minyak yang menekan mata uang kawasan, termasuk rupiah Indonesia yang ambruk ke rekor terendah baru di level Rp17.790 per dolar AS.
-
Bursa Taiwan dan Korea Selatan justru tampil perkasa mencetak rekor berkat lonjakan permintaan global pada saham sektor teknologi chip semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI).


![China telah sukses meluncurkan misi berawak Shenzhou-23 [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/2fb6da80-52e8-4feb-bdd8-c2887d4d9ead_jpg-300x200.jpg)
![UU iran buat trump [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/QI77TczzemyTCAGTWbo7zV87ZFRLZ9iWuzhf5XqN3cBWTKvDB9Cv3jThiq0Z4XfjjxNnXVscaSL-300x169.webp)