Panggung dunia maya dan industri aset kripto internasional mendadak diguncang oleh skandal pencurian fantastis.
Seorang pemuda asal Singapura berusia 22 tahun bernama Malone Lam menjadi perbincangan hangat di Amerika Serikat (AS) usai didakwa sebagai otak di balik aksi penggelapan bitcoin bernilai fantastis.
Tak main-main, nilai aset digital yang berhasil diringkus mencapai USD249 juta atau setara Rp4,3 triliun.
Pengakuan mengejutkan tersebut disampaikan Lam dalam proses persidangan resmi di pengadilan AS pada Selasa waktu setempat.
Pemuda yang berstatus putus sekolah saat remaja ini mengaku bersalah dan memimpin aksi pembobolan dompet digital milik seorang warga Washington D.C. pada Agustus 2024 lalu.
Pengungkapan kasus besar ini memanfaatkan undang-undang penanganan kejahatan terorganisasi yang sangat ketat di AS, yakni Racketeer Influenced and Corrupt Organizations Act (RICO).
Jejak Awal Malone Lam dari Komunitas Gim Hingga Membawa Jaringan Internasional
Jejak kehidupan Malone Lam terbilang sangat tidak biasa untuk pemuda seusianya. Lahir dan tumbuh di Singapura, ia sempat mengenyam pendidikan di Unity Secondary School pada 2017 sebelum akhirnya memilih putus sekolah.
Lam kemudian memfokuskan aktivitasnya pada perdagangan mata uang kripto dan aktif di berbagai komunitas gim daring kenamaan seperti Minecraft serta platform Discord.
Pada Oktober 2023, Lam memutuskan pindah ke AS memanfaatkan fasilitas Visa Waiver Program.
Dari interaksi di platform gim daring tersebut, ia berhasil membangun jaringan kejahatan internasional yang beranggotakan sedikitnya 18 orang pemuda.
Bersama rekannya yang berusia 21 tahun, Jeandiel Serrano, Lam mengorganisasi aksi pencurian aset digital secara terstruktur sejak akhir 2023 hingga pertengahan 2025.
Modus Canggih Penyamaran Tim Dukungan Teknis dan Pencurian Kunci Privat
Taktik yang digunakan kelompok Lam untuk melancarkan aksinya tergolong sangat rapi dan manipulatif. Mereka awalnya menyamar sebagai tim dukungan teknis resmi dari Google untuk membobol akses awal akun milik calon korban.
Setelah berhasil memancing perhatian sasaran, anggota tim kemudian menyamar kembali sebagai staf layanan pelanggan platform kripto Gemini.
Lewat penyamaran tersebut, para pelaku membujuk korban agar bersedia mengatur ulang sistem autentikasi dua faktor (2FA). Korban juga diarahkan untuk mengunduh serta mengaktifkan perangkat lunak berbagi layar (screen sharing).
Tanpa disadari oleh korban, langkah fatal ini langsung mengekspos kunci privat (private key) dompet kripto yang berujung pada penyedotan aset digital secara masif.
Gaya Hidup Foya-Foya Mewah yang Jadi Bumerang Menuju Jeruji Besi
Meski sempat berupaya mencuci uang hasil kejahatan menjadi kartu pembayaran dan uang tunai, aksi pembobolan ini justru terbongkar akibat gaya hidup Lam yang sangat mencolok.
Pengeluaran foya-foya tanpa kontrol menarik kecurigaan mendalam dari aparat penegak hukum AS. Lam diketahui menyewa jet pribadi, membeli rumah mewah di Miami, Los Angeles, dan Hamptons, serta menyewa tim pengawal pribadi.
Aksi pamer kekayaannya makin tak terkendali saat ia membeli deretan kendaraan mewah seharga US$ 3,8 juta serta jam tangan bernilai ratusan ribu dolar.
Dalam satu malam saja di sebuah klub malam Los Angeles, Lam dilaporkan menghabiskan uang hingga US$ 569.000 atau sekitar Rp10 miliar. Atas serangkaian aksi kejahatan terorganisasi ini, Lam kini terancam hukuman penjara maksimal 20 tahun di AS.
Statement:
Tim Jaksa Penuntut Umum Departemen Kehakiman AS
“Lam terus mengarahkan rekan-rekannya dari dalam tahanan pra-sidang. Dia bahkan masih mengatur pengiriman barang-barang mewah untuk kekasihnya.”
3 Poin Penting:
-
Otak Pencurian Bitcoin Rp4,3 Triliun: Malone Lam (22 tahun) asal Singapura mengaku menjadi dalang utama pencurian aset bitcoin senilai US$ 249 juta dari warga Washington D.C.
-
Modus Penyamaran Google dan Gemini: Pelaku meretas akun korban dengan menyamar sebagai tim bantuan Google dan Gemini serta memanfaatkan perangkat screen sharing untuk mencuri private key.
-
Terbongkar Karena Foya-Foya: Aksi Lam terendus aparat hukum akibat gaya hidup mewah seperti menyewa rumah di Miami, membeli jam dan mobil mewah, serta menghabiskan Rp10 miliar dalam semalam di klub malam.



