Search
Search
Search

Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur BI Perempuan Pertama

Senin, 31 Agustus 2026

Bank Indonesia (ist)

Peta kepemimpinan sektor keuangan Tanah Air mengukir sejarah baru setelah Komisi XI DPR RI secara resmi menyetujui Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) terpilih periode 2026-2031.

Keputusan krusial ini diambil melalui rapat internal DPR pada Kamis (27/8/2026) usai Destry sukses melewati proses uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test).

Penetapan ini sekaligus mengukuhkan posisi Destry sebagai perempuan pertama yang menduduki kursi nomor satu di bank sentral secara definitif.

Destry yang sebelumnya mengemban amanah sebagai Pejabat Gubernur Sementara BI akan mengisi posisi yang ditinggalkan oleh Perry Warjiyo setelah mengundurkan diri pada 25 Juli 2026 lalu.

Selanjutnya, hasil keputusan Komisi XI DPR RI tersebut dijadwalkan bakal dibawa ke Rapat Paripurna DPR RI pada 1 September 2026 guna pengesahan akhir.

Momen transisi kepemimpinan ini tak pelak memicu sorotan masif publik mengenai arah kebijakan moneter serta stabilitas nilai tukar rupiah untuk lima tahun ke depan.

Proyeksi Ekonom: Perombakan Kepemimpinan BI Belum Cukup Menguatkan Rupiah

Kendati pergantian nakhoda di tubuh BI membawa semangat baru, ekonom senior Didik J. Rachbini menilai bahwa rotasi kepemimpinan ini tidak akan otomatis menguatkan nilai tukar rupiah secara drastis.

Menurut analisisnya, pergerakan rupiah ke depan diperkirakan masih akan terus berada dalam posisi rentan terhadap berbagai tekanan.

Hal ini disebabkan oleh kendala mendasar pada sektor moneter serta keterbatasan instrumen kebijakan yang hanya mengandalkan penyesuaian suku bunga sentral semata.

Didik menambahkan bahwa pasar domestik Indonesia yang terbilang raksasa belum menjadi jaminan bagi terciptanya mata uang yang kokoh.

Struktur perekonomian nasional dinilai masih memiliki ketergantungan yang amat tinggi di sektor luar negeri.

Kendala eksternal serta tingginya biaya transaksi di dalam negeri diprediksi bakal tetap menjadi tantangan berat yang membayangi masa kepemimpinan baru BI hingga lima tahun mendatang.

Masalah Struktural Inward Looking dan Minimnya Pasokan Devisa Segar

Salah satu biang kerok belum kokohnya posisi rupiah adalah orientasi ekonomi nasional yang masih dominan berputar di dalam negeri (inward looking).

Aktivitas konsumsi masyarakat berpopulasi 293 juta jiwa memang sanggup menggerakkan roda pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) serta menciptakan lapangan kerja.

Namun, perputaran ekonomi yang hanya berpusat pada mata uang rupiah tersebut gagal mendatangkan pasokan devisa segar (fresh dollar) dari luar negeri secara signifikan.

Selain orientasi pasar, posisi cadangan devisa Indonesia yang berada di kisaran 145,3 miliar dollar AS pada akhir Juli 2026 dinilai masih relatif kecil untuk ukuran ekonomi sebesar Indonesia jika dibandingkan dengan negara tetangga di kawasan ASEAN.

Ketergantungan pada ekspor komoditas mentah seperti batu bara dan nikel yang harganya sangat bergantung pada fluktuasi pasar global juga dinilai belum mampu menjadi benteng pertahanan devisa yang stabil.

Perlunya Transformasi Kebijakan Ekspor dan Perbaikan Iklim Investasi

Guna memperkuat benteng pertahanan rupiah di masa depan, Indonesia dinilai perlu segera mengubah orientasi kebijakan ekonominya menjadi lebih berorientasi keluar (outward looking).

Strategi berbasis ekspor industri manufaktur yang bernilai tambah tinggi perlu digenjot secara masif agar mampu mendatangkan arus balik devisa dalam jumlah besar.

Di sisi lain, perbaikan iklim investasi dalam negeri juga menjadi PR besar yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah bersinergi dengan BI.

Kepastian hukum, pemberantasan korupsi, serta efisiensi biaya transaksi bisnis menjadi kunci utama untuk menarik minat investor asing menanamkan modalnya di Indonesia, sekaligus menjadi penopang utama kestabilan nilai tukar rupiah di tengah dinamika pasar global.

Statement:

Didik J. Rachbini, Ekonom Senior

“Kepemimpinan BI sekarang akan mengubah posisi rupiah menjadi lebih stabil dan lebih kuat dari sebelumnya? Jawabnya sulit dan bahkan hampir tidak bisa. Sampai 5 tahun mendatang rupiah tetap tidak akan menguat, akan tetap lemah. Untuk menjaga nilai rupiah lebih stabil dan kuat tidak cukup hanya dengan menggunakan instrumen suku bunga.”

3 Poin Penting:

  • Terpilihnya Gubernur BI Perempuan Pertama: Komisi XI DPR RI mengesahkan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2026-2031 menggantikan Perry Warjiyo yang mengundurkan diri.

  • Tantangan Struktural Rupiah: Ekonom memprediksi pergantian kepemimpinan BI tidak serta-merta menguatkan rupiah karena keterbatasan instrumen suku bunga dan tingginya biaya transaksi bisnis domestik.

  • Pentingnya Reformasi Outward Looking: Penguatan nilai tukar rupiah membutuhkan pergeseran orientasi ekonomi dari pasar domestik menuju strategi berbasis ekspor dan daya saing investasi untuk memperkuat cadangan devisa.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

Rame 24 Jam

Rame Sepekan