Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Arjuno-Welirang, Jawa Timur, masih belum berhasil dipadamkan hingga Sabtu pagi, 17 Oktober 2026.
Kobaran api dan kepulan asap tebal terlihat di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, termasuk lereng Gunung Arjuno dan Gunung Ringgit.
Kondisi ini menjadi perhatian serius karena kebakaran di kawasan hutan pegunungan tidak hanya mengancam vegetasi, tetapi juga berpotensi mengganggu habitat satwa dan keseimbangan ekosistem.
Api yang terlihat dari kawasan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, turut memperlihatkan bahwa dampak kebakaran tersebut dapat diamati dari wilayah di sekitar kawasan terdampak.
Berdasarkan laporan yang dikutip dari TribunStyle dan Kompas.com, kebakaran melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan.
Kepala UPT Tahura Raden Soerjo, Agustiningtyas Marini, mengungkapkan bahwa titik api pertama kali terdeteksi di wilayah Mojokerto pada Selasa, 13 Oktober 2026.
Rentang waktu tersebut menunjukkan bahwa pengendalian kebakaran membutuhkan upaya berkelanjutan, terutama ketika api menyebar di medan yang sulit dijangkau.
Luas Kebakaran Capai 170,39 Hektare, Petugas Berpacu dengan Waktu
Data UPT Tahura Raden Soerjo mencatat luas area yang terbakar di wilayah Mojokerto mencapai 170,39 hektare. Kebakaran mencakup sejumlah titik, antara lain Gunung Kukusan, Putuk Kencur, Putuk Duro, Putuk Sembung, dan Bukit Cendono.
Area tersebut berada di Resort Kerja Wilayah 06 Mojokerto Barat, yang mencakup Desa Begaganlimo dan Desa Gumeng di Kecamatan Gondang.
Luas lahan yang terdampak ini menjadi pengingat bahwa karhutla bukan sekadar persoalan api yang terlihat dari kejauhan, melainkan juga ancaman terhadap kawasan konservasi yang membutuhkan waktu panjang untuk pulih.
Untuk menangani kebakaran, sebanyak 80 personel gabungan yang terdiri atas polisi kehutanan (Polhut), Manggala Agni, dan relawan telah diterjunkan ke lokasi.
Mereka melakukan pemadaman secara manual di titik-titik yang masih dapat dijangkau melalui jalur darat serta membuat sekat bakar untuk membatasi penjalaran api.
Upaya ini penting, tetapi efektivitasnya juga bergantung pada kondisi cuaca, arah angin, karakter vegetasi, dan akses menuju lokasi kebakaran.
Karena itu, penanganan perlu disertai pemetaan titik api secara berkala dan penentuan prioritas pada area yang paling berisiko agar tenaga petugas dapat digunakan secara optimal.
Pemadaman Manual dan Sekat Bakar Jadi Andalan
Upaya pemadaman telah berlangsung sejak Jumat malam, 16 Oktober 2026, dan berlanjut hingga Sabtu pagi. Pada Jumat malam, api juga terlihat di kawasan puncak Budug Asu, tepatnya di Desa Gunung Rejo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.
Petugas gabungan menghadapi tantangan untuk menjangkau titik-titik api yang berada di kawasan lereng dan perbukitan. Dalam situasi seperti ini, keselamatan personel harus tetap menjadi prioritas.
Pemadaman tidak boleh hanya mengejar kecepatan, tetapi juga perlu mempertimbangkan kondisi medan, potensi perubahan arah api, serta jalur evakuasi bagi petugas.
Agustiningtyas Marini menyampaikan bahwa tambahan regu pengendalian kebakaran telah disiapkan untuk Sabtu. “Untuk hari Sabtu ini, kami telah menyiapkan tambahan regu pengendalian kebakaran hutan.
Personel fokus pada pembuatan sekat bakar dan pemadaman di area-area yang masih memungkinkan untuk dijangkau darat,” pungkasnya.
Pembuatan sekat bakar bertujuan menghambat pergerakan api dengan memutus atau mengurangi bahan bakar vegetasi pada jalur tertentu.
Namun, langkah darurat ini perlu diimbangi pemantauan kondisi lapangan dan evaluasi berkala.
Dukungan peralatan, koordinasi antarpersonel, serta informasi cuaca yang akurat juga penting untuk membantu menentukan strategi pemadaman yang paling aman dan efektif.
Bukan Cuma Memadamkan Api, Pencegahan Harus Diperkuat
Kebakaran Gunung Arjuno-Welirang menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla tidak bisa berhenti ketika kobaran api berhasil dikendalikan.
Setelah pemadaman, pemerintah dan pengelola kawasan perlu mengevaluasi penyebab kebakaran, memetakan area yang rusak, serta menyiapkan pemulihan ekosistem sesuai kondisi lapangan.
Pengawasan kawasan rawan kebakaran juga perlu diperkuat, terutama saat kondisi vegetasi dan cuaca meningkatkan risiko munculnya titik api.
Jika ditemukan unsur kesengajaan atau pelanggaran, penyelidikan harus dilakukan berdasarkan bukti agar penyebab kebakaran dapat ditangani secara tepat.
Masyarakat juga memiliki peran penting dalam mencegah kebakaran meluas.
Warga dan pengunjung kawasan pegunungan perlu menghindari aktivitas yang berpotensi memicu api, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta segera melaporkan titik api atau asap kepada petugas.
Selama proses pemadaman berlangsung, masyarakat sebaiknya tidak mendekati lokasi kebakaran hanya untuk mengambil foto atau video karena dapat membahayakan diri sendiri sekaligus menghambat operasi petugas.
Pemerintah, pengelola kawasan, relawan, dan warga perlu membangun sistem pelaporan serta edukasi pencegahan yang berkelanjutan.
Dengan begitu, penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada respons darurat, tetapi juga mengurangi risiko kejadian serupa di masa mendatang.
Statement:
Agustiningtyas Marini, Kepala UPT Tahura Raden Soerjo
“Api pertama kali terdeteksi di wilayah Kabupaten Mojokerto sejak Selasa (13/10/2026) petang dan sampai saat ini proses pengendalian masih berlangsung.”
3 Poin Penting:
-
Kebakaran belum padam: Hingga Sabtu pagi, 17 Oktober 2026, api dan asap masih terlihat di kawasan Tahura Raden Soerjo, termasuk lereng Gunung Arjuno dan Gunung Ringgit.
-
Luas area terbakar mencapai 170,39 hektare: Data UPT Tahura Raden Soerjo mencatat kebakaran di wilayah Mojokerto mencakup sejumlah gunung dan bukit, dengan 80 personel gabungan dikerahkan untuk melakukan pemadaman.
-
Pemadaman dan pencegahan harus berjalan bersama: Petugas melakukan pemadaman manual serta pembuatan sekat bakar, sementara pengawasan kawasan, pelaporan titik api, dan pemulihan ekosistem diperlukan untuk mengurangi risiko kebakaran berulang.



