Di saat banyak anak muda berlomba mencari pekerjaan kantoran dengan gaji tetap dan rutinitas formal, Moh. Kholid justru mengambil jalan berbeda.
Pria berusia 32 tahun asal Desa Rubaru, Kecamatan Rubaru, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, ini memilih bertahan di sektor pertanian dan menjadikannya sebagai sumber penghidupan utama bagi keluarganya.
Sejak 2016, Kholid fokus mengembangkan pertanian hortikultura dengan menanam cabai, bawang merah, dan terong. Setiap hari, ia menghabiskan waktu di sawah untuk merawat tanaman yang menjadi tumpuan ekonomi keluarganya.
Bahkan, tawaran menjadi guru di salah satu lembaga pendidikan pernah ia tolak demi mempertahankan profesi sebagai petani.
Inovasi Pupuk Organik Jadi Kunci Sukses
Bukan hanya bertani secara konvensional, Kholid juga aktif mengembangkan pupuk organik hasil racikannya sendiri.
Setelah mengikuti berbagai pelatihan pertanian, sejak 2024 ia mulai memproduksi pupuk berbasis asam amino, trichoderma, dan jamur keberuntungan abadi atau Jakaba yang digunakan untuk meningkatkan kualitas lahan dan tanaman.
Menurut Kholid, penggunaan pupuk organik menjadi solusi atas tingginya ketergantungan lahan pertanian terhadap bahan kimia.
Ia menilai penggunaan pupuk kimia secara berlebihan dapat meninggalkan residu yang berdampak buruk pada kesuburan tanah dalam jangka panjang.
Selain lebih ramah lingkungan, pupuk organik juga dinilai jauh lebih hemat biaya produksi bagi petani.
Dari Air Cucian Beras hingga Bambu
Kreativitas Kholid terlihat dari bahan-bahan sederhana yang digunakan untuk membuat pupuk organik. Asam amino diraciknya dari bahan kaya protein seperti telur, daging, dan sayuran yang difermentasi selama sekitar 15 hari.
Biaya produksinya pun jauh lebih murah dibandingkan membeli produk jadi di pasaran.
Sementara itu, pupuk Jakaba dibuat dari air cucian beras dan dedak yang berfungsi mempercepat pertumbuhan tanaman serta memperkuat sistem perakaran.
Adapun pembuatan trichoderma menjadi tantangan tersendiri karena membutuhkan proses alami menggunakan bambu dan nasi yang dipendam selama 21 hari hingga menghasilkan jamur bermanfaat untuk menyuburkan tanaman.
Panen Cabai Berlimpah dan Menjangkau Pasar Luar Daerah
Kerja keras dan inovasi yang dilakukan Kholid mulai membuahkan hasil. Pada tahun 2026, ia menanam sekitar 6.000 pohon cabai di lahannya.
Dari 1.500 pohon yang telah memasuki masa panen, ia berhasil melakukan delapan kali panen dengan hasil mencapai sekitar 150 kilogram cabai merah dan 60 kilogram cabai hijau.
Keuntungan yang diperoleh dari panen tersebut mencapai sekitar Rp6,6 juta dan telah dimanfaatkan untuk kebutuhan keluarga, termasuk membeli sepeda listrik untuk anaknya.
Selain digunakan sendiri, pupuk organik racikan Kholid juga dipasarkan ke berbagai daerah seperti Ambunten, Rubaru, Bluto, hingga Tangerang.
Ia optimistis dapat mencapai target 15 kali panen tahun ini dengan memanfaatkan strategi pengaturan masa panen menggunakan pupuk organik buatannya.
Statement:
Moh. Kholid
“Bagi saya, harga bukan persoalan utama. Justru yang bikin pusing jika tanaman tidak berkualitas. Harga itu bonus. Yang paling penting tanaman berkualitas karena harga terkadang ditentukan oleh kualitas.”
3 Poin Penting:
- Kholid, petani muda asal Sumenep, memilih bertani sejak 2016 dan menolak pekerjaan formal demi fokus mengembangkan pertanian hortikultura.
- Ia berhasil menciptakan berbagai pupuk organik seperti asam amino, Jakaba, dan trichoderma untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi ketergantungan pupuk kimia.
- Dengan 6.000 pohon cabai yang ditanam, Kholid telah meraih keuntungan jutaan rupiah dan memasarkan pupuk organiknya hingga luar daerah.



