Search
Search
Search

Diterjang Banjir Bandang Himalaya! 160 Orang Tewas di Nepal-Tibet dan Ratusan Wisatawan Asing Hilang

Kamis, 27 Agustus 2026

Banjir bandang Nepal (AFP)

Bencana alam dahsyat kembali mengguncang kawasan Pegunungan Himalaya setelah banjir bandang berkecepatan tinggi menerjang wilayah utara Nepal hingga perbatasan Tibet, China, pada Rabu (26/8/2026).

Gelombang besar yang membawa campuran air, lumpur, serta material batu menapu bersih pemukiman, jembatan, hingga akses jalan utama di kawasan perbatasan tersebut.

Hingga laporan terbaru dirilis, Kepolisian Nepal mengonfirmasi sebanyak 157 jenazah telah ditemukan, sementara otoritas China mencatat sedikitnya tiga korban jiwa di Tibet, sehingga total korban tewas mencapai 160 orang.

Krisis ini kian mencekam setelah Nepal Tourism Board melaporkan adanya 403 orang yang dinyatakan hilang, dengan 341 di antaranya merupakan warga negara asing (WNA) yang sedang melakukan kegiatan pendakian dan ziarah.

Longsoran Misterius Memicu Guncangan Setara Gempa

Tragedi mematikan ini berpusat di sepanjang aliran Sungai Bhote Koshi, Trishuli, dan Narayani yang dikenal sebagai jalur favorit para wisatawan.

Para ahli internasional mulanya mengira guncangan awal dipicu oleh gempa bumi bermagnitudo 4,4. Namun, analisis mendalam United States Geological Survey (USGS) mengungkap fakta mengejutkan bahwa guncangan tersebut sejatinya berasal dari longsoran skala raksasa yang menghasilkan getaran setara gempa magnitudo 5,2.

Skenario sementara menunjukkan adanya pelepasan bongkahan gletser raksasa dari lereng pegunungan yang runtuh ke lembah Sungai Lhende Khola.

Material es dan batuan masif tersebut meluncur deras ke arah Nepal melalui celah lembah curam, menyeret segala hal yang dilaluinya.

Misteri Volume Air Masif dan Dampak Mencairnya Gletser

Peneliti geologi terus bekerja keras menyusun kronologi rinci bagaimana longsoran tersebut dapat memicu banjir dengan volume air yang begitu dahsyat.

Para ahli mengindikasikan bahwa material longsoran yang bergerak secepat kilat telah bercampur dengan sedimen dan air hujan monsun yang terperangkap di struktur batuan pegunungan.

Fenomena hangatnya suhu di kawasan Hindu Kush Himalaya juga dituding menjadi faktor pendukung yang mempercepat pencairan gletser.

Air rakitan es yang meresap ke dalam celah-celah batuan lambat laun melemahkan struktur lereng pegunungan, menjadikannya sangat rentan runtuh sewaktu-waktu.

Faktor Monsun dan Fenomena Hujan Lokal

Meskipun wilayah Nepal tengah berada dalam siklus musim monsun tahunan, para meteorolog menegaskan bahwa hujan deras bukan menjadi pemicu utama bencana banjir bandang kali ini.

Data pemantauan satelit tidak merekam adanya curah hujan ekstrem yang meluas di area perbatasan selama sepekan terakhir.

Namun, kondisi debit air sungai yang memang sudah tinggi akibat akumulasi hujan monsun dan lelehan salju memperparah dampak hantaman ketika material longsoran raksasa runtuh ke aliran sungai utama.

Proses evakuasi dan pencarian ratusan korban hilang hingga kini masih terus diupayakan di tengah kondisi medan yang ekstrem.

Statement:

Daniel Shugar, Ahli Geologi University of California

“Salah satu persoalan yang masih sulit dijelaskan adalah volume air yang terlihat dalam rekaman bencana… Longsoran yang terdiri atas campuran es dan batu bergerak sangat cepat dari lereng gunung, kemudian mengangkut sedimen dalam perjalanannya.”

3 Poin Penting:

  • Dampak Korban Jiwa & Orang Hilang: Banjir bandang di perbatasan Nepal-China menewaskan sedikitnya 160 orang dan menyebabkan 403 orang hilang, termasuk 341 wisatawan asing.

  • Pemicu Longsoran Raksasa: Analisis USGS membuktikan bencana dipicu oleh longsoran gletser masif yang menghasilkan guncangan setara gempa magnitudo 5,2, bukan akibat gempa bumi.

  • Pengaruh Cuaca & Struktur Gletser: Musim monsun dan melemahnya struktur lereng akibat pencairan gletser memperbesar volume serta dampak keterjangan banjir bandang di sepanjang aliran sungai.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

Rame 24 Jam

Rame Sepekan