Masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar di Sukabumi, Jawa Barat, menonjolkan tradisi pertanian adat yang telah diwariskan leluhur selama 640 tahun.
Dengan menjadikan padi sebagai hal sakral, mereka berhasil menciptakan sistem ketahanan pangan yang tangguh, bahkan di tengah ancaman krisis pangan dan perubahan iklim.
Keberhasilan mereka bersumber dari ketaatan pada sistem pertanian tradisional. Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar menolak bibit modern dan setia menggunakan bibit lokal yang sesuai dengan kondisi geografis.
Mereka juga hanya menanam padi sekali setahun, dengan serangkaian upacara adat yang mengiringi setiap tahapan, mulai dari penanaman hingga panen.
Padi yang dihasilkan tidak diperjualbelikan, melainkan disimpan dalam lumbung (leuit) sebagai cadangan pangan.
Ada 8.000 Lumbung Padi
Menurut data, sistem ini membuat Kasepuhan Ciptagelar memiliki sekitar 8.000 lumbung padi dengan cadangan beras yang bisa bertahan hingga tiga tahun.
Cadangan ini jauh lebih unggul dibandingkan rata-rata cadangan beras nasional.
Dosen Universitas Brawijaya, Susilo Koesdiwanggo, bahkan mencatat bahwa produksi padi mereka stabil dan justru melonjak saat terjadi fenomena El Nino pada tahun 2015, membuktikan ketahanan pangan mereka di tengah perubahan iklim.
Tak Alergi Teknologi
Meski memegang teguh adat, Kasepuhan Ciptagelar tidak anti-teknologi. Mereka membiarkan sebagian besar lahan menjadi hutan untuk menjaga pasokan air, yang kemudian digunakan untuk menghidupkan lebih dari 10 turbin mikrohidro.
Listrik dari turbin ini menerangi sekitar 6.000 rumah warga, menunjukkan harmonisasi antara kearifan lokal dan pemanfaatan teknologi ramah lingkungan.
Tradisi unik ini menjadi model solusi inovatif untuk tantangan pangan modern. Dengan menyimpan cadangan pangan dalam bentuk gabah kering di leuit, mereka berhasil menjaga kualitas dan daya tahan beras lebih lama.
Sebuah praktik yang dinilai bisa diadopsi oleh lembaga seperti Bulog untuk mengelola cadangan pangan nasional.


