Search
Search
Search

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Ini Dia Biang Keroknya!

Kamis, 1 Oktober 2026

rupiah naik [dok. antara]
rupiah naik [dok. antara]

Nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian setelah sempat menyentuh level Rp18.000 per dolar AS dalam perdagangan intraday. Meski kemudian bergerak menguat, posisi rupiah tersebut masih berada di atas asumsi yang digunakan dalam APBN 2026.

Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang Garuda belum sepenuhnya mereda.

Dinamika rupiah tidak berdiri sendiri. Dari sisi global, ketegangan geopolitik yang ikut mendorong harga minyak dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi.

Pada September 2026, Federal Reserve juga menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75–4,00 persen.

Kondisi suku bunga AS dan ketidakpastian global tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi arus modal serta nilai tukar negara berkembang.

Defisit Transaksi Berjalan Makin Dalam

Di dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada kondisi fundamental ekonomi, salah satunya transaksi berjalan atau current account.

Bank Indonesia mencatat defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II 2026 mencapai USD12,5 miliar atau sekitar 3,3% terhadap produk domestik bruto (PDB), meningkat tajam dibandingkan defisit USD3,6 miliar atau 1 persen PDB pada kuartal sebelumnya.

Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan perkembangan nilai tukar memiliki keterkaitan dengan dinamika defisit transaksi berjalan.

Surplus Perdagangan Barang Menyusut

Salah satu faktor yang membuat defisit transaksi berjalan melebar adalah menyusutnya surplus perdagangan barang.

BI menyebut pelebaran tersebut antara lain dipengaruhi defisit perdagangan migas yang meningkat akibat impor minyak dan harga minyak dunia yang tinggi, serta surplus nonmigas yang lebih rendah karena impor meningkat seiring aktivitas ekonomi domestik.

Dalam data yang disampaikan, surplus neraca barang turun dari sekitar USD8,21 miliar pada kuartal I menjadi USD1,32 miliar pada kuartal II 2026.

Pada periode yang sama, impor barang meningkat jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan ekspor. Situasi ini membuat selisih penerimaan dan pengeluaran dalam transaksi eksternal Indonesia semakin tertekan.

Belanja Jasa ke Luar Negeri Ikut Menekan

Tekanan berikutnya datang dari neraca jasa.

Berdasarkan data BI, defisit transaksi berjalan juga dipengaruhi meningkatnya pembayaran pendapatan primer kepada pihak luar negeri, sementara kondisi neraca jasa turut menjadi bagian dari tekanan eksternal Indonesia.

Secara keseluruhan, pelebaran current account deficit pada kuartal II 2026 tercatat jauh lebih besar dibandingkan kuartal sebelumnya.

Statement:

Ramdan Denny Prakoso, Kepala Departemen Komunikasi BI

“Nilai tukar itu sangat berkait dengan dinamika perkembangan current account defisit Indonesia.”

3 Poin Penting:

  • Rupiah sempat menyentuh Rp18.000 per dolar AS dalam perdagangan intraday, di tengah tekanan dari faktor global dan domestik.
  • Defisit transaksi berjalan kuartal II 2026 mencapai US$12,5 miliar atau 3,3 persen PDB, melebar dari US$3,6 miliar pada kuartal sebelumnya.
  • The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin pada September 2026 menjadi 3,75–4,00 persen, menambah dinamika eksternal yang perlu diperhatikan pasar.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

Rame 24 Jam

Rame Sepekan