Ide Lawas yang Jadi Kenyataan: Fasilitas Penyimpanan Udara Cair Pertama Siap Beroperasi

Sabtu, 22 November 2025

Pepa pengolah energi udara cair (istimewa)

Guys, Bumi kita sedang menghadapi tantangan besar soal perubahan iklim, dan energi terbarukan adalah solusinya. Masalahnya, energi terbarukan kayak surya dan angin itu intermittent alias enggak teratur. Kadang listriknya kelebihan (bisa merusak jaringan), kadang kekurangan (bisa bikin padam).

Nah, setelah 50 tahun cuma jadi gagasan, solusi kece hadir: fasilitas penyimpanan energi udara cair siap beroperasi pertama kalinya secara komersial pada tahun 2026!

Selama ini, kita udah kenal baterai litium dan PLTA terpompa sebagai back up energi bersih. Tapi, teknologi udara cair ini menawarkan opsi baru yang lebih variatif, apalagi kalau di suatu negara lagi minim matahari atau angin.

Pembangunan lokasi fasilitas skala komersial pertama ini berlokasi di dekat desa Carrington, Manchester, Inggris, yang digarap oleh pengembang Highview Power. Mereka yakin, teknologi ini akan mengurangi ketergantungan kita pada bahan bakar fosil.

Cara Kerja Super Cool Udara Cair

Ide dasar teknologi ini memang sudah ada sejak 1977, tapi baru serius digarap sekarang. Prosesnya melibatkan tiga tahap super cool: pertama, udara diambil dan dibersihkan.

Kedua, udara dikompres berulang kali hingga tekanan sangat tinggi, yang menghasilkan panas.

Ketiga, udara didinginkan sampai jadi cair menggunakan penukar panas. Udara cair inilah yang disimpan dalam tangki besar.

Shaylin Cetegen, seorang insinyur kimia di Massachusetts Institute of Technology (MIT), menjelaskan kunci efisiensinya adalah heat recovery atau pemulihan panas.

Panas yang dihasilkan saat kompresi udara (tahap kedua) digunakan lagi untuk membantu mengembalikan udara cair.

Tantangan Biaya dan Masa Depan Jaringan Listrik

Saat jaringan listrik butuh energi tambahan, udara cair itu dipompa keluar, diuapkan lagi menjadi gas, dan gas ini digunakan untuk menggerakkan turbin sehingga menghasilkan listrik.

Pabrik di Carrington ini diprediksi mampu menyimpan 300 megawatt-jam (MWh) listrik, cukup untuk menutupi kekurangan pasokan bagi sekitar 480.000 rumah tangga.

Meski menjanjikan, tantangannya ada pada biaya. Cetegen mengakui bahwa penyimpanan energi secara ekonomi cukup menantang saat ini, apalagi di wilayah yang sumber energi terbarukan di jaringannya belum cukup.

Namun, ia menekankan bahwa dengan dukungan kebijakan yang tepat—misalnya subsidi biaya modal awal—proyek ini bisa layak secara ekonomi.

Apalagi, udara cair punya biaya penyimpanan rata-rata yang jauh lebih murah (sekitar USD45 per MWh) dibandingkan hidro pompa (USD120) atau baterai litium-ion (USD175).

Jaringan Listrik Global Wajib Berubah

Richard Butland, CEO Highview Power, optimis proyek Manchester akan memberikan keuntungan yang baik dan diikuti proyek-proyek yang lebih besar (seperti di Skotlandia dengan kapasitas 2,5 GWh).

Dia memprediksi jaringan listrik global akan bergantung pada campuran teknologi penyimpanan. Baterai efisien tapi perlu diganti 10 tahun sekali, PLTA terpompa bagus tapi cuma bisa di lokasi tertentu, dan udara cair unggul karena bisa menyimpan energi lebih lama dengan kerugian minimal.

Butland menyimpulkan: “Kami sedang membangun ulang semua jaringan listrik secara global berdasarkan pembangkit listrik baru.”

Ini artinya, seiring transisi hijau, desain jaringan listrik harus dirombak total. Dan kemungkinan besar, penyimpanan energi udara cair akan menjadi bagian penting dari masa depan energi bersih kita.

Statement:

Shaylin Cetegen, Insinyur Kimia dari MIT

“Tanpa siklus pemulihan panas ini, efisiensi proses mendekati 50%, tetapi ketika kita menerapkan pemulihan panas, kita dapat mencapai lebih dari 60%, bahkan mendekati 70% efisiensi.”

“Meskipun tidak ada metode penyimpanan energi yang cukup ekonomis saat ini tanpa dukungan kebijakan, penyimpanan energi udara cair merupakan opsi yang sangat efisien biaya untuk penyimpanan skala besar.”

3 Poin Penting

  1. Operasi Komersial Pertama 2026: Fasilitas penyimpanan energi udara cair skala komersial pertama (setelah digagas 50 tahun lalu) akan mulai beroperasi di Manchester, Inggris, pada tahun 2026 sebagai solusi untuk masalah intermitensi energi terbarukan.

  2. Efisiensi dan Mekanisme: Teknologi ini melibatkan proses pengambilan, kompresi, dan pendinginan udara hingga menjadi cair untuk disimpan, dengan kunci efisiensi mencapai 60%-70% berkat sistem heat recovery (pemulihan panas).

  3. Biaya Lebih Murah dan Peran Strategis: Meskipun membutuhkan dukungan kebijakan awal, penyimpanan udara cair dinilai Butland dan Cetegen memiliki biaya penyimpanan rata-rata yang lebih murah dibandingkan hidro pompa dan baterai litium-ion, menjadikannya komponen penting dalam desain ulang jaringan listrik global untuk transisi energi hijau.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir