Pedagang Minta Kompensasi yang Adil Dampak Syuting Film Lisa BLACKPINK

Rabu, 4 Februari 2026

Pedagang kota tua (Antara)

Kawasan Kota Tua Jakarta mendadak jadi pusat perhatian dunia setelah terpilih menjadi lokasi syuting film internasional bertajuk Extraction: Tygo. Kehadiran Lisa BLACKPINK sebagai salah satu bintang utamanya tentu bikin heboh jagat maya dan para penggemar di tanah air.

Namun, di balik kemeriahan produksi film besar ini, ada suara-suara dari para pedagang lokal yang merasa terdampak oleh penutupan sejumlah titik strategis di ikon sejarah Jakarta tersebut.

Sejak dimulainya proses syuting pada 1 Februari hingga 7 Februari 2026, aktivitas ekonomi di sekitar Jalan Cengkeh mengalami perubahan drastis.

Penutupan jalan dan sterilisasi area demi kelancaran produksi film aksi tersebut membuat akses pembeli ke lapak pedagang menjadi terbatas.

Kondisi ini memicu keresahan para pelaku usaha mikro yang sehari-harinya menggantungkan hidup dari kunjungan wisatawan di kawasan Kota Tua.

Tuntutan Pemerataan Kompensasi dari Pemprov DKI Jakarta

Para pedagang yang terdampak secara langsung maupun tidak langsung menuntut agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memberikan uang kompensasi secara merata.

Mereka merasa bahwa kebijakan sterilisasi area syuting sangat berpengaruh pada pendapatan harian mereka yang menurun signifikan.

Aspirasi ini muncul karena adanya kekhawatiran bahwa bantuan atau ganti rugi hanya akan menyasar segelintir pihak, sementara banyak pedagang kecil lainnya terabaikan.

Situasi di Jalan Cengkeh kini memang tampak berbeda dari biasanya dengan pengamanan ketat dan peralatan syuting yang memenuhi area.

Meskipun bangga wilayah mereka menjadi lokasi film kelas dunia, para pedagang menegaskan bahwa urusan perut tidak bisa menunggu.

Mereka berharap ada koordinasi yang lebih transparan antara pihak penyelenggara produksi, dinas terkait, dan komunitas pedagang agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan secara finansial.

Dampak Sterilisasi Area dan Harapan Solusi Win-win

Penutupan akses jalan selama satu minggu penuh dianggap sebagai durasi yang cukup lama bagi para pedagang yang mengandalkan perputaran uang harian.

Beberapa lapak yang berada tepat di zona merah syuting bahkan harus tutup total demi menjaga privasi dan ketenangan proses pengambilan gambar.

Hal inilah yang mendasari kuatnya tuntutan agar Pemprov DKI segera turun tangan memberikan solusi nyata berupa kompensasi tunai yang proporsional.

Di sisi lain, kehadiran tim produksi film Extraction: Tygo sebenarnya menjadi ajang promosi wisata yang luar biasa bagi Jakarta di mata dunia.

Oleh karena itu, para pedagang berharap pemerintah bisa menemukan solusi win-win di mana promosi wisata tetap jalan, namun kesejahteraan warga lokal tetap terjaga.

Keadilan dalam pembagian dana kompensasi dianggap sebagai bentuk penghargaan pemerintah terhadap masyarakat yang telah mendukung kelancaran proyek internasional ini.

Momentum Kota Tua Mendunia di Tengah Protes Warga

Syuting film yang melibatkan Lisa BLACKPINK ini memang memberikan vibe yang berbeda bagi Kota Tua. Banyak anak muda dan kolektor konten digital yang rela datang jauh-jauh hanya untuk sekadar melihat suasana set film dari kejauhan.

Namun, fenomena ini tidak serta-merta meningkatkan penjualan pedagang jika akses menuju lapak mereka tetap ditutup atau dialihkan terlalu jauh dari pusat keramaian.

Pihak komunitas pedagang Kota Tua berencana untuk melakukan audiensi lebih lanjut jika permintaan mereka tidak segera direspons secara serius oleh otoritas terkait. Mereka menekankan bahwa dukungan terhadap industri kreatif tidak boleh mengorbankan ekonomi kerakyatan.

Hingga saat ini, suasana di lokasi masih terpantau sibuk dengan jadwal syuting yang padat, sementara para pedagang tetap setia menunggu kepastian mengenai nasib pendapatan mereka.

3 Poin Penting:

  • Pelaksanaan syuting film Extraction: Tygo yang dibintangi Lisa BLACKPINK di Jalan Cengkeh, Kota Tua, berdampak pada menurunnya pendapatan pedagang lokal.

  • Pedagang menuntut Pemprov DKI Jakarta untuk memberikan uang kompensasi secara merata dan transparan selama masa sterilisasi area pada 1-7 Februari 2026.

  • Komunitas pedagang berharap adanya keseimbangan antara dukungan terhadap promosi wisata internasional dengan perlindungan ekonomi bagi pelaku usaha mikro.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam Terakhir

Sepekan Terakhir