Search
Search
Search

Indonesia Resmi Ekspor Beras ke Malaysia, Tapi Kok Stok di Ritel Malah Langka?

Jumat, 4 September 2026

beras bulog [dok. web]
beras bulog [dok. web]

Kabar mengejutkan sekaligus membanggakan datang dari sektor pangan nasional. Indonesia secara resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Malaysia untuk mengekspor 1.000 ton beras premium.

Tak berhenti di situ, kesepakatan ini bahkan membuka kran potensi ekspor hingga 200 ribu ton beras ke negeri jiran dengan nilai fantastis mencapai Rp3,4 triliun.

Langkah berani ini makin mempertegas posisi Indonesia sebagai salah satu raksasa produsen beras terbesar di dunia.

Pencapaian bersejarah ini dinilai sebagai sinyal positif bahwa kedaulatan pangan Indonesia makin kokoh di kancah global.

Momen ekspor perdana yang bertepatan dengan momentum Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tersebut membawa angin segar dan optimisme baru.

Pasalnya, peningkatan produksi dalam negeri memberikan ruang bagi Indonesia untuk pemenuhan pasar luar negeri secara terukur tanpa mengabaikan kebutuhan domestik.

Cadangan Pangan Diklaim Aman hingga 2027

Pemerintah memastikan bahwa langkah mengekspor beras ke negara tetangga tidak akan mengganggu pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat dalam negeri.

Stok beras nasional saat ini tercatat melimpah mencapai sekitar 5,2 juta ton, yang diproyeksikan sangat aman untuk mengamankan cadangan pangan hingga Mei 2027.

Di sisi lain, Lembaga Pangan Dunia (FAO) memproyeksikan produksi beras Indonesia pada periode 2026–2027 menembus 38,6 juta ton, alias melonjak naik 4,6 juta ton dibanding periode sebelumnya.

Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, menegaskan bahwa kecukupan stok serta stabilitas harga di dalam negeri tetap menjadi prioritas utama pemerintah.

Ia menyebut keberhasilan ini membuktikan bahwa Indonesia sanggup naik kelas dalam ekosistem pangan dunia di saat produsen negara lain tengah mengalami penurunan produksi.

Realita di Pasar: Harga Merangkak Naik dan Ritel Mulai Langka

Meski pemerintah mengklaim cadangan beras aman melimpah, kondisi di lapangan justru memicu tanda tanya besar bagi masyarakat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), harga beras di semua tingkatan perdagangan tercatat merangkak naik pada Agustus 2026.

Di tingkat penggilingan, harga rata-rata beras menyentuh Rp14.213 per kg, sedangkan di tingkat eceran tembus Rp15.641 per kg.

Bahkan, fenomena kelangkaan beras premium kemasan 5 kg mulai dikeluhkan warga di beberapa daerah seperti Palembang dan Malang.

Menanggapi anomali ini, Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori, menilai ada persoalan struktural yang mengakar di sektor hulu.

Menurutnya, harga gabah di tingkat petani terus melambung tinggi melebihi Harga Pembelian Pemerintah (HPP), sehingga menekan biaya produksi di penggilingan.

Penggilingan padi pun berada di posisi serba salah karena terancam rugi jika menjual sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET).

Perlunya Transparansi dan Sinkronisasi Kebijakan Pangan

Sementara itu, Pengamat Pertanian dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Eliza Mardian, melihat fenomena kelangkaan di ritel modern sebagai bentuk dislokasi pasar.

Kosongnya stok beras premium bermerek di supermarket bukan berarti pasokan beras nasional habis total, melainkan karena regulasi harga yang ditetapkan pemerintah di kanal formal sudah tidak masuk akal untuk menutup biaya operasional pelaku usaha swasta.

Eliza menyoroti perlunya intervensi pemerintah yang seimbang antara regulasi di hilir dan pembentukan biaya di hulu.

Pemerintah diimbau untuk tidak hanya berpatokan pada klaim bahwa stok melimpah, tetapi juga aktif memfasilitasi transparansi struktur biaya bersama para pengusaha agar ketersediaan barang di pasaran kembali normal dan tidak merugikan konsumen.

Statement:

Muhammad Qodari, Kepala Bakom RI

“Ekspor beras ke Malaysia yang bersamaan dengan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi optimisme baru bahwa Indonesia semakin berdaulat dalam pangan.”

“Pemerintah memastikan bahwa ekspor beras ke Malaysia tidak akan mengganggu pemenuhan kebutuhan beras masyarakat Indonesia. Pemerintah tetap mengutamakan kecukupan stok dan stabilitas pangan nasional.”

AEPI Khudori, Pengamat Pertanian

“Ketika harga bahan baku naik, harga beras juga akan ikut naik. Produksi mulai melandai sejak Juni karena memasuki musim gadu, sementara persaingan membeli gabah tetap ketat sehingga harga terdorong naik terus menerus.”

“Sejumlah penggilingan dan produsen beras mengurangi produksi atau berhenti berproduksi karena mereka tidak bisa berjualan lagi. Kalau menjual di atas HET, akan berurusan dengan Satgas Pangan Polri. Jika menjual sesuai HET, produsen akan merugi,” jelas.

Eliza Mardian, Pengamat Pertanian CORE Indonesia

“Stok pemerintah tidak otomatis sama dengan stok beras premium bermerek di rak supermarket. Ada proses penggilingan, grading, pengemasan, dan distribusi yang dilewati. Pemerintah tidak boleh hanya mengatakan ‘stok ada, jadi harga harus turun,’ sementara pelaku usaha mengatakan ‘harga segitu membuat kami rugi.’

“Keduanya harus dipertemukan melalui transparansi struktur biaya mulai dari harga gabah, biaya penggilingan, logistik, sampai margin ritel. Komando untuk urusan pangan itu harus satu suara sesuai koordinasi di bawah Kemenko Pangan,” tegas.

3 Poin Penting:

  • Indonesia ekspor beras ke Malaysia: Indonesia menandatangani MoU ekspor 1.000 ton beras premium hingga berpotensi mencapai 200 ribu ton dengan nilai Rp3,4 triliun.

  • Stok nasional melimpah hingga 2027: Cadangan beras Indonesia saat ini mencapai 5,2 juta ton dan FAO menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar keempat di dunia.

  • Terjadi dislokasi pasar di tingkat ritel: Kenaikan harga gabah di hulu dan ketatnya HET membuat produsen mengurangi produksi, memicu kelangkaan beras premium kemasan di sejumlah ritel modern.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

Rame 24 Jam

Rame Sepekan