Search

Terungkap! Penjelasan Sains di Balik Fenomena Nabi Musa Membelah Laut Merah

Rabu, 6 Mei 2026

Laut merah (REUTERS/Stringer)

Kisah epik Nabi Musa yang membelah Laut Merah saat dikejar pasukan Firaun memang selalu jadi topik yang menarik buat dibahas, baik dari sudut pandang iman maupun logika.

Baru-baru ini, sejumlah peneliti mencoba mengkaji kemungkinan penjelasan rasional di balik peristiwa yang ditaksir terjadi sekitar 3.500 tahun lalu itu.

Ternyata, para ilmuwan menyebut kalau fenomena ini bisa dijelaskan secara ilmiah melalui kombinasi cuaca ekstrem dan kondisi geologi yang sangat menguntungkan pada saat itu.

Melalui pemodelan komputer yang super canggih, para ahli mengungkapkan bahwa hembusan angin kencang dengan kecepatan sekitar 100 km/jam dari arah tertentu mampu “membelah” air.

Angin tersebut bisa membuka jalur selebar lima kilometer di area laut yang dangkal. Begitu angin tersebut mereda, air laut bakal kembali dengan sangat deras menyerupai terjangan tsunami, yang secara logis bisa menelan pasukan pengejar yang tengah berada di tengah jalur tersebut.

Rahaya Pasang Surut dan Lokasi Penyeberangan yang Masuk Akal

Riset arkeologi modern mulai menggeser fokus lokasi kejadian dari Teluk Aqaba ke Teluk Suez yang dianggap lebih masuk akal secara geografis.

Berbeda dengan Teluk Aqaba yang dalamnya minta ampun sampai 900 meter, Teluk Suez cenderung panjang, sempit, dan cuma punya kedalaman rata-rata 20-30 meter saja.

Dasar lautnya yang relatif datar membuat teori penyeberangan massal menjadi sesuatu yang mungkin terjadi secara fisik jika kondisi air sedang surut ekstrem.

Menariknya, peristiwa serupa pernah dialami oleh Napoleon Bonaparte pada tahun 1789 saat memimpin pasukan berkuda menyeberangi Teluk Suez ketika air sedang surut.

Namun, nasib Napoleon hampir mirip dengan pasukan Firaun; prajuritnya nyaris tersapu ketika air pasang setinggi 3 meter tiba-tiba kembali memenuhi jalur tersebut.

Hal ini membuktikan kalau perubahan permukaan air di wilayah tersebut memang sangat dinamis dan bisa sangat mematikan bagi mereka yang nggak paham pola alamnya.

Prediksi Astronomi Kuno dan Pengetahuan Medan yang Jenius

Dr. Bruce Parker, mantan kepala ilmuwan di National Oceanic and Atmospheric Administration, punya teori yang nggak kalah keren soal taktik pelarian ini.

Beliau menyebut kalau Musa kemungkinan besar menggunakan pengetahuannya tentang astronomi dan pasang surut air laut untuk menentukan waktu yang tepat.

Pengalaman Musa tinggal di padang gurun sekitar wilayah tersebut membuatnya paham kapan air akan surut berdasarkan posisi bulan dan fase purnamanya.

Di sisi lain, pasukan Firaun yang sehari-hari cuma terbiasa dengan karakteristik Sungai Nil yang tenang dan nggak punya siklus pasang surut, tentu nggak bakal curiga sama sekali.

Mereka terjebak dalam rasa percaya diri yang tinggi sampai akhirnya air pasang kembali dengan sangat cepat dan menenggelamkan segalanya.

Pengetahuan tentang langit malam dan metode kuno inilah yang diduga menjadi kunci utama kesuksesan bangsa Israel melarikan diri dari kepungan.

Dorongan Angin Kuat yang Membuka Jalur Punggungan Bawah Laut

Profesor Nathan Paldor, pakar oseanografi dari Hebrew University of Jerusalem, menambahkan bahwa hembusan angin kuat dari arah barat laut selama sekitar sehari penuh bisa mendorong air laut menjauh.

Perhitungannya menunjukkan bahwa angin berkecepatan 65-70 km/jam mampu menurunkan permukaan laut sekitar 3 meter. Kondisi ini secara otomatis bakal menyingkap punggungan bawah laut yang semula terendam, sehingga bisa dilewati dengan berjalan kaki.

Meskipun penjelasan sains ini terdengar sangat masuk akal dan logis, para peneliti seperti Carl Drews menegaskan bahwa sains dan iman nggak harus selalu berantem.

Baginya, ketepatan waktu antara fenomena alam yang ekstrem dengan kebutuhan bangsa Israel untuk menyeberang tetap bisa dipandang sebagai sebuah keajaiban yang luar biasa.

Ilmu pengetahuan di sini berfungsi untuk menelaah bagaimana alam bekerja dalam mendukung peristiwa-peristiwa besar yang tercatat dalam kitab suci.

Statement:

Dr. Bruce Parker

“Musa pernah tinggal di padang gurun sekitar wilayah itu, ia tahu lokasi kafilah menyeberang saat air surut. Ia juga paham langit malam serta metode kuno untuk memprediksi pasang surut, berdasarkan posisi bulan dan fase purnamanya.”

Carl Drews

“Bagi saya pribadi, iman dan sains dapat berjalan beriringan.”

3 Poin Penting:

  1. Peneliti menggunakan pemodelan komputer untuk membuktikan bahwa angin kencang berkecepatan 100 km/jam mampu membuka jalur di laut dangkal.

  2. Lokasi penyeberangan kemungkinan besar terjadi di Teluk Suez yang memiliki dasar datar dan kedalaman dangkal, bukan di Teluk Aqaba yang sangat dalam.

  3. Keberhasilan penyeberangan diduga kuat melibatkan pengetahuan tentang astronomi kuno dan siklus pasang surut air laut untuk memprediksi waktu surutnya perairan.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan