Search
Search
Search

1.120 Hektare Hutan dan Lahan Bromo Hangus! Tim Gakkum Buru Pelaku Penyebab Karhutla

Rabu, 23 September 2026

Kondisi Bromo pasca kebakaran (Antara Foto)

Kawasan wisata ikonik Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) di Jawa Timur kembali dihantam bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang cukup parah.

Sejak Agustus hingga September 2026, si jago merah tercatat telah melahap lebih dari 1.120 hektare area vegetasi di kawasan konservasi tersebut.

Luasan area yang terdampak bahkan diprediksi masih bisa terus bertambah seiring belum sepenuhnya pulihnya kondisi lingkungan pascabencana.

Peristiwa pilu ini langsung menyita perhatian publik nasional karena dampaknya yang merusak keindahan alam Bromo serta mengganggu aktivitas ekosistem lokal.

Mengingat insiden karhutla di TNBTS hampir selalu berulang setiap musim kemarau tiba, langkah penegakan hukum secara tegas kini mulai diambil oleh pihak berwenang.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berkomitmen mengusut tuntas penyebab utama di balik terbakarnya hamparan sabana tersebut.

Investigasi Gakkum Kehutanan dan Kendala di Lapangan

Direktorat Jenderal Penegakan Hukum (Gakkum) Kehutanan telah menerjunkan tim khusus ke lokasi untuk mendalami dugaan unsur pidana dalam tragedi karhutla ini.

Kepala Balai Gakkum Jabalnusra, Aswin Bangun, mengonfirmasi bahwa serangkaian penyelidikan intensif telah berlangsung selama tiga pekan terakhir.

Namun, ia tak menampik bahwa timnya menghadapi tantangan yang sangat berat di lapangan untuk mengidentifikasi terduga pelaku.

Faktor luasnya medan serta banyaknya pintu masuk liar menuju kawasan TNBTS menjadi kendala utama bagi petugas untuk melakukan pengawasan secara maksimal.

Kobaran api sendiri diketahui dengan cepat menyebar ke berbagai titik krusial, mulai dari Bukit Teletubbies, Blok Pengol, Kawasan 360, Pos Jemplang, hingga Lembah Wetangan.

Kondisi darurat tersebut sempat memaksa pengelola menutup total seluruh akses wisata demi keselamatan pengunjung.

Keterlibatan Pakar dan Indikasi Kuat Faktor Manusia

Untuk membongkar tabir penyebab kebakaran secara ilmiah dan akurat, Gakkum Kehutanan menggandeng dua pakar senior, yakni Bambang Hero Saharjo di bidang kebakaran hutan dan Basuki Wasis di bidang kerusakan tanah.

Langkah ini diambil guna memastikan analisis kerusakan lingkungan memiliki landasan hukum yang kuat.

Berdasarkan indikasi awal dan pola kebakaran di kawasan sejenis seperti Gunung Arjuno serta Pegunungan Ijen, faktor aktivitas manusia diduga kuat menjadi pemicu utama.

Meski demikian, pihak penyidik menegaskan masih mengumpulkan bukti-bukti material dan petunjuk pendukung sebelum menetapkan tersangka resmi.

Cuaca ekstrem saat musim kemarau memang membuat vegetasi di sabana Bromo menjadi sangat mengering dan rentan terbakar hanya karena percikan api kecil.

Namun, tindakan kelalaian atau kesengajaan oknum tak bertanggung jawab tetap menjadi fokus utama pencarian tim penyidik di lapangan.

Pemulihan Kawasan Wisata dan Ancaman Kerusakan Ekologis

Dampak dari karhutla ini tidak main-main karena mengancam tutupan vegetasi langka, merusak keanekaragaman hayati, serta mengganggu fungsi ekologis TNBTS sebagai kawasan resapan air.

Selain kerugian lingkungan yang masif, penghentian sementara aktivitas wisata sempat menimbulkan gejolak sosial serta keluhan dari warga lokal yang menggantungkan mata pencaharian mereka pada sektor pariwisata Bromo.

Kini, setelah kobaran api berhasil dipadamkan oleh tim gabungan, akses wisata Bromo perlahan mulai dibuka kembali secara bertahap sejak pertengahan September 2026.

Pemerintah dan pengelola mendesak seluruh wisatawan, pelaku jasa wisata, serta masyarakat lokal untuk saling menjaga kewaspadaan ekstra.

Kesadaran bersama menjadi kunci utama agar tragedi kebakaran hebat ini tidak terus terulang dan merusak pesona alam Bromo di masa depan.

Statement:

Aswin Bangun, Kepala Balai Gakkum Jabalnusra

“Areanya sangat luas, pintu masuknya banyak sekali, itu yang pertama (faktor kendala)… Jadi untuk melakukan pengawasan kami melakukan tangkap tangan, kami hanya menemukan beberapa petunjuk saja. Tapi pelaku belum kami temukan, tim masih di sana untuk menggali informasi. Prinsipnya sama, berdasarkan keterangan ahli, faktor manusia besar pengaruhnya di situ.”

3 Poin Penting:

  • Luas Area Terbakar: Karhutla di kawasan TNBTS sepanjang Agustus hingga September 2026 melahap lebih dari 1.120 hektare lahan di titik-titik populer seperti Bukit Teletubbies, Pos Jemplang, dan Lembah Wetangan.

  • Penyelidikan Pidana & Kendala: Tim Gakkum Kehutanan melibatkan pakar untuk mengusut dugaan keterlibatan manusia, meski terhambat oleh luasnya area dan banyaknya jalur masuk kawasan.

  • Dampak Lingkungan dan Wisata: Selain merusak ekosistem dan vegetasi alami, bencana kebakaran sempat menutup total akses wisata Bromo sebelum akhirnya dibuka kembali secara bertahap.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

Rame 24 Jam

Rame Sepekan