Search
Search
Search

Cek Fakta: [HOAKS] Narasi Darurat Tsunami Selat Sunda

Rabu, 9 September 2026

Hoaks darurat tsunami (ist)

Gelombang kabar bohong (hoaks) yang memanfaatkan momen bencana kembali meresahkan masyarakat di kawasan pesisir Banten dan Lampung.

Sebuah unggahan di media sosial Facebook belakangan ini geger mengklaim adanya penetapan status “darurat tsunami” di sejumlah wilayah pesisir seperti Anyer, Pandeglang, Serang, hingga Lampung.

Narasi liar tersebut mengaitkan kenaikan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau dengan ancaman longsoran tubuh gunung yang diklaim siap memicu tsunami dahsyat.

Unggahan yang disebarkan secara masif tersebut menyajikan peta risiko palsu lengkap dengan estimasi waktu kedatangan gelombang laut hingga jumlah warga terdampak.

Klaim menakut-nakuti tersebut bahkan membandingkan kondisi saat ini dengan tragedi tsunami Selat Sunda pada tahun 2018 silam.

Sontak saja, sebaran informasi yang belum terverifikasi ini langsung memicu kepanikan warga pesisir yang sedang membendung ketakutan akibat eretan erupsi gunung api tersebut.

Unggahan Hoaks (ist)

Hasil Periksa Fakta BMKG dan Kepastian Sensor Air Laut Normal

Berdasarkan hasil penelusuran periksa fakta dan klarifikasi resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), klaim mengenai kondisi “darurat tsunami” di Selat Sunda dipastikan sebagai informasi menyesatkan alias hoaks.

Pemantauan intensif yang dilakukan oleh BMKG menggunakan 20 sensor tsunami gauge di sepanjang perairan Selat Sunda menunjukkan hasil nihil anomali.

Tidak ditemukan adanya pergerakan atau lonjakan muka air laut yang mengindikasikan datangnya tsunami.

Pelaksana Harian Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menegaskan bahwa analisis berbasis teknologi High-Frequency (HF) Radar Array di Carita dan Tanjung Lesung mencatat probabilitas terjadinya tsunami berada pada tingkat sangat rendah, yakni di bawah 40%.

Ketinggian gelombang laut di kawasan pantai wisata terpantau masih sangat aman dan stabil pada kisaran satu meter.

Evaluasi Badan Geologi Soal Morfologi Gunung Anak Krakatau Pasca-2018

Penyebaran hoaks tersebut diketahui sengaja mencatut peristiwa tsunami Selat Sunda Desember 2018 sebagai instrumen untuk menakut-nakuti publik.

Namun, Badan Geologi Kementerian ESDM meluruskan bahwa kondisi morfologi Gunung Anak Krakatau saat ini sangat berbeda dengan kondisi fisik sebelum terjadinya longsoran besar pada tahun 2018 lalu.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menjelaskan bahwa proses pembentukan kembali tubuh Gunung Anak Krakatau pasca-2018 hingga saat ini masih tergolong relatif kecil.

Dengan demikian, secara analisis struktur geologi, gunung api aktif tersebut tidak memiliki potensi keruntuhan skala besar yang sanggup memicu gelombang tsunami vulkanik seperti yang dikhawatirkan masyarakat.

Status Level III Siaga Tetap Berlaku dan Imbauan Waspada Radius 3 Km

Meskipun isu darurat tsunami terbukti tidak benar, masyarakat diimbau untuk tidak melonggarkan kewaspadaan terhadap aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Hingga saat ini, status Gunung Anak Krakatau masih ditetapkan berada pada Level III (Siaga). Penetapan status Siaga ini merujuk pada tingginya frekuensi erupsi strombolian serta potensi lontaran material pijar di sekitar area kawah.

Pemerintah melalui Badan Geologi menginstruksikan warga lokal, nelayan, maupun wisatawan untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di dalam zona bahaya radius tiga kilometer dari kawah aktif.

Publik diminta untuk tetap tenang, menyaring setiap informasi di media sosial, serta selalu merujuk pada kanal pelaporan resmi BMKG, PVMBG, dan BNPB agar tidak mudah termakan isu liar yang tidak bertanggung jawab.

Statement:

Lana Saria, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM

“Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pasca erupsi 22 Desember 2018 ini masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.”

Ardhasena Sopaheluwakan, Plh. Deputi Bidang Geofisika BMKG

“Hasil pemantauan terhadap 20 sensor tsunami gauge di sekitar Selat Sunda tidak menunjukkan adanya anomali muka air laut. Analisis teknologi HF Radar menunjukkan probabilitas tsunami berada pada tingkat rendah di bawah 40 persen dengan tinggi gelombang laut terpantau normal sekitar satu meter.”

3 Poin Penting:

  • Klaim Darurat Tsunami Adalah Hoaks: Narasi viral di Facebook yang menyebut Selat Sunda dalam kondisi “darurat tsunami” akibat erupsi Gunung Anak Krakatau dipastikan sebagai berita bohong (hoaks).

  • Sensor BMKG Tunjukkan Kondisi Normal: Pemantauan 20 sensor tsunami gauge dan HF Radar BMKG mengonfirmasi tidak ada anomali air laut, dengan probabilitas tsunami di bawah 40%.

  • Morfologi Gunung Aman dari Keruntuhan: Badan Geologi menegaskan pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau pasca-2018 masih kecil dan tidak berpotensi runtuh memicu tsunami, meski status gunung tetap Level III (Siaga) radius 3 km.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

Rame 24 Jam

Rame Sepekan