Sagaranten Volunteer menggelar pendampingan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di Yayasan Ihyaul Irsyad, Kabupaten Sukabumi, pada 24 Oktober 2026.
Kegiatan ini melibatkan 140 siswa dari MTs dan SMK Ihyaul Irsyad untuk meningkatkan pengetahuan serta keterampilan menghadapi potensi bencana, mulai dari gempa bumi, tanah longsor, hingga banjir.
Program ini menjadi langkah penting untuk membangun kesadaran bahwa kesiapsiagaan bencana bukan sekadar materi pelajaran, melainkan keterampilan yang dapat menentukan keselamatan seseorang dalam situasi darurat.
Ketua Pelaksana Idrus, yang juga merupakan pendidik di SMAN 1 Sagaranten, menegaskan bahwa budaya sadar bencana perlu dibangun sejak bangku sekolah.
Menurutnya, wilayah Sukabumi memiliki tingkat kerawanan bencana yang cukup tinggi sehingga sekolah perlu mempersiapkan warga sekolah agar mampu merespons keadaan darurat secara tepat.
Pernyataan ini mengingatkan bahwa edukasi kebencanaan tidak boleh berhenti pada sosialisasi, tetapi harus diterapkan melalui latihan yang berkelanjutan.

Edukasi Kebencanaan Harus Lebih dari Sekadar Teori
Pendampingan SPAB tersebut difasilitasi oleh sembilan fasilitator bersertifikat.
Para siswa mengikuti berbagai sesi, mulai dari pengenalan jenis dan risiko bencana, pemetaan jalur evakuasi sekolah, praktik penggunaan tas siaga bencana, simulasi evakuasi gempa bumi, hingga pelatihan pertolongan pertama dasar.
Simulasi menjadi salah satu sesi yang menarik perhatian peserta karena memberikan kesempatan untuk mempraktikkan langkah yang perlu dilakukan ketika terjadi keadaan darurat.
Pendekatan langsung seperti ini penting agar siswa tidak hanya menghafal prosedur, tetapi juga memahami cara menerapkannya.
Meski demikian, kegiatan pendampingan sebaiknya tidak berhenti setelah fasilitator meninggalkan sekolah.
Tantangan sesungguhnya adalah memastikan setiap siswa memahami jalur evakuasi, mengetahui titik kumpul, serta mampu mengikuti arahan tanpa menimbulkan kepanikan.
Sekolah juga perlu mengevaluasi kesiapan fasilitas, akses keluar-masuk gedung, dan prosedur komunikasi darurat.
Dengan begitu, SPAB tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, melainkan bagian dari sistem keselamatan sekolah yang dapat diuji dan diperbaiki secara berkala.
Kolaborasi Komunitas dan Perusahaan Perkuat Mitigasi
Kegiatan ini turut melibatkan Tim Passanam dan Tim Cisadane Resik yang berbagi pengalaman mengenai pengurangan risiko bencana berbasis komunitas serta pelestarian lingkungan.
Keterlibatan kedua tim memperluas pemahaman siswa bahwa mitigasi tidak hanya berkaitan dengan tindakan saat bencana terjadi, tetapi juga upaya mengurangi risiko sejak awal.
Kesadaran menjaga lingkungan, misalnya, perlu berjalan beriringan dengan pemahaman terhadap kondisi wilayah dan potensi ancaman di sekitarnya.
Dengan pendekatan tersebut, pendidikan kebencanaan dapat membentuk kebiasaan yang lebih bertanggung jawab, baik di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal.
Pelaksanaan program di Yayasan Ihyaul Irsyad mendapat dukungan dari BCA Insurance sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung ketangguhan bencana di sektor pendidikan.
Kolaborasi antara relawan, fasilitator, komunitas, sekolah, dan sektor swasta menjadi modal penting untuk memperluas edukasi kebencanaan.
Namun, dampak program akan lebih terasa apabila dukungan tersebut disertai tindak lanjut yang terukur.
Sekolah perlu memiliki rencana kegiatan, pembagian tanggung jawab, serta evaluasi berkala agar pengetahuan yang diperoleh siswa tetap terpelihara dan dapat diterapkan ketika dibutuhkan.
Sekolah Perlu Menindaklanjuti Program SPAB
Setelah pendampingan, MTs dan SMK Ihyaul Irsyad diharapkan segera menyusun dokumen kajian risiko, membentuk Tim Siaga Bencana Sekolah, serta mengintegrasikan pendidikan kebencanaan ke dalam kegiatan belajar.
Langkah berikutnya dapat mencakup latihan evakuasi secara berkala, pemeriksaan jalur penyelamatan, penyediaan perlengkapan darurat, dan penyampaian informasi kebencanaan kepada orang tua.
Keterlibatan seluruh warga sekolah penting agar tanggung jawab keselamatan tidak hanya dibebankan kepada guru atau petugas tertentu. Rencana yang jelas juga membantu sekolah mengidentifikasi kekurangan sebelum situasi darurat benar-benar terjadi.
Pada akhirnya, keberhasilan Satuan Pendidikan Aman Bencana tidak cukup diukur dari jumlah peserta atau terlaksananya simulasi, tetapi juga dari kesiapan sekolah mempertahankan kebiasaan siaga dalam jangka panjang.
Pendampingan terhadap 140 siswa ini menjadi langkah awal yang positif bagi Yayasan Ihyaul Irsyad untuk membangun lingkungan belajar yang lebih tangguh.
Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap pengetahuan berubah menjadi prosedur yang dipahami, diuji, dan diperbarui.
Dengan konsistensi serta kolaborasi lintas pihak, sekolah dapat menjadi ruang belajar yang bukan hanya mendukung prestasi akademik, tetapi juga membekali siswa dengan kemampuan melindungi diri dan membantu sesama saat bencana terjadi.
Statement:
Idrus, Ketua Pelaksana
“Melalui SPAB, kami berharap siswa tidak hanya paham teori, tetapi juga mampu melakukan tindakan penyelamatan diri dengan cepat dan tepat.”
3 Poin Penting:
-
Pendampingan 140 siswa: Sagaranten Volunteer mengadakan program SPAB di MTs dan SMK Ihyaul Irsyad, Kabupaten Sukabumi, dengan fokus pada kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi, tanah longsor, dan banjir.
-
Pelatihan praktis: Sembilan fasilitator SPAB bersertifikat memberikan edukasi kebencanaan, pemetaan jalur evakuasi, praktik tas siaga, simulasi gempa, dan pelatihan pertolongan pertama dasar.
-
Perlu tindak lanjut: Sekolah diharapkan menyusun kajian risiko, membentuk Tim Siaga Bencana Sekolah, serta mengintegrasikan pendidikan kebencanaan ke dalam kegiatan sekolah dengan dukungan berbagai pihak.



