Rencana eksplorasi dan pengembangan energi bersih di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Ungaran rupanya tak berjalan mulus tanpa riak.
Ribuan warga bersama para pecinta lingkungan mendadak ramai-ramai memasang badan demi menjaga kelestarian kawasan pegunungan yang melingkupi Kabupaten Semarang dan Kabupaten Kendal tersebut.
Gerakan penolakan ini secara masif bergulir lewat platform digital Change.org, di mana warga mengekspresikan kekhawatiran mendalam terhadap kelangsungan ekosistem lokal.
Masyarakat setempat sejatinya tidak bersikap anti terhadap pembangunan fasilitas energi terbarukan maupun inovasi energi bersih secara umum.
Namun, kecemasan utama mereka berakar pada risiko penurunan pasokan air bersih, krisis lingkungan, hingga potensi ancaman terhadap integritas kawasan sejarah dan budaya di sekitar lereng gunung.
Bagi warga sekitar, fungsi ekologis serta nilai kultural Gunung Ungaran merupakan warisan tak ternilai yang dampaknya akan terasa hingga jangka panjang.
Gelombang Petisi Digital yang Kian Meluas
Aksi penolakan tersebut kini termanifestasi nyata lewat dua petisi daring utama yang sukses menggalang dukungan dari ribuan netizen hingga Kamis (3/9/2026).
Petisi pertama yang diinisiasi oleh Bayu Utomo bertajuk “Hentikan proyek panas bumi di Gunung Ungaran” tercatat telah mengumpulkan sebanyak 8.119 tanda tangan.
Dalam pernyataannya, Bayu mengkritisi kebangkitan rencana proyek energi geothermal berkapasitas 55 megawatt tersebut setelah program serupa pada masa lalu sempat mengalami kegagalan.
Tidak hanya itu, aksi penolakan juga diperkuat oleh petisi kedua yang diprakarsai oleh Heru P atas nama aliansi masyarakat peduli lingkungan.
Mengusung judul “Selamatkan Gunung Ungaran : Tolak Pengeboran yang Mengancam Sumber Air dan Masa Depan Kita”, petisi ini menyoroti penurunan volume debit air yang dirasakan warga saat musim kemarau.
Mereka mendesak otoritas terkait untuk meninjau ulang alokasi proyek serta memprioritaskan perlindungan sumber daya alam di atas potensi eksplorasi energi.
Perspektif Pemerintah dan Pengawalan Pengawasan
Menanggapi riak penolakan masyarakat yang makin membesar, pihak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan klarifikasi resmi terkait status operasional terkini di lokasi.
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menegaskan bahwa seluruh proses pengerjaan saat ini masih berada dalam taraf studi komprehensif serta eksplorasi teknis yang terukur, sehingga masyarakat diimbau untuk tidak terburu-buru mengambil kesimpulan tanpa basis data konkrit.
Di samping itu, Dwi Anggia juga menjamin bahwa kalkulasi keselamatan, analisis dampak lingkungan, hingga pelestarian situs cagar budaya seperti Kompleks Candi Gedong Songo tetap menjadi prioritas utama.
Mengingat eskalasi isu yang kian mencuat di ruang publik, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Tengah turut mengambil langkah proaktif dengan merencanakan agenda pertemuan khusus bersama Kementerian ESDM guna mendiskusikan dinamika proyek geotermal ini secara komprehensif.
Ancaman Kelestarian Cagar Budaya dan Keanekaragaman Hayati
Sorotan kritis warga tak lepas dari fakta bahwa lereng Gunung Ungaran merupakan kawasan bagi Candi Gedong Songo, yaitu salah satu kompleks candi Hindu tertua di Jawa Tengah.
Pembuat petisi mengingatkan bahwa keberadaan infrastruktur fisik proyek panas bumi berisiko mengganggu keutuhan fisik candi serta merusak daya tarik pariwisata heritage yang selama ini menjadi penggerak ekonomi warga lokal.
Lebih dari sekadar situs bersejarah dan objek wisata romantis, bentang alam Gunung Ungaran juga berfungsi sebagai benteng pertahanan ekologis terakhir bagi satwa liar yang dilindungi.
Hutan rimba di kawasan tersebut tercatat menjadi habitat alami bagi fauna langka seperti burung Julang Emas dan Trenggiling.
Kerusakan pada ekosistem hutan akibat aktivitas pengeboran dikhawatirkan bakal memicu dampak domino yang merusak rantai keanekaragaman hayati secara permanen.
Statement:
Dwi Anggia, Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)
“Pengembangan proyek saat ini masih berada pada tahap eksplorasi dan studi kelayakan.”
“Masih terdapat sejumlah tahapan yang harus dilalui, dan setiap tahapan harus didasarkan pada data, kajian teknis, aspek lingkungan, perizinan, serta pertimbangan sosial masyarakat. Eksplorasi dilakukan untuk memastikan potensi panas bumi sekaligus menilai kelayakan pengembangannya.”
3 Poin Penting:
-
Aksi Penolakan Masif: Ribuan warga menandatangani dua petisi daring di Change.org untuk menolak proyek geothermal Gunung Ungaran demi melindungi sumber air, lingkungan, dan cagar budaya.
-
Respon Resmi ESDM: Kementerian ESDM menyatakan proyek masih dalam tahap eksplorasi dan studi kelayakan dengan mempertimbangkan kajian teknis, keselamatan, dan keberadaan Candi Gedong Songo.
-
Kekhawatiran Ekologis & Budaya: Penolakan dipicu oleh potensi ancaman terhadap kelestarian Candi Gedong Songo, penurunan debit air, serta kerusakan habitat satwa langka seperti Julang Emas dan Trenggiling.

![beras bulog [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/3g494rqxwj6uptx-300x198.jpeg)

