Search
Search
Search

Usut Kasus Keracunan MBG, Kepala BGN Buka Suara Soal Bahan Baku Rusak

Jumat, 18 September 2026

Siswa keracunan (tribun Banyumas)

Fenomena gangguan kesehatan dan keracunan yang menimpa sejumlah penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) belakangan ini mendadak ramai jadi sorotan publik.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, secara terbuka membongkar akar masalah yang menjadi biang kerok dari maraknya insiden keracunan tersebut.

Berdasarkan hasil temuan di lapangan, mayoritas kasus dipicu oleh kondisi makanan yang sudah mengalami kerusakan sebelum dikonsumsi.

Sudaryono mengungkapkan bahwa menu lauk-pauk yang berbasis protein hewani menjadi kelompok bahan makanan yang paling banyak memicu masalah kesehatan ini.

Berbagai olahan pangan seperti daging ayam, telur, ikan, hingga daging sapi beserta turunan olahannya dinilai sangat rentan mengalami kebusukan jika tidak ditangani dengan prosedur penanganan yang tepat.

Pentingnya Kualitas Pangan Sejak Awal Proses Masak

Kondisi bahan baku segar dipastikan menjadi kunci utama dalam menjamin keamanan seluruh sajian program MBG bagi masyarakat.

Proses memasak yang sudah benar dan higienis sekalipun tidak akan mempu menolong keamanan hidangan apabila bahan pangan mentah yang digunakan sejak awal memang sudah tidak layak konsumsi.

Oleh karena itu, BGN kini memperketat seluruh alur pencatatan dan penerimaan barang di dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Demi menjaga mutu, BGN juga tengah menyiapkan sebuah sistem pasar digital (marketplace) khusus untuk pengadaan bahan baku pangan, terutama produk protein hewani yang membutuhkan penanganan khusus (special handling).

Langkah ini dilakukan agar mutu barang terjamin, harga wajar tanpa mark-up, serta mencegah masuknya bahan berkualitas buruk.

Evaluasi Ketat SPPG dan Sanksi Penutupan Dapur Bermasalah

Selain fokus pada pembenahan kualitas bahan baku, BGN juga menggelar evaluasi dan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap operasional SPPG.

Sudaryono membeberkan bahwa hampir separuh dari total dapur MBG di seluruh Indonesia saat ini sedang menjalani inspeksi ketat. Di sisi lain, sekitar 14.000 SPPG tercatat telah berhasil memenuhi standar baku keamanan dan kelayakan operasional.

Tindakan tegas pun langsung diambil terhadap dapur-dapur penyedia makanan yang kedapatan melanggar ketentuan kesehatan. BGN tidak ragu untuk melakukan penangguhan operasional (suspend) sementara.

Apabila pengelola dapur tidak kunjung melakukan perbaikan standar sesuai regulasi, BGN memastikan sanksi tegas berupa penutupan secara permanen akan langsung dijatuhkan.

Statement:

Sudaryono, Kepala Badan Gizi Nasional

“Kasus adanya gangguan kesehatan karena MBG banyak sekali terjadi karena faktor rusaknya makanan itu lauk dan sayur. Lebih banyak lauk. Lebih banyak didominasi oleh protein hewani, apakah ayam, telur, ikan, daging dan lain sebagainya dengan olahan-olahannya.”

“Maka penting, ya kami tadi sudah sampaikan di dalam bahwa salah satunya adalah bahan bakunya mesti bener. Mau masaknya bener kalau bahan bakunya sudah busuk ya tetep aja orang akan keracunan.”

“Supaya bahan-bahan baku protein hewani khususnya ini yang special handling ini betul-betul kualitasnya bener, dibeli dengan harga yang bener, tidak ada markup. Jangan sampai beli katanya beli harga, beli kualitas A tapi ternyata yang datang kualitasnya D gitu misalnya.”

“Kalau nggak memenuhi syarat, udah kami suspend enggak diperbaiki kami tutup permanen.”

3 Poin Penting:

  • Penyebab Utama Keracunan: Mayoritas kasus keracunan pada program MBG disebabkan oleh bahan baku yang rusak, terutama olahan protein hewani seperti ayam, telur, ikan, dan daging.

  • Pengadaan Lewat Marketplace Khusus: BGN akan meluncurkan sistem marketplace untuk pengadaan bahan baku guna menjamin kualitas pangan, transparansi harga, dan mencegah kecurangan mutu.

  • Sanksi Penutupan Permanen: Hampir separuh dapur MBG sedang diperiksa, dan BGN tidak ragu menutup permanen dapur SPPG yang di-suspend jika tidak membenahi standar kelayakannya.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

Rame 24 Jam

Rame Sepekan