Siapa yang tidak kenal Bali? Tapi kalau kalian cuma tahu pantainya saja, berarti kalian wajib banget melirik Desa Wisata Jatiluwih.
Terletak di dataran tinggi sekitar 685 mdpl, tepat di kaki Gunung Batukaru, Tabanan, desa ini menawarkan panorama sawah terasering yang luasnya bikin mata sejuk seketika.
Udaranya yang dingin dan asri dijamin bakal membuat pengalaman healing kalian naik level ke standar internasional.
Bukan sekadar sawah biasa, Jatiluwih punya keistimewaan berupa hamparan sawah berundak yang tertata rapi mengikuti lekuk perbukitan.
Pemandangan fotogenik ini ternyata menyimpan nilai budaya yang sangat dalam, lho. Lanskap budayanya sudah diakui secara resmi oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia karena sistem pengairannya yang unik dan filosofis, menjadikan tempat ini sebagai destinasi wajib buat pencinta alam.
Rahasia Sistem Subak dan Filosofi Tri Hita Karana
Kehebatan Jatiluwih terletak pada sistem pengairan tradisionalnya yang bernama Subak. Tradisi bertani masyarakat Bali ini bukan kaleng-kaleng, karena dipercaya sudah eksis sejak tahun 1071 Masehi.
Nama “Subak” sendiri ditemukan tercatat dalam prasasti Klungkung dari tahun 1072 Masehi. Lahirnya sistem ini berawal dari kegigihan petani lokal zaman dulu untuk mengalirkan air di medan perbukitan yang cukup menantang.
Menariknya, Subak bukan cuma soal irigasi, tapi merupakan implementasi nyata dari filosofi Tri Hita Karana. Filosofi ini menekankan keharmonisan hubungan antara manusia dengan sesama, manusia dengan alam, serta manusia dengan Tuhan.
Itulah alasan mengapa sawah-sawah di sini tetap lestari meski zaman sudah modern; karena warga Jatiluwih sangat menghormati keseimbangan ekosistem dan nilai spiritual di tanah mereka.
Jadi Desa Wisata Terbaik Dunia Versi UNWTO 2024
Prestasi Desa Wisata Jatiluwih semakin mentereng setelah dinobatkan sebagai salah satu “Best Tourism Village 2024” oleh UNWTO. Penghargaan bergengsi ini diumumkan pada 14 November 2024 di Cartagena de Indias, Kolombia.
Jatiluwih terpilih karena dianggap sukses menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga keberlanjutan lingkungan, inovasi pariwisata, hingga pemberdayaan masyarakat lokal yang sangat keren.
Penghargaan internasional ini membuktikan kalau Jatiluwih bukan cuma modal pemandangan cantik saja, tapi juga manajemen pariwisata yang jempolan.
Bersama Desa Wisata Wukirsari, Jatiluwih kini berdiri sejajar dengan destinasi pedesaan terbaik lainnya di seluruh dunia.
Hal ini tentu saja membuat nama Indonesia makin harum di peta pariwisata global dan menarik minat turis mancanegara untuk datang langsung.
Rumah Bagi Flora Fauna Endemik dan Hutan Lindung
Selain sawahnya yang ikonik, Jatiluwih juga merupakan rumah bagi keanekaragaman hayati Bali yang luar biasa.
Kawasan ini dikelilingi oleh hutan lindung seluas sekitar 24 hektare yang membuat udaranya tetap segar dan lingkungan terjaga keasriannya.
Vegetasi yang rimbun di sekitar desa menjadi habitat yang nyaman bagi berbagai flora dan fauna endemik yang mungkin jarang kalian temui di tempat lain.
Salah satu penghuni unik yang sering menampakkan diri di sini adalah kukang jawa. Hewan menggemaskan ini menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan yang hobi melakukan eksplorasi alam atau pengamatan satwa liar.
Dengan perpaduan antara warisan budaya UNESCO, penghargaan desa terbaik dunia, dan kekayaan alam yang melimpah, Jatiluwih benar-benar potret nyata surga dunia yang ada di Pulau Dewata.
Statement:
Perwakilan Kementerian Pariwisata
“Sistem Subak mencerminkan filosofi hidup masyarakat Hindu Bali yang dikenal sebagai Tri Hita Karana, yaitu hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan. Pengakuan UNESCO dan penghargaan Best Tourism Village 2024 dari UNWTO merupakan bentuk apresiasi dunia terhadap komitmen Jatiluwih dalam pelestarian budaya dan keberlanjutan lingkungan yang tetap terjaga selama berabad-abad.”
3 Poin Penting:
-
Warisan Dunia UNESCO: Desa Jatiluwih diakui dunia sejak 2012 berkat sistem irigasi tradisional Subak yang mencerminkan filosofi Tri Hita Karana.
-
Prestasi Internasional: Jatiluwih berhasil meraih predikat Best Tourism Village 2024 dari UNWTO berkat keberhasilan dalam keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat.
-
Kekayaan Alam: Selain terasering fotogenik, wilayah ini merupakan habitat fauna endemik seperti kukang jawa dan dikelilingi hutan lindung yang asri.



