Search
Search
Search

CEO Aramco Peringatkan Cadangan Minyak Dunia Menipis, Dampak Perang Timur Tengah Makin Terasa

Rabu, 7 Oktober 2026

Kilang minyak (SKK MIgas Sumbagsel)

CEO Saudi Aramco Amin Nasser mengeluarkan peringatan soal kondisi pasokan minyak dunia yang disebut semakin mengkhawatirkan.

Menurutnya, perang di Timur Tengah yang telah berlangsung selama tujuh bulan membuat bantalan pasokan global menipis dan ruang untuk mengantisipasi gangguan baru semakin terbatas.

Dalam laporan Financial Times yang dikutip Selasa (6/10/2026), Nasser menyebut konflik Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran telah memangkas hampir 3 miliar barel pasokan minyak dari kawasan tersebut.

Jumlah itu diperkirakan setara dengan sekitar separuh minyak mentah dan produk olahan yang seharusnya melewati Selat Hormuz selama periode konflik.

Cadangan Strategis Mulai Dipakai

Untuk menutup kekurangan pasokan, lebih dari 1 miliar barel minyak disebut telah dikeluarkan dari berbagai cadangan.

Pemerintah sejumlah negara telah melepas lebih dari 300 juta barel dari cadangan strategis dan menyepakati pelepasan tambahan pada Jumat pekan lalu.

Namun, Nasser mengatakan sebagian besar minyak yang digunakan justru berasal dari cadangan perusahaan.

Dalam pandangannya, cadangan milik perusahaan kini menjadi salah satu “alat besar terakhir” yang masih tersedia untuk menjaga pasokan global tetap berjalan.

Stok Komersial di Bawah 6 Miliar Barel

Dalam pidato publik pertamanya sejak perang pecah, Nasser memperkirakan stok minyak komersial yang tersisa saat ini berada di bawah 6 miliar barel.

Yang membuat situasi semakin rumit, menurut dia, sebagian besar stok tersebut tidak bisa digunakan secara praktis untuk menutup gangguan pasokan dalam waktu singkat.

Nasser menilai kondisi tersebut menunjukkan sistem energi global sudah berada dalam tekanan serius.

Pilihan untuk mencari pasokan pengganti juga terbatas, sehingga gangguan lebih lanjut di kawasan strategis seperti Selat Hormuz berpotensi membuat pasar semakin ketat.

Selat Hormuz Jadi Titik Panas

Konflik juga berdampak pada jalur distribusi minyak global. Dalam beberapa pekan terakhir, Iran dilaporkan menyerang kapal yang melintas di Selat Hormuz.

Sementara itu, kelompok proksi Iran di Irak dan Yaman dilaporkan menyerang sejumlah infrastruktur energi, termasuk pipa, kilang, dan pelabuhan milik Aramco.

Nasser juga menyoroti penggunaan teknologi dalam konflik. Menurutnya, data terbuka seperti citra satelit dan catatan pelayaran semakin dimanfaatkan untuk mengidentifikasi serta menyerang infrastruktur dan kapal tanker.

Ia menilai teknologi transparansi semestinya tidak berubah menjadi alat yang membantu agresi.

Isi Ulang Cadangan Bisa Dua Tahun

Persoalan tidak otomatis selesai ketika perang berakhir. Nasser memperkirakan pengisian kembali stok minyak global sambil tetap memenuhi kebutuhan pasar dapat membutuhkan waktu hingga dua tahun.

Karena itu, ia mendorong pemerintah berbagai negara menjadikan ketahanan dan keamanan energi sebagai prioritas.

Saudi Aramco sendiri disebut sedang mengkaji rute ekspor tambahan untuk minyak mentah Arab Saudi.

Perusahaan tersebut juga menjajaki fasilitas penyimpanan minyak tambahan di luar negeri sebagai langkah untuk mengurangi risiko gangguan pasokan dan melindungi pelanggan pada masa mendatang.

Arus Hormuz Mulai Pulih, tetapi Pasar Masih Ketat

Di tengah situasi tersebut, arus minyak melalui Selat Hormuz mulai menunjukkan pemulihan melalui skema pengiriman bergilir yang cukup kompleks.

Berdasarkan data Kpler, pengiriman minyak dari negara-negara Teluk mencapai 15,5 juta barel per hari pada bulan lalu. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak perang dimulai dan setara dengan lebih dari 80% volume sebelum konflik.

Meski aliran minyak mulai membaik, biaya pengiriman masih sangat tinggi dan pasar minyak belum sepenuhnya longgar. Harga kargo fisik minyak mentah Laut Utara untuk pengiriman bulan ini bahkan naik ke level tertinggi sejak April.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa risiko geopolitik masih menjadi faktor besar bagi stabilitas energi global.

Statement:

CEO Saudi Aramco Amin Nasser

“Alat besar terakhir, yang tersedia adalah cadangan perusahaan.”

3 Poin Penting:

  • CEO Saudi Aramco Amin Nasser memperingatkan cadangan minyak global semakin tipis, setelah konflik Timur Tengah memangkas hampir 3 miliar barel pasokan.
  • Stok minyak komersial global diperkirakan tersisa kurang dari 6 miliar barel, dengan sebagian besar dinilai tidak praktis digunakan dalam waktu cepat.
  • Pemulihan cadangan bisa membutuhkan hingga dua tahun setelah konflik berakhir, sementara biaya pengiriman dan harga minyak masih berada dalam tekanan.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

Rame 24 Jam

Rame Sepekan