Search

Bank Indonesia Ikutan FOMO? Borong Emas Bareng Bank Sentral Dunia Sepanjang 2025

Minggu, 8 Februari 2026

Permintaan emas di World Gold Council (Java Global Futures)

Lagi-lagi emas jadi primadona di panggung ekonomi global! Data terbaru dari World Gold Council yang rilis awal Februari 2026 menunjukkan kalau bank sentral berbagai negara masih hobi banget “nyetok” logam mulia sampai penghujung tahun 2025.

Nggak mau ketinggalan tren, Bank Indonesia (BI) juga ikutan menunjukkan taringnya dengan melakukan aksi beli secara konsisten.

Fenomena net buying ini didominasi oleh negara-negara emerging market yang tampaknya ingin mencari zona aman di tengah fluktuasi ekonomi dunia.

Aksi borong emas ini bukan tanpa alasan, mengingat emas selalu dianggap sebagai safe haven paling terpercaya. Sepanjang Desember 2025 saja, beberapa negara mencatatkan penambahan cadangan yang cukup fantastis.

Sebut saja Azerbaijan melalui SOFAZ yang menambah 15,2 ton, disusul Uzbekistan dan Kazakhstan.

Polandia juga nggak kalah sat-set dengan menambah 6,9 ton, mempertegas strategi mereka untuk melakukan diversifikasi cadangan devisa agar tetap stabil dan tahan banting.

Gebrakan Bank Indonesia Setelah Puasa Panjang

Nah, yang menarik perhatian adalah langkah Bank Indonesia. Pada Desember lalu, BI menambah koleksi emasnya sebesar 0,6 ton. Meskipun angkanya terlihat kecil dibanding negara lain, ini menandakan BI sudah belanja emas selama tiga bulan berturut-turut dengan total 5,1 ton.

Secara keseluruhan di tahun 2025, BI sudah memborong 7 ton emas, lho! Ini adalah momen bersejarah karena menjadi kali pertama BI kembali melakukan akumulasi emas secara masif sejak tahun 2017.

Keputusan BI untuk kembali masuk ke pasar emas ini tentu menjadi sinyal positif bagi penguatan cadangan devisa nasional. Strategi ini menunjukkan kalau bank sentral kita mulai lebih berhati-hati dan strategis dalam menjaga nilai kekayaan negara.

Langkah “nyicil” emas ini tetap dilakukan meskipun harga emas di pasar global sempat mengalami reli kencang dan berkali-kali mencetak rekor harga tertinggi sepanjang sejarah.

Dominasi Global dan Ambisi Besar Negara Tetangga

Di level internasional, kompetisi menumpuk cadangan emas makin sengit. Bank Sentral Polandia menjadi juara bertahan sebagai pembeli terbesar sepanjang 2025 dengan total tambahan 102 ton. Gubernur mereka bahkan punya ambisi gila-gilaan buat menaikkan cadangan sampai 700 ton demi keamanan nasional.

Sementara itu, Kazakhstan dan Brasil juga terus mempertebal tabungan emas mereka, sedangkan China mulai sedikit mengerem laju pembeliannya di kuartal terakhir namun tetap memiliki total cadangan yang bikin geleng-geleng kepala.

Di balik tren beli ini, Singapura justru tampil beda sebagai satu-satunya net seller besar di bulan Desember dengan melepas 11,3 ton emasnya.

Meski banyak negara yang belanja, Amerika Serikat tetap nggak terkalahkan sebagai “Raja Emas” dunia dengan kepemilikan fantastis mencapai 8.133,5 ton.

Posisi ini disusul oleh Jerman dan lembaga IMF yang masih mendominasi arsitektur keuangan global lewat simpanan logam kuning mereka yang masif.

Strategi Jangka Panjang di Tengah Harga yang Makin Melejit

Menutup tahun 2025, total pembelian emas oleh bank sentral global mencapai angka 863 ton. Walaupun angka ini nggak tembus rekor 1.000 ton seperti tiga tahun sebelumnya, jumlah ini masih jauh di atas rata-rata tahunan dekade lalu.

Para ahli melihat bahwa bank sentral sekarang lebih prudent atau berhati-hati karena valuasi emas yang sudah terlampau tinggi. Mereka nggak mau asal beli di harga pucuk, tapi tetap berkomitmen untuk terus menambah cadangan dalam jangka panjang.

Emas tetap dianggap sebagai instrumen paling krusial untuk menjaga kedaulatan ekonomi sebuah negara. Penambahan cadangan emas oleh 22 institusi dunia sepanjang tahun lalu membuktikan kalau kepercayaan terhadap aset fisik ini masih sangat solid.

Bagi Indonesia, langkah BI yang kembali aktif di pasar emas adalah bagian dari skenario besar untuk memperkuat pertahanan ekonomi kita dari ketidakpastian geopolitik global yang masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Kutipan:

Laporan World Gold Council

“Meskipun laju pembelian sedikit moderat akibat reli harga emas yang mencetak rekor berulang kali, minat strategis jangka panjang terhadap emas tetap solid di kalangan bank sentral untuk alasan diversifikasi dan keamanan nasional.”

3 Poin Penting:

  1. Bank Indonesia (BI) kembali memborong emas sebanyak 7 ton sepanjang tahun 2025, yang merupakan aksi beli pertama sejak tahun 2017.

  2. Bank sentral global mencatatkan total pembelian emas sebesar 863 ton pada 2025, dipimpin oleh Polandia, Kazakhstan, dan Brasil.

  3. Amerika Serikat masih memegang posisi pertama sebagai pemilik cadangan emas terbesar di dunia dengan total lebih dari 8.133 ton.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan