Analisis Satu Tahun: Ketika Pemerintah Sibuk Menghitung Persentase Keracunan dan Mengejar Pertumbuhan 8%

Senin, 20 Oktober 2025

Prabowo-Gibran (istimewa)

Tepat satu tahun pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka berlalu. Satu tahun ini diwarnai dinamika ekonomi yang dramatis, mulai dari pelaksanaan janji kampanye yang menyentuh perut rakyat hingga perubahan personel di pos menteri keuangan.

Peristiwa pertama yang paling humanis—dan paling menggelitik—adalah implementasi program andalan: Makan Bergizi Gratis (MBG), yang per 3 Oktober 2025 sudah menghabiskan Rp20,6 triliun dan menyentuh 31,2 juta penerima.

Namun, di tengah kesuksesan distribusi 1,4 miliar porsi, muncullah drama yang tak terhindarkan: keracunan. Presiden Prabowo dengan tenang menyebut angka 8.000 korban keracunan, lalu secara ilmiah meredakannya sebagai angka yang sangat kecil, hanya 0,0007 persen dari total porsi yang dibagikan.

Sikap ini secara satir menunjukkan bahwa pemerintah kini lebih mahir dalam ilmu statistik persentase kesalahan daripada ilmu memasak.

Solusi yang ditekankan kemudian bergeser: bukan memeriksa higienitas dapur, melainkan instruksi agar anak-anak diingatkan untuk mencuci tangan yang benar dan makan dengan sendok.

Ketika Logika Sains Mengalahkan Dapur Kontrol

Di tengah upaya menyelenggarakan makan siang untuk puluhan juta anak, pemerintah juga melakukan aksi penghematan yang kontras.

Pemerintah mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) untuk melakukan efisiensi anggaran sebesar Rp306 triliun, dengan sasaran utama adalah belanja “boros” seperti biaya perjalanan dinas dan rapat.

Upaya ini secara humanis terkesan seperti menjahit dompet yang bolong: berusaha keras menghemat dari uang snack rapat, sementara di saat yang sama meluncurkan inisiatif ekonomi dengan target triliunan dolar.

Kontras tersebut menjadi semakin mencolok dengan diluncurkannya Danantara (Daya Anagata Nusantara), Badan Pengelola Investasi yang targetnya mengelola aset hingga USD980 miliar atau sekitar Rp15.978 triliun.

Badan ini, yang bertugas mengelola aset negara dan mengejar pertumbuhan ekonomi 8 persen, menunjukkan skala ambisi yang astronomis.

Pemerintah seolah berkata: kami mungkin sedang berjuang memastikan 8.000 orang tidak keracunan, tapi kami juga sedang membangun roket untuk mencapai pertumbuhan 8%, sekaligus memangkas biaya kopi di rapat kementerian.

Jantung IHSG yang Sensitif dan Pergantian Sang Kasir Negara

Di ranah pasar modal, dinamika selama setahun ini menunjukkan betapa sensitifnya “jantung” ekonomi Indonesia.

Hanya berselang lima bulan setelah pelantikan, IHSG anjlok 6,58% ke level 6.046. Uniknya, kejatuhan dramatis ini disebut-sebut terjadi bukan karena fundamental, melainkan karena isu rumor mundurnya Menteri Keuangan saat itu, Sri Mulyani.

Peristiwa ini secara satir membuktikan bahwa pasar keuangan kita lebih reaktif terhadap drama politik dan rumor tokoh elit daripada data makro ekonomi yang tebal.

Namun, drama tidak berhenti di situ. Setahun pemerintahan ditutup dengan keputusan final: pencopotan Sri Mulyani dari tahta Menkeu pada 8 Oktober 2025, yang kemudian digantikan oleh Purbaya Yudhi Sadewa.

Secara humanis, ini adalah permainan kursi musik di antara para ekonom elit. Sri Mulyani, yang dikenal sebagai “kasir negara” dengan reputasi global, digantikan oleh Purbaya, seorang ekonom yang teorinya justru baru-baru ini diserang habis-habisan oleh ekonom senior lain di depan publik.

Pasar dan publik pun kini bertanya: apakah “kasir” yang pragmatis lebih baik dari “filosof” ekonomi yang baru?

Membela yang Lemah dan Mengejar yang Fantastis

Satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran adalah kaleidoskop janji-janji humanis, ambisi finansial yang fantastis, dan realitas kerumitan teknis.

Dari janji MBG hingga ambisi Danantara, ada upaya nyata untuk mengubah wajah perekonomian. Namun, drama yang paling terasa adalah ketegangan antara angka-angka yang megah (USD980 miliar) dan masalah-masalah sepele yang berulang (keracunan, pemborosan travel).

Intinya, pemerintahan ini menunjukkan dua wajah: satu yang sibuk menghitung persentase kecil keracunan dan menyuruh anak-anak mencuci tangan dengan benar, dan wajah lain yang sibuk menghitung potensi investasi triliunan dolar untuk pertumbuhan 8%.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir