Search

Harga Emas Kehilangan Momentum, Tekanan Suku Bunga AS dan Dolar Kuat Bikin Investor Mulai Waspada

Rabu, 17 Juni 2026

Emas (ist)

Reli harga emas yang mencetak rekor spektakuler dalam dua tahun terakhir mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan.

Setelah sempat menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah di USD5.595 per troy ounce pada Januari 2026, harga emas kini terkoreksi sekitar 25% akibat meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) serta penguatan dolar AS yang mengurangi daya tarik logam mulia sebagai aset lindung nilai.

Tekanan terhadap harga emas semakin terasa setelah data ekonomi AS menunjukkan kinerja yang lebih kuat dari perkiraan.

Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama, sehingga investor mulai mengalihkan dana ke instrumen yang lebih sensitif terhadap tingkat suku bunga.

Dolar AS Menguat, Harga Emas Tertekan

Kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah, termasuk ketegangan yang melibatkan Iran, turut mengubah arah pergerakan pasar global.

Alih-alih memburu aset aman seperti emas, sebagian investor memilih menyesuaikan portofolionya dengan instrumen yang dinilai lebih menguntungkan di tengah potensi kenaikan suku bunga.

Akibat tekanan tersebut, harga emas sempat menyentuh level terendah dalam enam bulan terakhir.

Pada perdagangan Jumat, emas berada di kisaran USD4.188 per troy ounce, setelah sehari sebelumnya turun hingga USD4.022 per troy ounce.

Penurunan ini juga membuat harga emas menembus rata-rata pergerakan 200 hari untuk pertama kalinya dalam dua setengah tahun terakhir.

Analis Soroti Perubahan Tren Pasar

Kepala Strategi Emas dan Logam State Street Investment Management, Aakash Doshi, menilai pasar saat ini tengah berupaya mencerna dampak kombinasi antara risiko kenaikan suku bunga dan penguatan dolar AS.

Menurutnya, kedua faktor tersebut menjadi tantangan besar bagi pergerakan emas dalam jangka pendek.

Sejumlah analis juga mulai melihat adanya perubahan tren setelah emas mencatat lonjakan luar biasa sepanjang 2025. Sebagai catatan, harga emas melonjak sekitar 64% sepanjang tahun lalu, menjadi kenaikan tahunan terbesar dalam 46 tahun.

Namun kini level teknikal di sekitar USD4.446 per troy ounce dianggap sebagai area resistensi penting yang akan menentukan arah pergerakan berikutnya.

Prospek Jangka Panjang Masih Menarik

Meski menghadapi tekanan dalam jangka pendek, sejumlah pengamat pasar tetap optimistis terhadap prospek emas dalam jangka panjang.

Pembelian agresif oleh bank sentral berbagai negara, meningkatnya defisit fiskal global, serta ketidakpastian geopolitik dinilai masih menjadi faktor pendukung yang kuat bagi harga logam mulia tersebut.

Data pasar menunjukkan ETF berbasis emas mengalami arus keluar sebesar 16 ton sepanjang Mei dan tambahan 7 ton pada pekan pertama Juni.

Namun, analis memperkirakan harga emas berpotensi pulih apabila ketegangan di Timur Tengah mereda dan harga minyak kembali stabil.

Untuk saat ini, arah kebijakan suku bunga AS dan pergerakan dolar masih menjadi faktor utama yang akan menentukan nasib harga emas di pasar global.

Statement:

Aakash Doshi, Kepala Strategi Emas dan Logam State Street Investment Management

“Dalam jangka waktu yang sangat pendek, pasar harus mencerna risiko kenaikan suku bunga The Fed dan penguatan dolar.”

Adrian Ash, Kepala Riset BullionVault

“Sementara para analis terpaku pada kekacauan dunia baru yang diciptakan Trump, kini tampaknya keuntungan besar tahun lalu sebagian besar didorong oleh ekspektasi penurunan suku bunga.”

Nicky Shiels, Kepala Strategi Logam MKS PAMP

“Sebelum muncul lebih banyak faktor pendukung dan katalis strategi, harga emas kemungkinan masih bergerak terbatas dalam beberapa bulan ke depan.”

3 Poin Penting:

  • Harga emas terkoreksi sekitar 25 persen setelah mencetak rekor USD5.595 per troy ounce pada Januari 2026.
  • Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan penguatan dolar AS menjadi faktor utama yang menekan harga logam mulia.
  • Prospek jangka panjang emas masih positif berkat dukungan pembelian bank sentral, defisit fiskal global, dan ketidakpastian geopolitik.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan