Search

KEMKON 2026 di Sarongge Cianjur, Ajak Generasi Muda Belajar Konservasi Alam Lewat Aksi Nyata

Memperingati hari jadi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sarongge Ranacage, Desa Ciputri, Kabupaten Cianjur, sejumlah komunitas lingkungan menggelar Kemah Konservasi Alam (KEMKON) pada 24–25 Oktober.

Kegiatan ini diselenggarakan melalui kolaborasi Pokdarwis Sarongge Ranacage, Sukarelawan Montana, Relawan Evergreen, serta PAL (Peduli Alam Lomatmala).

Berlangsung selama dua hari satu malam, kegiatan tersebut dipusatkan di Camping Ground Sarongge dan Legok Majalaya Camp dengan melibatkan peserta dari berbagai sekolah di wilayah Kabupaten Cianjur.

KEMKON tidak sekadar menjadi agenda perkemahan untuk memperingati hari jadi komunitas.

Kegiatan ini dirancang sebagai ruang belajar terbuka agar peserta mengenal fungsi hutan, manfaat hutan konservasi, pengelolaan sampah organik dan anorganik, hingga praktik pembuatan ecobrick.

Peserta berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP, MTs, MAN, hingga SMA.

Pendekatan belajar langsung di alam diharapkan membuat generasi muda tidak hanya memahami teori lingkungan, tetapi juga melihat persoalan konservasi dari dekat.

Mengenalkan Fungsi Hutan dan Pentingnya Konservasi

Dalam kegiatan tersebut, materi konservasi disampaikan oleh Iwan Dzilonk Montana, Achmad Zaeni Takbir, dan Hery Trijoko.

Ketiganya berbagi pengetahuan mengenai fungsi hutan, manfaat kawasan konservasi, serta pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem.

Materi ini menjadi penting karena hutan bukan sekadar kawasan hijau atau tempat wisata, melainkan bagian dari sistem alam yang berperan menjaga sumber air, habitat satwa, kesuburan tanah, dan keseimbangan lingkungan.

Namun, edukasi lingkungan tentu tidak cukup jika hanya berhenti pada penyampaian materi. Peserta perlu memahami bahwa kerusakan hutan, pencemaran sungai, dan penumpukan sampah merupakan persoalan yang saling berkaitan.

Karena itu, kegiatan seperti KEMKON dapat menjadi langkah awal membangun kesadaran, asalkan pengetahuan yang diperoleh diterapkan setelah peserta kembali ke sekolah dan lingkungan tempat tinggal.

Kebiasaan sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi plastik sekali pakai, dan menjaga sumber air bisa menjadi bentuk konservasi yang nyata.

Belajar Mengelola Sampah Lewat Praktik Ecobrick

Selain materi tentang hutan, peserta juga mendapatkan edukasi pengelolaan sampah organik dan anorganik.

Salah satu praktik yang diperkenalkan adalah pembuatan ecobrick, yaitu pemanfaatan sampah plastik bersih dan kering yang dipadatkan ke dalam botol untuk digunakan sebagai bahan produk tertentu.

Kegiatan ini memberi pemahaman bahwa sampah perlu dipilah sejak awal dan tidak semuanya harus berakhir di tempat pembuangan. Peserta juga diajak mengenali perbedaan jenis sampah serta dampaknya terhadap lingkungan.

Meski begitu, ecobrick sebaiknya tidak dipandang sebagai solusi utama untuk persoalan sampah plastik.

Pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, pemilahan sampah dari sumbernya, penggunaan kembali barang yang masih layak, serta pengolahan sampah sesuai jenisnya tetap harus menjadi prioritas.

Sekolah dan komunitas dapat melanjutkan edukasi ini melalui program bank sampah, kegiatan membawa wadah makan sendiri, atau jadwal rutin membersihkan lingkungan.

Dengan begitu, hasil pembelajaran selama perkemahan tidak hanya menjadi pengalaman sesaat.

Pelepasliaran Satwa dan Penanaman Pohon Jadi Penutup

Rangkaian KEMKON juga diisi dengan permainan edukasi lingkungan yang dikemas secara interaktif.

Kegiatan kemudian ditutup dengan sejumlah aksi konservasi, yakni pelepasliaran burung pipit yang disebut sebagai burung endemik dalam materi kegiatan, pelepasliaran ikan nilem di bantaran Sungai Legok Majalaya, serta penanaman pohon.

Aksi tersebut menjadi kesempatan bagi peserta untuk memahami bahwa konservasi tidak hanya berbicara tentang menjaga hutan, tetapi juga merawat habitat dan keberlangsungan makhluk hidup di dalamnya.

Meski demikian, kegiatan pelepasliaran satwa perlu dilakukan dengan memperhatikan aspek ilmiah dan ketentuan konservasi. Jenis, asal-usul, kondisi kesehatan, serta kesesuaian habitat satwa harus dipastikan sebelum dilepas ke alam.

Hal serupa berlaku untuk penanaman pohon: pemilihan jenis tanaman perlu disesuaikan dengan kondisi ekosistem setempat, bukan sekadar mengejar jumlah bibit yang ditanam.

Pendampingan dari pihak yang memahami konservasi dan pengelola kawasan menjadi penting agar aksi lingkungan benar-benar memberi manfaat jangka panjang.

KEMKON Perlu Berlanjut Menjadi Gerakan Lingkungan

Kolaborasi Pokdarwis Sarongge Ranacage, Sukarelawan Montana, Relawan Evergreen, dan PAL menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan dapat dibangun melalui kerja sama komunitas, relawan, sekolah, dan masyarakat.

Kehadiran peserta dari berbagai jenjang pendidikan juga membuka peluang untuk menumbuhkan kepedulian sejak dini.

Namun, tantangan berikutnya adalah menjaga agar semangat yang muncul selama dua hari satu malam tersebut tidak hilang setelah kegiatan selesai.

Perlu ada tindak lanjut yang terukur, seperti kelompok pelajar peduli lingkungan, pemantauan pohon yang ditanam, dan kegiatan rutin menjaga kebersihan sungai.

Pada akhirnya, KEMKON di Sarongge dan Legok Majalaya menjadi pengingat bahwa menjaga alam bukan hanya tanggung jawab petugas kawasan konservasi atau komunitas pecinta lingkungan.

Masyarakat, sekolah, wisatawan, dan generasi muda memiliki peran masing-masing. Kegiatan edukasi seperti ini patut diapresiasi, tetapi keberhasilannya perlu dilihat dari perubahan perilaku dan keberlanjutan aksi setelah acara berakhir.

Hutan yang terjaga, sungai yang bersih, serta habitat satwa yang terlindungi tidak lahir dari satu kegiatan saja, melainkan dari kebiasaan bersama yang dilakukan secara konsisten.

3 Poin Penting:

  • Edukasi konservasi alam: KEMKON digelar pada 24–25 Oktober di Camping Ground Sarongge dan Legok Majalaya Camp dengan materi fungsi hutan, kawasan konservasi, serta pengelolaan sampah.
  • Melibatkan generasi muda: Peserta berasal dari berbagai sekolah di Kabupaten Cianjur, mulai dari SD hingga SMA, dengan pemateri Iwan Dzilonk Montana, Achmad Zaeni Takbir, dan Hery Trijoko.
  • Aksi nyata lingkungan: Kegiatan ditutup dengan pelepasliaran burung pipit dan ikan nilem serta penanaman pohon. Tindak lanjut dan pemantauan diperlukan agar manfaat konservasi berkelanjutan.
Bagikan artikel:

Artikel Terkait

Kategori

PODCAST