Anak muda zaman sekarang mana tahu serunya gotong royong menjaga kelestarian alam sambil melestarikan warisan budaya? Kebersamaan super seru ini baru saja dipamerkan oleh puluhan warga Desa Clapar, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo.
Pada hari Minggu Kliwon di bulan Suro yang bertepatan dengan tanggal 12 Juli 2026, mereka kompak menggelar tradisi Tawu Beji atau pengurasan sumber mata air purba di kawasan Beji Indah Lestari.
Langkah konkret ini menjadi bukti nyata bahwa kearifan lokal bisa menjadi penopang kelestarian lingkungan yang tidak lekang oleh waktu.
Keseruan acara ini dimulai sejak pagi hari dengan diadakannya kirab budaya yang sangat estetik. Warga mengarak berbagai jenis sesaji dan ubarampe (perlengkapan ritual) yang ditata rapi di dalam wadah tradisional bernama tenong.
Rombongan kirab berjalan kaki penuh khidmat dari kediaman salah satu warga menuju lokasi utama mata air.
Sesampainya di lokasi, sesepuh desa langsung mengambil alih untuk memimpin doa bersama sebagai wujud rasa syukur atas limpahan air bersih yang selama ratusan tahun menghidupi mereka.
Serunya Rebutan Ikan di Dasar Mata Air yang Dikuras
Begitu ritual doa kelar, momen yang paling ditunggu-tunggu pun tiba, yaitu aksi gotong royong menguras dan membersihkan area Beji Indah Lestari.
Tiga unit mesin pompa diesel langsung dikerahkan untuk menyedot air hingga surut agar endapan lumpur dan sampah daun bisa dibersihkan secara total.
Suasana mendadak riuh dan pecah saat air mulai surut karena ratusan ikan yang hidup di dalam beji mulai kelihatan. Anak-anak hingga remaja langsung heboh terjun membawa ember untuk berburu ikan sambil tertawa lepas.
Kelar bersenang-senang menangkap ikan, warga langsung melanjutkan agenda dengan acara kenduri dan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat.
Hidangan tradisional yang dibawa menggunakan tenong tadi kemudian dibuka dan dinikmati bersama-sama di bawah rindangnya pepohonan.
Momen makan bersama ini terasa makin hangat dan intim berkat iringan musik organ tunggal yang menemani waktu istirahat warga, menciptakan atmosfer kekeluargaan yang sangat kental.
Mengenal Filosofi Beji Indah Lestari yang Antikering
Pemilik lahan sekaligus sosok penggerak di balik restorasi kawasan ini, Eko Gunarto, mengungkapkan bahwa tradisi Tawu Beji ini sebenarnya bukan ritual tahunan biasa.
Agenda pengurasan ini baru akan dieksekusi setiap tiga hingga lima tahun sekali, tergantung pada tingkat kekotoran dan penurunan kualitas air di dalam beji.
Setelah terakhir kali dikuras pada Juli 2023, para sesepuh desa akhirnya sepakat memilih hari Minggu Kliwon di bulan Suro tahun 2026 ini sebagai momen yang paling pas untuk menyucikan kembali sumber kehidupan mereka.
Usia sumber mata air ini diperkirakan sudah mencapai ratusan tahun dan menyimpan cerita legendaris yang turun-temurun.
Konon, dahulu kawasan ini adalah rawa berlumpur penuh pohon pandan tanpa duri sebelum akhirnya ditata oleh seorang tokoh spiritual masa lalu.
Keunikan utama dari Beji Indah Lestari ini adalah debit airnya yang melimpah ruah dan ajaibnya tidak pernah kering sama sekali walaupun didera musim kemarau yang sangat panjang.
Jika siang hari airnya surut karena dipakai ratusan warga untuk mandi dan mencuci, pada malam hari volumenya akan otomatis penuh kembali.
Transformasi Fasilitas Modern dan Harapan Destinasi Wisata Edukasi
Menariknya, kawasan konservasi budaya ini sekarang sudah bertransformasi menjadi ruang publik yang sangat nyaman dan ramah pengunjung.
Beji Indah Lestari kini telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung modern seperti ruang mandi tertutup yang dipisah antara laki-laki dan perempuan, musala mini, hingga toilet umum. Area di sekitar mata air juga dipercantik dengan lanskap taman bunga hias yang asri.
Kepala Desa Clapar, Arif Suryahadi, sangat mengapresiasi swadaya warga ini dan berharap ke depannya kawasan ini bisa dioptimalkan menjadi ikon destinasi wisata edukasi, budaya, dan religi.
Sejarah panjang mata air ini juga dikuatkan oleh sesepuh desa, Niti Purwito, yang menceritakan keterkaitan beji dengan tokoh legendaris Kyai Joyo Uluk-Uluk dan Kyai Tomijoyo.
Beliau menegaskan bahwa ubarampe seperti tumpeng dan jenang merah putih di dalam tenong bukanlah bentuk pemujaan mistis, melainkan simbol doa keselamatan bagi warga.
Di tengah tantangan perubahan iklim global yang semakin nyata, kearifan lokal seperti Tawu Beji terbukti ampuh menjadi pengingat bagi generasi muda untuk selalu bijak menggunakan air bersih demi kelangsungan hidup di masa depan.
Statement:
Eko Gunarto, Pemilik Lahan dan Inisiator Kawasan Beji Indah Lestari
“Kegiatan ini sebenarnya adalah kuras beji atau membersihkan dan mensucikan beji. Pelaksanaannya tidak tentu, bisa tiga tahun, empat tahun, bahkan lima tahun sekali, tergantung kondisi beji. Jika dirasa sudah banyak kotoran yang masuk dan kualitas kebersihannya menurun, maka dilakukan tawu beji pada bulan Suro.”
“Beji ini tidak pernah kering meskipun musim kemarau panjang. Warga menggunakan air ini untuk mandi, mencuci, bahkan air minum, tetapi airnya tidak pernah habis. Gunakan air sesuai kebutuhan, jangan berlebihan. Air adalah amanah yang harus dijaga bersama agar tetap tersedia untuk generasi berikutnya.”
3 Poin Penting:
-
Pelaksanaan Tradisi Tradisional: Warga Desa Clapar, Purworejo sukses menggelar tradisi Tawu Beji pada 12 Juli 2026 sebagai simbol pembersihan berkala dan rasa syukur atas sumber mata air purba.
-
Kearifan Lokal Antikering: Sumber air Beji Indah Lestari memiliki keunikan karena debit airnya melimpah dan tidak pernah kering meski di tengah musim kemarau panjang sekalipun.
-
Potensi Destinasi Wisata Desa: Kawasan ini telah direstorasi dengan fasilitas modern seperti musala dan taman bunga, dengan target jangka panjang dikembangkan menjadi ikon wisata edukasi, religi, dan budaya.



