Search
Search
Search

Rusia Senggol Amerika Serikat Usai Hantam Iran, Sebut Kesepakatan Damai Kini Ambyar Total

Jumat, 17 Juli 2026

Jet tempur Rusia (AFP)

Langkah militer Amerika Serikat (AS) yang kembali meluncurkan serangan udara ke wilayah Iran langsung memicu reaksi keras dari dunia internasional.

Rusia menjadi salah satu negara yang paling lantang menyuarakan kritik tajam terhadap aksi sepihak tersebut.

Negeri Beruang Putih menilai bahwa agresi terbaru dari Washington ini telah menghancurkan seluruh momentum positif dan upaya diplomasi yang sedang dibangun untuk menyelesaikan sengketa program nuklir Teheran.

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, secara blak-blakan menyebut tindakan sekutu Barat tersebut sebagai bentuk pelanggaran nyata terhadap komitmen internasional.

Serangan rudal dan bom dari militer AS dianggap telah mengoyak memorandum yang baru saja disepakati bersama pemerintahan Presiden Donald Trump sebulan lalu.

Kritik pedas ini disampaikan Lavrov dalam konferensi pers bersama Menlu Chad, Abdoulaye Sabre Fadoul, di Moskow.

Blokade Selat Hormuz Memanas Akibat Saling Serang

Rusia memandang runtuhnya komitmen damai ini sangat disayangkan karena berdampak buruk langsung pada keamanan kawasan dan merusak infrastruktur vital.

Serangan lanjutan dari militer AS dilaporkan telah menghantam puluhan target militer di dekat Selat Hormuz serta area pesisir Iran. Eskalasi yang terus meroket ini membuat situasi geopolitik di Timur Tengah kembali berada dalam fase yang sangat kritis dan berbahaya.

Respons Garang Korps Garda Revolusi Islam Iran

Menanggapi gempuran bertubi-tubi dari pihak Washington, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) langsung mengambil langkah ekstrem dengan mengancam akan menutup total Selat Hormuz.

Jalur perdagangan maritim internasional tersebut akan tetap diblokade rapat sampai aksi militer Amerika Serikat benar-benar dihentikan. IRGC bahkan siap membidik jalur ekspor minyak dan gas yang melayani kebutuhan AS beserta negara-negara sekutunya.

Situasi di lapangan pun makin membara setelah IRGC mengklaim berhasil menghancurkan pusat komando Armada Kelima AS di Bahrain dan pusat logistik di Kuwait.

Di sisi lain, dinamika konflik ini kian meluas setelah militer Yordania terpaksa mengaktifkan sistem pertahanan udara mereka.

Petugas dilaporkan berhasil mencegat dan menembak jatuh tiga rudal balistik milik Iran yang kedapatan melanggar wilayah udara Yordania.

Sanksi Kripto dan Lonjakan Harga Minyak Dunia

Dampak dari perang terbuka ini langsung merembet ke sektor ekonomi global, terutama pada sektor energi dan pasar keuangan.

Harga minyak mentah dunia dilaporkan langsung melonjak tajam setelah Donald Trump memberlakukan kembali blokade terhadap sejumlah pelabuhan utama di Iran.

Kondisi ini diperparah dengan aksi saling balas yang melibatkan pangkalan militer AS di kawasan Teluk.

Langkah represif AS tidak berhenti di sektor fisik, melainkan juga merambah ke ranah digital melalui sanksi finansial. Departemen Keuangan AS secara resmi membekukan dana jumbo senilai lebih dari USD130 juta atau setara dengan Rp2,35 triliun.

Sanksi ekonomi tersebut menyasar beberapa dompet mata uang kripto yang terindikasi kuat memiliki keterikatan langsung dengan Bank Sentral Iran.

Statement:

Sergey Lavrov, Menteri Luar Negeri Rusia

“Yang paling penting adalah ini tidak mengarah pada penyelesaian. Ini menutup pintu yang, tampaknya, telah dibuka oleh memorandum tersebut. Kami melihat ini sebagai pelanggaran terhadap memorandum.”

3 Poin Penting:

  • Rusia melalui Menlu Sergey Lavrov mengecam keras serangan Amerika Serikat ke Iran karena dinilai melanggar memorandum kesepakatan damai yang baru ditandatangani.

  • Konflik kian meruncing setelah IRGC mengancam menutup Selat Hormuz dan mengklaim telah menyerang pusat komando serta logistik militer AS di Bahrain dan Kuwait.

  • Dampak eskalasi militer ini memicu lonjakan harga minyak dunia, sanksi pembekuan dompet kripto Bank Sentral Iran oleh AS, hingga penembakan rudal di wilayah udara Yordania.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

Rame 24 Jam

Rame Sepekan