Hesti Purwadinata dan Ria Ricis Turun Langsung Bantu Korban Karhutla, Asap di Kalimantan Masih Mengkhawatirkan

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan kembali menjadi perhatian publik. Kali ini, sejumlah selebritas memilih tidak hanya menyuarakan kepedulian melalui media sosial, tetapi juga turun langsung membantu penanganan di lapangan.

Salah satunya adalah Hesti Purwadinata yang tiba di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, pada Selasa (3/11), bersama sejumlah relawan dari Sekolah Relawan.

Setibanya di lokasi, Hesti ikut menyalurkan bantuan sekaligus memberikan pelayanan kesehatan kepada warga di Desa Pahandut. Ia juga terlibat dalam upaya pemadaman api di lahan terdampak karhutla.

Bahkan, ketika hujan turun, perjuangan para relawan belum selesai karena sejumlah titik masih berpotensi memunculkan api kembali.

Api yang Sudah Padam Bisa Kembali Menyala

Melalui unggahannya bersama salah satu relawan, Hesti menggambarkan betapa sulitnya menangani kebakaran yang terus muncul kembali.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa memadamkan api bukan pekerjaan sederhana, terutama ketika masih terdapat bara atau titik panas di dalam lahan.

Kondisi serupa juga menjadi perhatian Ria Ricis yang turun membantu penanganan karhutla di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ricis menjelaskan bahwa lahan yang terlihat tidak lagi terbakar tetap perlu dibasahi untuk mencegah munculnya kembali titik api.

Dalam unggahan pada Kamis (5/11), ia memperlihatkan area yang baru dipadamkan, tetapi masih mengeluarkan asap.

Kabut Asap Belum Hilang Meski Hujan Turun

Kekhawatiran Ricis tidak berhenti pada kondisi lahan terbakar. Ia juga memperlihatkan suasana di sekitar rumah sakit yang masih diselimuti kabut asap, meskipun hujan telah turun.

Menurut pengamatannya, kondisi udara di lokasi masih tampak keruh. “Bahkan ini kita di depan rumah sakitnya, dari semalam bisa lihat masih kuning banget.

Katakan sudah telat, sudah hujan itu amin terjadi,” ujarnya. Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa hujan tidak selalu langsung mengakhiri dampak karhutla.

Ricis juga menanggapi komentar warganet yang menilai kedatangannya terlambat. Ia menegaskan bahwa asap dan dampak kebakaran masih terlihat di lapangan.

Dari sudut pandang publik, perdebatan soal siapa yang datang lebih dulu seharusnya tidak mengalihkan perhatian dari persoalan utama: warga masih membutuhkan udara bersih, bantuan kesehatan, dan penanganan kebakaran yang berkelanjutan.

Ribuan Ancaman Kebakaran Perlu Penanganan Serius

Selain Hesti dan Ria Ricis, sejumlah figur publik seperti Sherina Munaf, Zaskia Adya Mecca, dan Riyuka Bunga juga turut membantu penanganan serta pemadaman karhutla di Palangka Raya.

Keterlibatan para selebritas ini dapat membantu memperluas perhatian masyarakat terhadap kondisi di Kalimantan. Namun, dukungan tersebut tetap perlu berjalan beriringan dengan kerja petugas pemadam, relawan, pemerintah daerah, dan masyarakat setempat.

Berdasarkan Dashboard Informasi Penanganan Karhutla milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Rabu (4/11), masih tercatat 588 titik panas dan 149 titik api di enam provinsi, yakni Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Situasi ini menunjukkan bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah membesar.

Pemantauan titik panas, pembasahan lahan, kesiapan personel, perlindungan kesehatan warga, serta pencegahan pembakaran lahan harus menjadi perhatian bersama.

Kehadiran selebritas memang bisa menggerakkan kepedulian publik, tetapi solusi jangka panjang tetap membutuhkan langkah terkoordinasi dan pengawasan yang konsisten.

Pada akhirnya, yang paling penting bukan seberapa ramai isu karhutla dibicarakan, melainkan seberapa nyata upaya untuk menghentikan kebakaran dan melindungi masyarakat terdampak.

3 Poin Penting:

  • Hesti Purwadinata dan Ria Ricis turun langsung membantu penanganan karhutla di Kalimantan, termasuk menyalurkan bantuan dan mendukung pemadaman.
  • Sejumlah lahan masih mengeluarkan asap meski api telah dipadamkan dan hujan turun, sehingga risiko munculnya kembali titik api tetap perlu diwaspadai.
  • BNPB mencatat 588 titik panas dan 149 titik api di enam provinsi per 4 November, sehingga penanganan dan pencegahan karhutla masih membutuhkan perhatian serius.
Bagikan artikel:

Artikel Terkait

Kategori

PODCAST