Search

Upaya Menyelamatkan Harimau Sumatra Melalui Kearifan Lokal

Kamis, 14 Agustus 2025

Harimau Sumatra (Fauna & Flora / KSNP)

Peringatan Global Tiger Day pada 29 Juli lalu kembali mengingatkan kita akan status kritis Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae).

Spesies ini, yang merupakan satu-satunya subspesies harimau yang tersisa di Indonesia, kini sangat terancam punah.

Oleh karena itu, pendekatan konservasi yang lebih efektif dan diterima masyarakat sangat dibutuhkan, salah satunya adalah dengan memanfaatkan kearifan lokal yang telah berkembang di tengah masyarakat adat.

Harimau Sumatra dalam Status Kritis

Menurut Daftar Merah IUCN, Harimau Sumatra berstatus kritis (Critically Endangered). Kondisi ini disebabkan oleh menyusutnya luas dan kualitas habitat mereka.

Setelah punahnya harimau Bali dan harimau Jawa, masa depan harimau di Indonesia sepenuhnya berada di tangan harimau Sumatra.

Upaya konservasi yang efektif menjadi sangat krusial untuk mencegah kepunahan total.

Peran Penting Kearifan Lokal

Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna, menekankan pentingnya pendekatan konservasi yang dapat diterima masyarakat, termasuk melalui cerita dan kepercayaan lokal.

Kearifan lokal ini dinilai berperan penting dalam membentuk perilaku pelestarian hutan dan satwa. Di banyak komunitas adat, harimau tidak hanya dianggap sebagai satwa liar, melainkan juga sebagai simbol spiritual, leluhur, atau pelindung.

Harimau sebagai Penjaga dan Leluhur di Aceh

Di Aceh, harimau Sumatra dikenal dengan sebutan “Rimueng”. Hal ini tercatat dalam buku Atjeh karya Henri Carel Zentgraaff, yang menyebutkan adanya harimau hitam dan putih sebagai penjaga makam keramat.

Kepercayaan ini membentuk tradisi di mana Rimueng sering datang ke makam menjelang Magrib, menunjukkan hubungan spiritual yang kuat antara masyarakat dan harimau.

Harimau sebagai “Ompung” di Sumatra Utara

Sementara itu, masyarakat di Sumatra Utara memanggil harimau dengan sebutan “Ompung”, yang berarti kakek.

Legenda seperti ‘Babiat Sitelpang’—harimau pincang yang menjaga seorang ibu dan anaknya—menjadi landasan bagi masyarakat untuk “meminta izin” saat memasuki hutan.

Kepercayaan ini juga mengajarkan bahwa kemunculan harimau di pemukiman adalah pertanda adanya pelanggaran aturan adat.

Konservasi Berbasis Budaya sebagai Solusi

Dolly Priatna menyatakan bahwa cerita dan kepercayaan lokal tersebut membuktikan bahwa harimau adalah bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat.

Penguatan pendekatan konservasi berbasis budaya dapat menjadi landasan kuat untuk melindungi harimau.

Menurutnya, masa depan harimau tidak hanya bergantung pada penegakan hukum dan pengelolaan habitat, tetapi juga pada pemahaman dan penghargaan terhadap nilai-nilai lokal yang telah hidup berdampingan dengan harimau.

Masa Depan yang Bergantung pada Nilai Lokal

Dengan memanfaatkan kearifan lokal, upaya konservasi harimau Sumatra dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

Tradisi dan keyakinan yang menghormati harimau sebagai simbol spiritual dapat menjadi fondasi untuk membangun kesadaran kolektif dalam menjaga hutan dan habitat mereka.

Ini adalah langkah penting untuk memastikan kelangsungan hidup harimau Sumatra di masa depan.

Statement:

Dolly Priatna (Direktur Eksekutif Belantara Foundation)

“Harimau sumatra adalah satu-satunya subspesies harimau yang tersisa di Indonesia, setelah harimau bali dan harimau jawa dinyatakan punah. Masa depan harimau sumatra sangat bergantung pada luas dan kualitas habitatnya yang terus menyusut.”

“Cerita-cerita dan keyakinan lokal ini berperan penting dalam membentuk perilaku pelestarian hutan dan satwa.”

“Masa depan harimau sumatra tidak hanya bergantung pada penegakan hukum dan pengelolaan habitat. Namun, juga pada pemahaman dan penghargaan terhadap nilai-nilai lokal yang telah lama hidup berdampingan dengan harimau.”

Iding Achmad Haidir (Ketua Forum HarimauKita)

“Kearifan lokal dan cerita masyarakat mengenai harimau Sumatra adalah hal yang tidak terpisahkan.”

Kholis Siregar (Pemerhati Lingkungan dari Sipirok)

“Kalau ada harimau terlihat dekat kampung, itu tandanya kami harus mawas diri, mungkin ada aturan adat yang dilanggar.”

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan