Search

Warung Makan Epy Kusnandar Diusik Preman, Netizen Minta Pasukan “Preman Pensiun” Turun Tangan

Kamis, 23 Oktober 2025

Warung makan sunda Epy Kusnandar (kolase Tribunnews)

Sebuah kisah humanis yang memilukan sekaligus menggelitik baru-baru ini mencuat dari dunia wirausaha selebritas. Karina Ranau, istri dari komedian dan aktor Epy Kusnandar, mengungkapkan keresahannya di media sosial.

Warung jukut goreng mereka yang baru dibuka di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, dikabarkan telah diganggu oleh aksi premanisme, meminta uang keamanan dan menciptakan suasana tidak nyaman. Video keluhan Karina ini sontak menjadi viral dan memicu kemarahan publik.

Keresahan Karina segera disambut oleh gelombang dukungan humanis dari netizen, yang mendesak langkah konkret.

Sebagian besar netizen menyuarakan agar Karina dan Kang Epy tidak tinggal diam, segera melapor ke kantor polisi terdekat untuk mencegah aksi premanisme terus merajalela.

“Laporkan ke polisi Teh Karina Ranau,” tulis seorang netizen.

“Langsung lapor aja ke polisi jangan dibiarkan premanisme merajalela,” tambah yang lain, menunjukkan keprihatinan kolektif terhadap keamanan berusaha bagi rakyat kecil.

Memanggil Kang Cecep dan Kang Murad: Harapan Fiktif di Dunia Nyata

Di tengah seruan untuk bertindak nyata, muncul fenomena satire yang khas Indonesia: netizen berkelakar meminta Epy Kusnandar untuk memanggil anak buahnya dari sinetron legendaris Preman Pensiun.

Epy Kusnandar dikenal luas berperan sebagai Kang Mus, sosok pimpinan preman yang sudah “pensiun” dan disegani dalam sinetron tersebut.

Komentar seperti, “Dia (preman) enggak tau apa itu warung Kang Mus?” dan “Apa perlu heh Kang Cecep, Kang Murad, Kang Ujang dipanggil biar kasih salam olahraga dan beresin tuh preman,” membanjiri kolom komentar.

Ironi ini secara humanis menunjukkan bahwa ketika hukum nyata terasa lambat, masyarakat cenderung mencari solusi pada kekuatan fiktif yang dianggap lebih efektif.

Harapan fiktif ini mencerminkan kejengkelan publik terhadap premanisme jalanan yang tak kunjung teratasi.

Keluhan Massal dan Seruan Kepada Pejabat Negara

Kasus yang menimpa warung makan Epy Kusnandar ini ternyata bukan kasus tunggal.

Dalam cuitannya, Karina Ranau juga mendapatkan curhatan dari sejumlah netizen yang merasakan hal serupa; perjuangan merintis usaha kecil seringkali diwarnai gangguan dari “hama” preman yang meminta uang keamanan dengan dalih yang tidak jelas.

Kisah ini menjadi representasi humanis tentang betapa rentannya usaha rakyat kecil di hadapan premanisme.

Kekesalan publik pun tumpah ruah, mengarahkan seruan mereka langsung ke pemangku kebijakan tertinggi. Netizen ramai-ramai men-tag akun-akun penting seperti Presiden Prabowo Subianto, Gubernur DKI Jakarta, hingga Kapolri Listyo Sigit Prabowo.

“Enggak bisa kerja Pemerintah? kenapa diem aja, begitu warganya merintis usaha biar tidak jadi beban negara. Malah datang hama (preman)… tolong dibantu pak,” tukas netizen.

Seruan ini adalah teriakan humanis dari bawah yang menuntut kehadiran negara untuk melindungi mereka yang sedang berusaha mandiri.

Polisi Menunggu Laporan, Masyarakat Menunggu Aksi Nyata

Menanggapi kegaduhan yang viral ini, pihak kepolisian setempat menyatakan kesiapan mereka untuk menindak tegas premanisme.

Namun, hingga kini, Polisi menyebut belum ada laporan resmi yang masuk dari pihak Epy Kusnandar maupun Karina Ranau.

Keadaan ini menciptakan jarak antara viral di media sosial dan aksi hukum yang sesungguhnya.

Meskipun netizen mendesak pelaporan, hingga saat ini belum ada penjelasan resmi dari Epy Kusnandar dan Karina Ranau tentang siapa sosok preman atau ormas yang mengganggu usahanya.

Drama ini pun berakhir dengan menggantung: masyarakat menanti aksi nyata aparat, sementara aparat menanti laporan resmi dari korban.

Kasus ini menjadi pengingat pahit bahwa perjuangan Kang Mus di dunia nyata lebih rumit daripada sinetronnya.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

24 Jam

Sepekan