Mahkamah Konstitusi (MK) baru saja menjadi saksi sejarah yang luar biasa inspiratif bagi anak muda Indonesia. Hakim Konstitusi kawakan, Prof. Dr. Arief Hidayat, S.H., M.S., memberikan kejutan besar tepat sehari sebelum hari ulang tahunnya yang ke-70 dengan meluncurkan tujuh buku sekaligus.
Acara yang bertajuk “Memoar 70 Tahun Arief Hidayat dan Warisan Pemikiran Seorang Guru” ini menjadi bukti nyata bahwa usia hanyalah angka jika semangat untuk terus berkarya dan menelurkan gagasan intelektual tetap membara.
Peluncuran buku yang digelar di Aula Gedung 1 MK, Jakarta, pada Senin (2/2/2026) ini bukan sekadar seremoni biasa, melainkan sebuah kado perpisahan yang manis menjelang masa purnatugasnya pada 3 Februari 2026.
Ketujuh buku tersebut merangkum perjalanan hidup, diplomasi internasional ala Bung Karno, hingga refleksi mendalam soal hukum progresif dan Pancasila.
Karya-karya ini menjadi “legacy” penting bagi generasi muda yang ingin memahami bagaimana menjaga konstitusi dengan nurani dan integritas yang tinggi.
Kiprah Diplomasi Global dan Penegak Pilar Konstitusi
Menilik ke belakang, perjalanan karier Arief Hidayat di MK sangatlah mentereng dan penuh dedikasi. Sejak mengucapkan sumpah jabatan di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2013, pria kelahiran Semarang ini langsung menjadi pilar penting bagi sembilan ‘penjaga’ konstitusi.
Beliau pernah dipercaya mengemban amanah sebagai Wakil Ketua MK hingga menjabat sebagai Ketua MK selama dua periode, sebuah pencapaian yang menunjukkan betapa kuatnya kepercayaan publik dan kolega terhadap kapasitas kepemimpinannya.
Tak hanya jago di dalam negeri, kiprah Arief Hidayat di kancah internasional juga patut diacungi jempol. Melalui bukunya yang mengupas tentang diplomasi global, terungkap bagaimana beliau membawa nama harum Indonesia dalam pergaulan Mahkamah Konstitusi di Asia maupun dunia.
Gaya diplomasinya yang tegas namun elegan dianggap mampu memperkuat posisi tawar MK Indonesia dalam membangun jaringan hukum lintas negara yang solid dan berwibawa.
Inspirasi Menulis dan Penguatan Kelembagaan Mahkamah Konstitusi
Ketua MK saat ini, Suhartoyo, memberikan apresiasi setinggi langit atas konsistensi Arief Hidayat dalam berkarya melalui tulisan. Baginya, Prof. Arief adalah sosok figur yang selalu memberikan penguatan terhadap kelembagaan MK, baik secara langsung maupun melalui diskusi-diskusi mendalam.
Kehadiran tujuh buku ini dianggap sebagai pemantik api semangat bagi hakim-hakim lain dan seluruh pegawai di lingkungan MK untuk terus meramu gagasan demi kemajuan hukum nasional.
Acara peluncuran ini juga semakin “daging” dengan adanya sesi bedah buku yang menghadirkan tokoh-tokoh besar seperti Guru Besar UGM Sudjito dan pemikir kebhinekaan Sukidi.
Diskusi tersebut mengupas tuntas gagasan Arief mengenai “Negara Berketuhanan”, sebuah konsep yang mengingatkan kita semua bahwa arah pembangunan hukum Indonesia tidak boleh lepas dari karakter bangsa yang religius dan ber-Pancasila.
Hal ini menjadi refleksi penting di tengah karut-marutnya tantangan hukum modern saat ini.
Menjaga Nurani dalam Berhukum bagi Generasi Muda
Tujuh buku yang dirilis, salah satunya berjudul unik “Arief Hidayat Setengah Manusia”, mengajak kita untuk melihat sisi humanis di balik jubah toga seorang hakim.
Melalui memoar ini, pembaca diajak merawat konstitusi dengan tidak hanya mengandalkan logika hukum semata, tetapi juga melibatkan nurani.
Pesan ini sangat relevan bagi anak muda sekarang agar tidak terjebak dalam hukum yang bersifat prosedural saja, melainkan harus tetap mengejar substansi keadilan yang nyata.
Momentum purnatugas Prof. Arief Hidayat ini bukanlah akhir, melainkan awal dari babak baru melalui penyebaran ilmu pengetahuan lewat tulisan. Beliau sendiri menyatakan bahwa masih banyak yang ingin ditambahkan di masa depan jika situasi memungkinkan. Semangat belajar tanpa henti inilah yang patut dicontoh oleh kaum milenial dan Gen Z, bahwa kontribusi untuk bangsa bisa dilakukan melalui berbagai cara, salah satunya dengan abadi dalam karya tulis yang mencerahkan.
Statement:
Prof. Dr. Arief Hidayat, S.H., M.S., mantan Hakim Konstitusi RI
“Tentunya masih banyak yang kurang lengkap hingga pada masa-masa yang akan datang. Kalau situasinya sudah memungkinkan akan saya tambahkan di berbagai sebagai forum baik secara tertulis maupun tidak tertulis.”
3 Poin Penting:
-
Hakim Konstitusi Arief Hidayat meluncurkan tujuh buku sekaligus sebagai warisan pemikiran intelektual tepat di ambang masa purnatugasnya di usia 70 tahun.
-
Buku-buku tersebut merangkum perjalanan hidup, gagasan hukum progresif, diplomasi internasional, serta refleksi mendalam mengenai Negara Hukum berwatak Pancasila.
-
Ketua MK Suhartoyo dan para tokoh nasional mengapresiasi dedikasi Arief Hidayat dalam memperkuat kelembagaan MK dan memberikan inspirasi melalui konsistensi karya tulis.



