Program Makan Bergizi Gratis (MBG) lagi jadi perbincangan hangat di kalangan anak muda dan orang tua nih. Pasalnya, meskipun kalender pendidikan sudah masuk masa libur, Badan Gizi Nasional (BGN) tetap “gaspol” mendistribusikan paket makanan.
Salah satu temuan di wilayah Provinsi Lampung menunjukkan bahwa para siswa SMK mendapatkan paket “rapelan” yang isinya terdiri dari satu liter susu, empat butir telur, satu pak roti tawar, serta buah apel dan jeruk untuk stok beberapa hari.
Keputusan merapel jatah harian ini diambil supaya distribusi tetap jalan meski nggak ada aktivitas di kelas. Pihak sekolah memilih jenis makanan yang siap simpan agar tidak cepat basi atau rusak.
Namun, skema ini justru memancing rasa penasaran publik: apakah menu “keringan” seperti ini sudah memenuhi standar gizi seimbang yang selama ini digembar-gemborkan oleh pemerintah?
Dominasi Makanan Olahan dan Isu Dapur Ngebul
Kritik pedas mulai bermunculan, salah satunya dari Ketua Kebijakan Publik, Media Wahyu. Ia menyoroti bahwa menu MBG selama liburan ini didominasi oleh ultra-processed food (UPF) alias makanan olahan seperti biskuit dan roti.
Menurutnya, pola ini terlihat seolah-olah dipaksakan hanya agar dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tetap beroperasi karena tuntutan kontrak, padahal kualitas gizi segar dari masakan dapur justru jadi minim.
Media juga mengkhawatirkan adanya potensi margin keuntungan yang terlalu besar bagi pengelola karena makanan dirapel dalam bentuk paketan industri.
Selain soal nutrisi, isu transparansi juga ikut memanas. Kabarnya, sempat ada laporan intimidasi terhadap orang tua dan guru agar tidak membagikan foto atau dokumentasi menu MBG ke media sosial.
Padahal, program ini dibiayai oleh pajak rakyat dan wajib diawasi sesuai Undang-Undang Pelayanan Publik.
Respons BGN Soal Skema Opsional Selama Liburan
Menanggapi riuhnya kabar tersebut, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, akhirnya angkat bicara buat meluruskan suasana.
Dadan menegaskan bahwa pengambilan paket MBG saat libur sekolah bersifat fleksibel dan sama sekali tidak wajib.
Bagi keluarga yang sedang pergi berlibur atau kesulitan secara teknis untuk mengambil paket ke sekolah, tidak ada paksaan sama sekali untuk berpartisipasi.
Menurut Dadan, alasan utama program ini tetap berjalan adalah demi menjaga kontinuitas asupan nutrisi bagi mereka yang benar-benar membutuhkan.
Pemerintah ingin memastikan bahwa anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap mendapatkan dukungan gizi meskipun sekolah sedang libur.
Fokus utama BGN sebenarnya bukan cuma anak sekolah, tapi juga kelompok krusial lainnya seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita yang butuh intervensi gizi tanpa putus.
Standar Anggaran dan Kualitas Gizi yang Perlu Diaudit
Temuan di Depok, Jawa Barat, juga menunjukkan pola yang sama, yakni pembagian paket berisi susu dan biskuit.
Hal ini memicu perdebatan mengenai apakah nilai paket tersebut sudah sesuai dengan standar anggaran yang dialokasikan pemerintah.
Banyak pihak berharap agar instansi terkait melakukan audit mendalam untuk memastikan bahwa dana besar yang keluar benar-benar berubah menjadi nutrisi berkualitas, bukan sekadar camilan olahan pabrik.
Meskipun sifatnya opsional, kualitas menu tetap harus menjadi prioritas agar tujuan awal program untuk mencetak generasi unggul tetap tercapai.
Jangan sampai niat baik untuk menjaga “kontinuitas” gizi justru terjebak dalam masalah efisiensi dan kualitas pangan.
Publik kini menunggu langkah nyata dari pemerintah untuk mengevaluasi menu liburan agar tetap mencerminkan prinsip gizi seimbang yang sehat dan segar bagi anak-anak Indonesia.
Statement:
Dadan Hindayana, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN)
“Untuk anak sekolah sifatnya kan menjadi optional. Bagi yang tidak memungkinkan mengambil atau dikirim karena alasan teknis atau juga ada yang pergi berlibur, tidak masalah. Tapi bagi yang membutuhkan kita tetap layani. Intervensi pemenuhan gizi bagian yang sangat penting, kontinuitas perlu dijaga.”
3 Poin Penting:
-
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan selama libur sekolah dengan sistem paket rapelan berupa roti, susu, telur, dan buah.
-
Muncul kritik terkait dominasi makanan olahan (UPF) dan transparansi pengawasan kualitas menu yang dinilai berada di bawah standar anggaran.
-
Kepala BGN menegaskan pengambilan menu selama liburan bersifat opsional dan bertujuan menjaga kesinambungan gizi bagi keluarga yang membutuhkan.

![pajak kendaraan listrik [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/60aca1286e20f-300x200.jpg)
![UU PPRT (Menaker) Yassierli. [dok. antara]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/a_69e6d3254b656-300x200.jpeg)
![pembayaran pajak kendaraan [dok. web]](https://genlink.co.id/wp-content/uploads/pemprov-dki-jakarta-tambah-layanan-samsat-hingga-sabtu-3-300x200.jpeg)