Lahan bekas tambang sering kali dianggap sebagai “tanah mati” yang mustahil untuk dipulihkan dalam waktu singkat.
Namun, sebuah gebrakan inspiratif datang dari Agus Affianto, atau yang akrab disapa Picoez, seorang dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Ia berhasil menyulap area pasir bekas tambang timah (tailing) yang gersang di Belitung Timur menjadi lahan hijau nan produktif.
Padahal, secara alami, lahan ekstrem tersebut diprediksi butuh waktu hingga 20 tahun hanya untuk menumbuhkan rumput liar.
Picoez menceritakan bahwa tantangan di lokasi dekat “SD Laskar Pelangi” tersebut benar-benar di luar nalar.
Suhu pasir di sana bisa mencapai 62,4 derajat Celcius pada pagi hari, sebuah kondisi yang nyaris mustahil bagi tanaman untuk bertahan hidup.
Belum lagi karakteristik pasir yang tidak bisa menyerap air, membuat tanah menjadi asam saat hujan turun.
Namun, dengan riset dan pengabdian yang gigih, Picoez dan tim membuktikan bahwa alam bisa “sembuh” lebih cepat dengan intervensi manusia yang tepat.
Metode Kompos Blok: Rahasia Menaklukkan Suhu Ekstrem
Kunci keberhasilan rehabilitasi ini terletak pada penggunaan metode kompos blok.
Alih-alih menanam secara konvensional, Picoez menggunakan media tanam awal berupa kompos yang dipadatkan untuk menjaga kelembapan tanah di tengah panas yang menyengat.
Strategi ini terbukti ampuh membuat bibit buah naga, kelengkeng, cemara, hingga jambu mampu bertahan hidup dan mulai membentuk ekosistem baru di atas lahan seluas 10 hektar tersebut.
Picoez membagi proses ini ke dalam empat tahap utama: menanam asal hidup, memastikan tanaman bertahan lewat monitoring intens, meningkatkan kualitas lewat pemupukan, hingga akhirnya memastikan tanaman berbuah.
Salah satu trik unik yang ia gunakan adalah menjaga kelembapan batang pohon menggunakan potongan batang pisang saat musim kemarau panjang.
Pendekatan yang tidak biasa ini menjadi kunci mengapa tanaman bisa tetap tegar meski cuaca sedang tidak bersahabat.
Manusia dan Alam: Sinergi di Balik Pemulihan Lingkungan

Keberhasilan proyek ini tidak hanya soal teknis pertanian, tapi juga aspek sosial yang menyentuh hati.
Picoez menekankan bahwa “pra-rehabilitasi” atau mempersiapkan masyarakat lokal jauh lebih fundamental daripada sekadar menanam pohon.
Ia mengintegrasikan tanaman sayuran dalam demplot untuk menarik minat warga yang selama ini bergantung pada sektor tambang, agar mereka melihat potensi ekonomi baru dari lahan yang sudah dipulihkan tersebut.
Kisah inspiratif juga datang dari warga lokal seperti Nek Inah, seorang lansia yang tetap semangat menanam semangka meski hasil panennya sempat dicuri.
Semangat optimis dari warga seperti inilah yang menjadi bensin bagi Picoez dan tim untuk terus bergerak.
Baginya, melihat lahan kembali hijau dan memberikan manfaat nyata bagi perut masyarakat setempat adalah kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan materi, membuktikan bahwa niat baik untuk lingkungan tidak akan pernah sia-sia.
Percepatan Recovery dan Harapan untuk Hutan Masa Depan
Melalui campur tangan manusia yang terencana, proses pemulihan alam yang seharusnya memakan waktu puluhan tahun kini bisa dipangkas secara signifikan.
Metode yang dikembangkan Picoez bahkan telah diadaptasi oleh berbagai pihak, termasuk pemenang penghargaan Kalpataru di wilayah lain.
Ini menjadi bukti nyata bahwa model rehabilitasi dari Belitung Timur ini memiliki kredibilitas tinggi untuk diterapkan pada lahan-lahan bekas tambang lainnya di seluruh Indonesia.
Menutup refleksinya terkait Hari Hutan Sedunia, Picoez berharap pemerintah tidak hanya melihat hutan sebagai komoditas ekonomi semata.
Hutan adalah penyedia jasa lingkungan yang menjaga keseimbangan hidup kita semua.
Dengan keberhasilan di Belitung Timur, ia mengajak semua pihak untuk lebih peduli pada upaya penyembuhan bumi, karena dengan sedikit bantuan manusia yang berkelanjutan, lahan yang paling rusak sekalipun bisa kembali memberikan kehidupan.
Statement:
Agus Affianto – Picoez (Dosen Fakultas Kehutanan UGM)
“Kita tidak bisa menghadapi keadaan ekstrem dengan pendekatan yang biasa-biasa saja dan dalam waktu yang singkat. Yang kita lakukan itu adalah bagaimana caranya alam tersebut bisa recovery dengan bantuan manusia untuk mempercepat dia memperbaiki diri. Melihat tanaman tumbuh dan memberikan manfaat bagi masyarakat merupakan kebahagiaan tersendiri.”
3 Poin Penting:
-
Dosen UGM berhasil merehabilitasi lahan bekas tambang timah ekstrem di Belitung Timur menggunakan metode kompos blok yang inovatif.
-
Proses rehabilitasi dilakukan melalui empat tahap sistematis untuk memastikan tanaman tidak hanya hidup, tapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi warga.
-
Keberhasilan proyek ini bergantung pada sinergi antara teknik kehutanan yang tepat dan pelibatan aktif masyarakat lokal (aspek sosial).
[gas/man]
![Prof. Biruté Mary Galdikas [dok. instagram]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/Kabar-duka-mendalam-bagi-dunia-konservasi-dan-masyarakat-Kalimantan-Tengah.-Prof.-Birute-Mary-G-e1776057669975-300x190.webp)


