Search

Tragedi Keracunan Massal MBG di Jayapura, Ratusan Pelajar Dilarikan ke Rumah Sakit

Sabtu, 8 Agustus 2026

MBG di Papua (ist)

Musibah keracunan massal melanda ratusan pelajar di Kabupaten Jayapura, Papua, setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa (4/8/2026) hingga Rabu (5/8/2026).

Insiden memprihatinkan ini bersumber dari olahan makanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) milik Yayasan Kasih Iman Samuel Papua.

Guna menangani gejolak darurat kesehatan ini, para pelajar yang mengalami gejala pusing, diare, hingga mual hebat terpaksa dirawat di fasilitas medis setempat.

Terbatasnya daya tampung rumah sakit membuat sebagian korban terpaksa harus mendapatkan perawatan intensif di bawah tenda-tenda darurat.

Pelanggaran Prosedur Jam Masak Dapur SPPG

Hasil investigasi awal mengungkapkan bahwasanya pengelola dapur memasak hidangan terlalu cepat dari jadwal distribusi resmi yang ditetapkan.

Makanan diproduksi sejak pukul 19.30 malam sebelumnya untuk baru dibagikan kepada para siswa pada pukul 11.00 siang esok harinya, sehingga menyebabkannya rusak dan basi.

Pihak Polres Jayapura telah bergerak cepat dengan mengamankan lokasi dapur serta memeriksa sekitar 30 orang saksi terkait penanganan operasional tersebut.

Selain itu, sampel makanan yang memicu keracunan massal ini telah dikirim ke laboratorium guna analisis teknis lebih lanjut.

Pernyataan Yayasan dan Reaksi Pemerintah Daerah

Menanggapi insiden memilu tersebut, pihak Yayasan Kasih Iman Samuel Papua menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada publik dan keluarga korban.

Pihak manajemen yayasan berjanji akan bertanggung jawab penuh dengan menanggung seluruh biaya pengobatan para pelajar yang terdampak.

Sementara itu, jajaran Pemerintah Kabupaten Jayapura langsung mengevaluasi total pelaksanaan program MBG agar faktor keselamatan dan kebersihan menjadi prioritas utama.

Penanganan medis disebar ke beberapa rumah sakit guna menghindari penumpukan pasien gawat darurat di satu titik.

Desakan Desentralisasi Dapur dan Evaluasi Program

Pakar kesehatan masyarakat dari Universitas Airlangga, Windhu Pramono, menilai bahwa konsep pengelolaan dapur MBG di wilayah geografis Papua seharusnya tidak tersentralisasi.

Model dapur raksasa yang melayani ribuan porsi sangat berisiko memicu kerusakan makanan selama rentang waktu proses distribusi.

Kritik tajam ini mendorong Badan Gizi Nasional untuk membekukan sementara operasional dapur SPPG terkait selama proses investigasi berlangsung.

Evaluasi menyeluruh diharapkan mampu memperbaiki sistem tata kelola distribusi pangan nasional agar tragedi serupa tidak terulang kembali di masa depan.

Statement:

Sudaryono, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN)

“Di Papua, kami lihat dari log catatan dapurnya, mereka memulai masaknya kecepatan. Jam 19.00 atau 19.30 hari sebelumnya, untuk diberikan pada hari berikutnya jam 11.00. Jadi itu sudah melanggar.”

Yunus Wonda, Bupati Jayapura

“Ini harus menjadi evaluasi terbesar untuk pengelola MBG sendiri… tidak sekadar uang yang dikejar, tapi keamanan, kebersihan itu harus menjadi prioritas utama. Uang itu kita bisa dapat di mana saja, tapi bagaimana keselamatan anak-anak ini?”

3 Poin Penting:

  • Keracunan Massal MBG: Ratusan pelajar di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, mengalami keracunan usai mengonsumsi paket MBG hingga dirawat di tenda darurat RSUD Yowari.

  • Penyebab Pelanggaran Prosedur: Kepala BGN Sudaryono mengonfirmasi adanya pelanggaran prosedur operasional di mana dapur SPPG memasak hidangan terlalu cepat (malam hari sebelum distribusi).

  • Pemeriksaan dan Tanggung Jawab: Polres Jayapura memeriksa 30 saksi dan menyegel dapur, sementara Yayasan Kasih Iman Samuel Papua meminta maaf serta berjanji menanggung seluruh biaya pengobatan korban.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan