Search

Waduh! Investasi Asing dan Bank China Diduga Jadi Dalang di Balik Bencana Sumatra

Rabu, 24 Desember 2025

Bencana Sumatra (istimewa)

Kabar kurang sedap datang dari sektor lingkungan dan keuangan kita, nih. Perkumpulan Transformasi untuk Keadilan Indonesia (TuK Indonesia) baru saja merilis laporan yang cukup bikin tercengang.

Mereka menemukan adanya keterlibatan serius lembaga keuangan dalam mendanai perusahaan-perusahaan eksploitatif yang memicu bencana ekologis di Sumatra.

Ternyata, deretan bank yang memberikan kucuran dana buat aktivitas yang merusak alam ini didominasi oleh institusi pembiayaan asal China.

Abdul Haris, Kepala Departemen Advokasi dan Pendidikan Publik TuK Indonesia, menyebutkan bahwa bank-bank dari China ini nangkring di peringkat pertama sebagai penyokong dana industri ekstraktif.

Fenomena ini nggak cuma terjadi di Sumatera, tapi juga sudah merembet ke industri nikel di Maluku Utara. Hal ini menunjukkan kalau investasi asing punya peran yang sangat besar dalam mengubah bentang alam kita, yang sayangnya sering kali berakhir dengan kerusakan lingkungan yang masif.

Dominasi Bank China dan Peran Himbara dalam Eksploitasi

Berdasarkan konferensi pers “Jejak Pembiayaan di Balik Bencana Ekologis Sumatera” pada Senin (22/12/2025), terungkap bahwa ada tujuh perusahaan besar di Sumatra Utara yang terlibat aktif dalam eksploitasi lahan.

Ironisnya, selain bank asal China, himpunan bank milik negara (Himbara) juga terdeteksi masih menyalurkan pembiayaan ke beberapa perusahaan tersebut.

Ini tentu jadi catatan merah bagi komitmen perbankan nasional terhadap isu keberlanjutan lingkungan.

TuK Indonesia berharap publik makin sadar dan mulai menekan institusi keuangan untuk meninjau ulang portofolio kredit mereka.

Jangan sampai uang yang kita simpan di bank justru dipakai buat mendanai perusahaan yang meruntuhkan benteng alam pelindung kita sendiri.

Pembiayaan yang tidak selektif ini memiliki risiko tinggi terhadap kelestarian hutan dan keselamatan warga yang tinggal di sekitar wilayah konsesi perusahaan.

Hancurnya Ekosistem Batang Toru Akibat Ulah Perusahaan

Kondisi di lapangan ternyata jauh lebih miris daripada sekadar angka-angka di laporan keuangan. Direktur Eksekutif WALHI Sumatera Utara, Rianda Purba, mencatat bahwa dalam 10 tahun terakhir, lebih dari 10.000 hektare lahan di ekosistem Batang Toru telah raib.

Padahal, wilayah seluas 240.000 hektare ini adalah penyangga utama siklus air di Sumatera Utara. Tujuh perusahaan yang diidentifikasi melakukan pembukaan hutan secara masif di sana antara lain PT Agincourt Resources hingga PTPN III.

Hilangnya tutupan hutan ini setara dengan lenyapnya 5,4 juta pohon yang seharusnya berfungsi sebagai kanopi penahan air hujan.

Akibatnya, saat hujan deras mengguyur selama berminggu-minggu, air langsung menghantam tanah tanpa penghalang dan mengalir kencang ke arah hilir.

Inilah alasan utama mengapa banjir bandang dan longsor kini jadi rutinitas yang mematikan di wilayah Tapanuli dan sekitarnya.

Dampak Ekonomi Nasional Tembus Angka Fantastis

Nggak cuma soal nyawa dan lingkungan, kerugian ekonomi akibat banjir Sumatera juga bikin dahi berkerut. Center of Economic and Law Studies (Celios) memproyeksikan dampak kerugian ekonomi nasional bisa mencapai Rp68,67 triliun!

Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, menyebutkan kalau bencana ini sukses menekan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sebesar 0,29%.

Angka yang sangat besar untuk sebuah dampak dari kegagalan menjaga ekosistem.

Lumpuhnya akses transportasi di Sumatra Utara sebagai simpul industri langsung memukul pergerakan barang konsumsi di seluruh pulau.

Kerugian per provinsi di Aceh, Sumut, dan Sumbar pun masing-masing diprediksi menembus angka Rp2 triliun.

Data ini menjadi bukti kuat bahwa investasi yang terlihat menguntungkan di awal justru mendatangkan kerugian ekonomi jangka panjang yang jauh lebih dahsyat akibat kerusakan alam yang tidak bisa diperbaiki dalam waktu singkat.

Statement:

Abdul Haris, Kepala Departemen Advokasi dan Pendidikan Publik TuK Indonesia

“Dominasi dari institusi pembiayaan atau bank ini adalah bank yang berasal dari China dan menduduki peringkat paling pertama. Kita bisa memberikan tekanan pada institusi keuangan bahwa pembiayaan yang kalian salurkan kepada perusahaan di Sumatera itu memiliki risiko yang tinggi terhadap kerusakan hutan.”

3 Poin Penting:

  1. Lembaga keuangan asal China dan beberapa bank Himbara teridentifikasi mendanai tujuh perusahaan yang melakukan eksploitasi lahan di ekosistem strategis Sumatera.

  2. Kerusakan hutan seluas 10.000 hektare di Batang Toru mengakibatkan hilangnya 5,4 juta pohon, yang memicu bencana banjir bandang dan longsor mematikan.

  3. Dampak bencana ekologis di Sumatera menekan PDB nasional sebesar 0,29 persen dengan total kerugian ekonomi diproyeksikan mencapai Rp68,67 triliun.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan