Dulu, menikmati kopi mahal di kafe mewah, berbelanja pakaian bermerek, hingga berlibur dengan fasilitas premium menjadi cara sebagian orang merayakan hasil kerja keras.
Namun, di tengah biaya hidup yang terus meningkat dan ketidakpastian pekerjaan, tren tersebut mulai bergeser.
Fenomena yang dikenal sebagai downgrade lifestyle ini membuat sebagian masyarakat memilih menjalani gaya hidup lebih sederhana demi menjaga kestabilan keuangan.
Kendaraan dan Pengeluaran Harian Ikut Dihemat
Bagi Amel, meningkatnya biaya hidup membuat setiap pengeluaran perlu dipertimbangkan dengan lebih matang. Ia juga menyadari bahwa pekerjaan tidak selalu memberikan kepastian dalam jangka panjang.
Risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) bisa datang kapan saja, sehingga uang yang sebelumnya digunakan untuk bersenang-senang kini lebih diprioritaskan untuk tabungan.
Penghematan juga dilakukan Amel bersama suaminya dalam urusan transportasi. Jika sebelumnya mereka lebih sering menggunakan mobil demi kenyamanan, kini sepeda motor menjadi pilihan untuk perjalanan sehari-hari.
Menurut Amel, pengeluaran bensin mobil bisa mencapai sekitar Rp200.000 sekali mengisi, belum termasuk biaya tol.
Sementara itu, bensin sepeda motor sekitar Rp50.000 bisa digunakan selama satu minggu untuk perjalanan pulang-pergi kerja. Selisih pengeluaran tersebut dapat dialihkan untuk kebutuhan rumah tangga, seperti membayar tagihan listrik.
Hiburan dan Liburan Tak Lagi Jadi Prioritas
Perubahan gaya hidup serupa juga dialami Chandra (30), pekerja swasta yang mulai mengurangi aktivitas hiburan di luar rumah. Jika dahulu ia terbiasa menonton film di bioskop setidaknya sekali seminggu, setelah menikah frekuensinya menjadi lebih jarang.
Ia menilai layanan streaming dengan biaya berlangganan sekitar Rp60.000 per bulan lebih ekonomis dibandingkan menonton di bioskop bersama istri.
Menurut pengalamannya, sekali pergi ke bioskop berdua membutuhkan biaya minimal Rp200.000 untuk tiket, makanan, dan minuman.
Selain hiburan, Chandra juga mengurangi liburan yang membutuhkan anggaran besar. Baginya, uang yang sebelumnya digunakan untuk bersenang-senang lebih baik dialihkan untuk mempersiapkan kebutuhan keluarga, terutama dana darurat bagi anaknya.
Pilihan ini menunjukkan bahwa downgrade lifestyle bukan sekadar mengurangi kesenangan, melainkan juga mengatur ulang prioritas agar kondisi keuangan keluarga lebih siap menghadapi kebutuhan tak terduga.
Perencana Keuangan: Penyesuaian Gaya Hidup Itu Wajar
Financial planner dari Finante, Maryadi Santana, mengatakan bahwa fenomena downgrade lifestyle merupakan hal yang umum terjadi di Indonesia.
Menurutnya, penyesuaian gaya hidup menjadi salah satu cara masyarakat menghadapi kenaikan harga kebutuhan hidup tanpa harus mengabaikan kemampuan finansial.
Maryadi menegaskan bahwa penurunan gaya hidup tidak selalu menjadi tanda seseorang sedang mengalami masalah keuangan. Ia menggambarkan pendapatan sebagai garis yang relatif statis, sedangkan harga kebutuhan hidup cenderung meningkat.
Karena itu, pengeluaran perlu disesuaikan agar tetap berada dalam batas kemampuan pendapatan.
Dengan demikian, downgrade lifestyle dapat menjadi strategi mengelola keuangan secara lebih realistis, terutama dengan memprioritaskan tabungan, dana darurat, dan kebutuhan jangka panjang.
3 Poin Penting:
-
Downgrade lifestyle makin relevan: Kenaikan biaya hidup dan ketidakpastian pekerjaan mendorong masyarakat mengurangi belanja serta hiburan yang tidak mendesak.
-
Pengeluaran dialihkan ke kebutuhan penting: Amel menghemat biaya transportasi, sedangkan Chandra mengutamakan tabungan dan dana darurat anak.
-
Gaya hidup sederhana bukan berarti gagal finansial: Menurut perencana keuangan Maryadi Santana, penyesuaian pengeluaran merupakan cara menyelaraskan pendapatan dengan kebutuhan hidup.



