Search
Search
Search

Status Desil BPS Kini Dihitung Otomatis Lewat Daya Listrik hingga Data Lembaga

Sabtu, 29 Agustus 2026

Ilustrasi cek daya listrik PLN (dok. PLN)

Penetapan tingkat kesejahteraan atau desil warga kini tidak lagi bergantung seutuhnya pada wawancara langsung petugas di lapangan.

Badan Pusat Statistik (BPS) menegaskan bahwa integrasi data administratif dari berbagai lembaga publik, seperti konsumsi daya listrik PLN, kini menjadi variabel penting yang turut memengaruhi posisi desil masyarakat dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

Kepala BPS Kota Mataram, Mohammad Reza Nugraha Kusumowinoto, menyampaikan bahwa perubahan status desil keluarga dapat terjadi secara sistemis.

Penggunaan daya dan tingkat konsumsi listrik rumah tangga menjadi salah satu indikator nyata yang langsung terbaca dalam sistem data terpadu untuk mengukur kondisi ekonomi sebuah keluarga.

Metode PMT dan 41 Variabel Pengukur Tingkat Kesejahteraan

Reza menjelaskan bahwa pemeringkatan kesejahteraan dari desil 1 (paling rendah) hingga desil 10 (paling tinggi) dihitung secara otomatis menggunakan metode Proxy Means Test (PMT).

Sistem canggih ini mengolah sekitar 41 variabel sosial ekonomi keluarga secara komprehensif tanpa campur tangan subjektivitas penilai.

Sifat dari DTSEN sendiri sangat dinamis dan mengalami pembaruan secara berkala.

Data tidak hanya bersumber dari pendataan lapangan seperti Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) atau Registrasi Sosial Ekonomi (Regsosek), melainkan terus diperkaya oleh data administratif lembaga publik guna menghadirkan potret kesejahteraan yang amat presisi.

Dinamika Posisi Relatif dan Kenaikan Daya Listrik PLN

Kenaikan daya listrik atau melonjaknya konsumsi listrik bulanan pelanggan PLN secara otomatis akan terekam oleh sistem dan memengaruhi skor kesejahteraan.

Hal ini membuat status desil keluarga bisa bergeser naik atau turun, tergantung pada rekam jejak konsumsi energi yang tercatat di basis data.

Selain itu, perlu dipahami bahwa desil merupakan pemeringkatan relatif masyarakat secara keseluruhan.

Artinya, posisi desil suatu keluarga bisa saja bergeser meskipun kondisi finansial internal mereka tidak berubah sama sekali, akibat adanya perubahan kondisi ekonomi dari kelompok keluarga lainnya dalam proses pemutakhiran data nasional.

Keakuratan Data dan Pentingnya Kejujuran Informasi Warga

Merespons kekhawatiran publik agar sistem pemeringkatan ini tetap adil bagi warga kurang mampu, pihak BPS menekankan pentingnya kejujuran masyarakat saat menyampaikan informasi.

Transparansi warga saat pendataan menjadi kunci utama agar program bantuan sosial dari pemerintah dapat tersalurkan secara tepat sasaran.

Apabila seluruh 41 variabel dalam sistem diisi berdasarkan kondisi riil di lapangan, pemeringkatan desil dipastikan akan makin akurat.

Langkah integrasi data digital ini diharapkan dapat meminimalisasi kekeliruan data penerima bantuan serta mendorong terciptanya tata kelola kesejahteraan sosial yang makin akuntabel.

Statement:

Mohammad Reza Nugraha Kusumowinoto, Kepala BPS Kota Mataram

“Keterbukaan serta peran serta masyarakat sangat menentukan agar bantuan pemerintah betul-betul diterima oleh yang berhak.”

3 Poin Penting:

  • Integrasi Data Otomatis: Perubahan status desil kesejahteraan warga dalam DTSEN kini dihitung otomatis menggunakan metode Proxy Means Test (PMT) yang mengintegrasikan data administratif lembaga lain, termasuk daya listrik PLN.

  • Pemeringkatan Bersifat Dinamis dan Relatif: Pemeringkatan desil 1 hingga 10 menggunakan 41 variabel komprehensif, di mana posisi suatu keluarga dapat bergeser akibat pemutakhiran data pemakaian energi maupun perubahan kondisi ekonomi keluarga lain.

  • Pentingnya Kejujuran Informasi: BPS mengimbau masyarakat untuk memberikan data sosial ekonomi yang jujur dan riil agar hasil kalkulasi desil makin presisi serta penyaluran bantuan pemerintah tepat sasaran.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

Rame 24 Jam

Rame Sepekan