Bencana alam dahsyat kembali mengguncang kawasan pegunungan Himalaya. Nepal kini resmi meminta bantuan internasional setelah terjangan banjir bandang mematikan melanda wilayah perbatasan dengan Tiongkok.
Dampak dari amukan air deras tersebut tercatat sangat mengerikan, di mana hampir 3.000 orang dilaporkan hilang dan terseret arus. Pemerintah setempat memprioritaskan evakuasi cepat bagi warga lokal maupun warga negara asing yang terisolasi di lokasi terdampak.
Otoritas Nasional Pengurangan dan Manajemen Risiko Bencana Nepal mengonfirmasi sedikitnya 626 orang dipastikan tewas dan 2.426 orang masih belum ditemukan, termasuk ratusan turis dari India, Malaysia, Australia, hingga Amerika Serikat.
Musibah memilukan yang terjadi sejak Rabu lalu ini dipicu oleh runtuhnya gletser raksasa di area puncak. Material es, lumpur, dan bebatuan besar menyapu bersih permukiman warga, merobohkan jembatan, serta memutus total saluran listrik di sepanjang lembah.
Medan Terpencil Ekstrem dan Kebutuhan Darurat Unit Pendingin Jenazah
Proses evakuasi korban menghadapi kendala geografis yang amat berat lantaran lokasi bencana sangat terpencil dan hanya bisa diakses menggunakan helikopter.
Menanggapi situasi darurat tersebut, Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal, menyatakan bahwa pihaknya tengah mengupayakan pengerahan drone pengangkut beban berat guna menyalurkan bantuan logistik.
Mengingat ratusan jenazah telah ditemukan di area hilir, Nepal mendesak negara-negara sahabat untuk segera mengirimkan bantuan unit pendingin (freezer) guna mencegah pembusukan serta memfasilitasi proses identifikasi forensik.
Skala kehancuran infrastruktur yang luar biasa membuat anggaran dalam negeri Nepal tidak mencukupi untuk menanggung beban pemulihan.
Bencana ini menjadi ujian teramat berat bagi Perdana Menteri muda Balendra Shah (36) yang baru memimpin di tengah gejolak ekonomi dan tekanan inflasi global.
Guna memulihkan fasilitas publik yang hancur, pemerintah Nepal bahkan berencana menggelar konferensi donor internasional dalam waktu dekat.
Misi Penyelamatan Masif dan Kerja Sama Penanganan Terowongan PLTA
Guna memaksimalkan pencarian korban, Nepal telah mengerahkan lebih dari 15.000 personel gabungan militer dan kepolisian.
Penyelamatan difokuskan pada desa-desa yang tertimbun lumpur pekat serta area terowongan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) tempat para pekerja terjebak.
Menanggapi situasi kritis tersebut, Tiongkok dan India bergerak cepat mengirimkan tim ahli terowongan, tim medis, serta alat berat untuk melakukan penyisiran sistematis di lokasi-lokasi krusial.
Tak hanya di lapangan, aksi pencarian korban hilang juga menggema masif di media sosial dan posko kesehatan seperti Rumah Sakit Pendidikan Universitas Tribhuvan di Kathmandu.
Keluarga korban terus mendatangi rumah sakit sembari menggantungkan harapan tipis di tengah sulitnya akses komunikasi.
Bencana ini juga melumpuhkan fasilitas ekonomi vital, termasuk merusak ruas jalan perbatasan sepanjang 80 kilometer serta memutus pasokan listrik PLTA hingga 700 megawatt.
Estimasi Kerugian Miliaran Dolar dan Ancaman Banjir Susulan
Menteri Keuangan Nepal, Swarnim Wagle, mengungkapkan bahwa negaranya membutuhkan dana pemulihan setidaknya beberapa miliar dolar AS untuk bangkit dari kehancuran total ini.
Bantuan kemanusiaan dari berbagai negara seperti India yang membangun jembatan rangka portabel (Bailey) sangat dibutuhkan untuk membuka kembali akses transportasi utama.
Sementara itu, Presiden Tiongkok Xi Jinping juga berjanji mengucurkan bantuan darurat secara maksimal demi mendukung keselamatan warga di area perbatasan.
Di sisi lain, ancaman bahaya masih jauh dari kata usai. Ancaman banjir susulan membayangi akibat terbentuknya danau-danau danau alami baru dari luapan sungai yang tersumbat puing-puing gletser.
Pihak otoritas mengimbau warga di bagian barat Nepal untuk tetap dalam posisi siaga tinggi mengingat intensitas hujan yang masih tinggi berpotensi menjebol tanggul danau secara mendadak.
Statement:
Shisir Khanal, Menteri Luar Negeri Nepal
“Skala kehancurannya cukup besar dan kami mengharapkan bantuan internasional untuk rehabilitasi serta rekonstruksi. Kemampuan kami terbatas, sehingga kami meminta dukungan pemerintah asing dalam penyediaan unit pendingin, kemampuan forensik, dan bantuan khusus lainnya.”
3 Poin Penting:
-
Dampak Runtuhan Gletser Nepal: Banjir bandang akibat runtuhnya gletser di Nepal menewaskan sedikitnya 626 orang dan menyebabkan lebih dari 2.400 jiwa hilang, termasuk ratusan warga negara asing.
-
Permintaan Bantuan Internasional: Nepal mengimbau bantuan darurat internasional berupa unit pendingin jenazah, tim forensik, drone logistik, hingga dana rekonstruksi senilai miliaran dolar AS.
-
Pengerahan Tim Penyelamat Gabungan: Lebih dari 15.000 personel militer Nepal disiagakan bersama bantuan ahli terowongan dari Tiongkok dan India untuk menembus wilayah terisolasi dan lokasi PLTA.





