Honda dikabarkan tengah menyiapkan langkah baru di pasar otomotif global dengan menghadirkan pikap hasil rebadge dari Mitsubishi Triton.
Kendaraan tersebut direncanakan diproduksi di Thailand dan dipasarkan di Asia Tenggara serta sejumlah wilayah lain paling cepat pada 2028.
Jika terealisasi, strategi ini akan menjadi langkah menarik bagi Honda yang selama puluhan tahun dikenal lebih banyak mengembangkan kendaraan dengan platformnya sendiri.
Laporan Nikkei Asia pada Sabtu (10/10/2026) menyebutkan bahwa rencana tersebut menjadi rebadge pertama Honda dalam sekitar tiga dekade, di luar kendaraan yang dikembangkan bersama General Motors.
Pada era 1990-an, Honda pernah mengambil basis kendaraan SUV dari Isuzu untuk dipasarkan dengan mereknya sendiri.
Meski kabar kerja sama ini mulai menjadi perhatian industri, Honda dan Mitsubishi Motors belum memberikan pernyataan resmi mengenai rencana tersebut.
Honda Siapkan Pikap Berbasis Mitsubishi Triton
Mitsubishi Triton dipilih karena memiliki karakter sebagai pikap tangguh dengan konstruksi sasis tangga atau ladder frame. Struktur tersebut dikenal cocok untuk kendaraan yang membutuhkan kemampuan angkut, ketahanan, serta performa di medan berat.
Triton juga mencatat penjualan sekitar 130.000 unit sepanjang 2025, memperlihatkan bahwa model ini memiliki basis pasar yang dapat menjadi modal bagi Honda untuk memperluas portofolio kendaraannya.
Berbeda dengan Mitsubishi, Honda belum memiliki pikap berstruktur ladder frame dalam lini produknya. Pikap Honda Ridgeline yang dipasarkan di Amerika Utara menggunakan konstruksi unibody berbasis SUV Honda Pilot.
Karena itu, mengambil basis Triton bisa menjadi cara yang lebih praktis bagi Honda untuk memasuki segmen pikap konvensional tanpa harus membangun platform baru dari awal.
Produksi versi Honda direncanakan berlangsung di pabrik Mitsubishi Motors di Laem Chabang, Thailand, dengan pemasaran melalui jaringan dealer Honda.
Strategi Rebadge untuk Menekan Biaya Produksi
Rebadge merupakan strategi ketika sebuah produsen memasarkan kendaraan yang dikembangkan oleh perusahaan lain dengan merek dan identitas desain tertentu.
Pendekatan ini memungkinkan produsen memperluas pilihan produk tanpa harus menanggung seluruh biaya riset, pengembangan platform, dan pembangunan fasilitas produksi baru.
Strategi serupa telah dilakukan sejumlah pabrikan, termasuk Nissan dan Mitsubishi Motors yang berbagi model, serta Toyota yang memasarkan kendaraan berbasis produk Suzuki dan Daihatsu.
Bagi Honda, strategi ini dinilai semakin relevan ketika biaya pengembangan teknologi otomotif terus meningkat. Persaingan di industri kendaraan listrik, perangkat lunak, dan sistem bantuan pengemudi menuntut investasi besar.
Dengan memanfaatkan platform Triton, Honda berpeluang mengisi segmen pikap yang belum dimilikinya sekaligus menghemat waktu pengembangan.
Namun, detail mengenai perbedaan desain, spesifikasi mesin, fitur, dan harga pikap versi Honda masih belum diumumkan secara resmi.
Tekanan Merek China Dorong Kerja Sama Jepang
Persaingan dengan produsen otomotif China menjadi salah satu faktor yang mendorong pabrikan Jepang mempertimbangkan kolaborasi lebih erat.
Selama bertahun-tahun, merek Jepang mendominasi pasar otomotif di Thailand dan Indonesia.
Namun, pangsa gabungan mereka disebut turun dari sekitar 90% menjadi 70–80% seiring meningkatnya minat konsumen terhadap kendaraan listrik, termasuk produk dari BYD dan merek China lainnya.
Tekanan pasar juga terlihat dari penjualan gabungan Honda di Thailand, Malaysia, dan Indonesia pada Januari hingga Agustus 2026 yang dilaporkan turun sekitar 20% secara tahunan menjadi sekitar 110.000 unit.
Dalam situasi tersebut, pikap dapat menjadi peluang karena peralihan ke elektrifikasi cenderung lebih kompleks pada kendaraan yang membutuhkan daya angkut dan kemampuan derek tinggi.
Kerja sama dengan Mitsubishi memungkinkan Honda memperluas pilihan kendaraan tanpa harus mengembangkan seluruh teknologi dan platform secara mandiri.
Mitsubishi Diuntungkan, Kolaborasi Jepang Makin Strategis
Kerja sama ini juga berpotensi menguntungkan Mitsubishi Motors melalui peningkatan pemanfaatan fasilitas produksinya di Thailand.
Pabrik Mitsubishi di negara tersebut memiliki kapasitas sekitar 386.000 unit per tahun, tetapi produksinya pada 2025 dilaporkan hanya sedikit di atas 170.000 unit.
Kehadiran pesanan tambahan dari Honda berpotensi membantu meningkatkan utilisasi pabrik dan memperkuat efisiensi operasional Mitsubishi.
Takaki Nakanishi dari Nakanishi Research Institute menilai Honda dan Mitsubishi Motors dapat memperoleh keuntungan melalui kolaborasi. Ia menyebut kedua perusahaan “bisa saling menutupi kelemahan masing-masing.”
Mitsubishi memiliki pengalaman dalam kendaraan off-road dan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV), sedangkan Honda dapat memanfaatkan kemampuan tersebut untuk melengkapi lini produknya.
Pembicaraan kerja sama Honda, Nissan, dan Mitsubishi yang sempat melambat juga kembali mendapat dorongan di tengah persaingan merek China, termasuk melalui kesepakatan Honda dan Nissan pada Agustus 2026 untuk bekerja sama dalam teknologi software-defined vehicle (SDV).
3 Poin Penting:
- Pikap Honda berbasis Triton: Honda dikabarkan akan memasarkan pikap hasil rebadge Mitsubishi Triton di Asia Tenggara dan wilayah lain paling cepat pada 2028.
- Produksi di Thailand: Kendaraan tersebut direncanakan dibuat di pabrik Mitsubishi Motors di Laem Chabang dan dijual melalui dealer Honda.
- Hadapi persaingan merek China: Kerja sama berpotensi menekan biaya pengembangan Honda sekaligus meningkatkan pemanfaatan kapasitas produksi Mitsubishi.



