Search
Search
Search

Indonesia Siapkan Nuklir 7 GW, Hashim Ungkap Strategi Baru Perkuat Ketahanan Energi

Rabu, 7 Oktober 2026

Ilustrasi energi nuklir (ist)

Pemerintah Indonesia mulai menyiapkan langkah besar di sektor energi dengan memasukkan pembangkit listrik tenaga nuklir berkapasitas 7 gigawatt (GW) ke dalam rencana induk energi nasional.

Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo menyebut nuklir akan menjadi salah satu pilar ketahanan energi Indonesia bersama sumber energi terbarukan lainnya.

Hashim mengungkapkan program tersebut menjadi bagian dari agenda energi berkelanjutan yang tengah disiapkan pemerintah. Selain nuklir, Indonesia juga akan mengembangkan tenaga surya, panas bumi, tenaga air, serta bahan bakar nabati.

Target 7 GW Mulai Disiapkan

Menurut Hashim, informasi mengenai target pembangkit nuklir tersebut diperolehnya dari Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo.

Ia menyebut kapasitas 7 GW telah masuk dalam rencana induk energi Indonesia, meskipun implementasinya tetap membutuhkan tahapan perencanaan dan pengembangan lebih lanjut.

Di sisi lain, pemerintah juga menargetkan kapasitas terpasang tenaga surya mencapai 100 GW untuk memperbesar porsi energi rendah emisi dalam sistem kelistrikan nasional.

Energi Hijau dan Batu Bara Berjalan Bersama

Strategi pemerintah tidak berarti Indonesia akan langsung meninggalkan bahan bakar fosil. Hashim mengatakan kebutuhan listrik masyarakat tetap harus dijaga, termasuk untuk rumah tangga, sekolah, rumah sakit, dan fasilitas kesehatan di berbagai daerah.

Karena itu, transisi energi dinilai perlu dilakukan secara bertahap sambil memperkuat sumber energi baru dan terbarukan.

Kondisi geopolitik global turut menjadi alasan pemerintah mempercepat diversifikasi energi. Konflik di Timur Tengah menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap pasokan energi dari luar negeri dapat menjadi risiko bagi stabilitas nasional.

Konflik Global Bikin Ketahanan Energi Makin Penting

Pandangan serupa disampaikan Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie. Menurut dia, konflik Timur Tengah kembali memperlihatkan betapa rentannya pasar energi global dan negara-negara yang masih bergantung pada impor.

Lonjakan harga minyak menjadi salah satu dampak yang perlu diantisipasi Indonesia. Ia menyebut harga minyak pada 2026 sempat meningkat dari sekitar 65 dolar AS menjadi 110 dolar AS per barel.

Indonesia Masih Hadapi Defisit Minyak

Anindya menyoroti kondisi konsumsi minyak Indonesia yang masih jauh lebih tinggi dibandingkan produksi dalam negeri.

Indonesia disebut mengonsumsi sekitar 1,6 juta barel minyak per hari, sementara produksi domestik berada di kisaran 600 ribu barel per hari.

Artinya, terdapat kesenjangan sekitar 1 juta barel per hari yang harus ditutup melalui pasokan dari luar negeri.

Situasi tersebut membuat Indonesia cukup sensitif terhadap perubahan harga dan gangguan pasar energi dunia.

Karena itu, Kadin mendorong percepatan elektrifikasi, peningkatan kapasitas energi terbarukan, dan pengurangan ketergantungan terhadap bahan bakar impor.

Nuklir, Surya, hingga Biofuel Jadi Kombinasi

Pemerintah kini melihat ketahanan energi sebagai strategi yang tidak bisa hanya mengandalkan satu jenis pembangkit.

Nuklir ditargetkan menjadi salah satu sumber listrik berkapasitas besar, sementara tenaga surya, panas bumi, hidro, dan biofuel dikembangkan untuk membentuk bauran energi yang lebih beragam dan tahan terhadap gejolak global.

Bagi Indonesia, rencana tersebut menjadi babak baru dalam perjalanan transisi energi.

Target 7 GW nuklir dan 100 GW tenaga surya menunjukkan ambisi pemerintah memperbesar sumber energi alternatif, tetapi realisasinya tetap membutuhkan perencanaan matang, investasi, teknologi, serta pengawasan keselamatan yang kuat.

Jika berjalan sesuai rencana, diversifikasi ini diharapkan dapat memperkuat pasokan listrik sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil dan impor.

Statement:

Hashim Djojohadikusumo, Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi 

“Pilar penting lainnya dari program energi kita adalah nuklir. Pemerintah Indonesia akan meluncurkan program nuklir yang sangat ambisius.”

“Informasi terbaru yang saya dengar dari Pak Darmawan, jika tidak salah, target 7 gigawatt sudah masuk ke dalam rencana induk (master plan) energi kita.”

“Semua hal ini adalah bagian dari program tersebut, termasuk bahan bakar nabati (biofuel), yang mendapatkan dorongan urgensi ekstra akibat perang yang tengah berkecamuk di Timur Tengah saat ini.”

Anindya Bakrie, Ketua Umum Kadin Indonesia 

“Ketahanan energi sekali lagi menjadi pusat dari agenda global. Kali ini, konflik Timur Tengah baru-baru ini menjadi pengingat betapa rentannya pasar energi global saat ini.”

“Pertama, kita perlu terus mempercepat transisi energi demi ketahanan energi.”

3 Poin Penting:

  • Pemerintah menargetkan pembangkit listrik tenaga nuklir 7 GW yang disebut telah masuk dalam rencana induk energi Indonesia.
  • Tenaga surya ditargetkan mencapai 100 GW, bersama panas bumi, hidro, dan biofuel sebagai bagian dari strategi diversifikasi energi.
  • Konflik Timur Tengah menjadi pengingat risiko ketergantungan impor energi, sehingga percepatan transisi energi dinilai penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Bagikan :

ARTIKEL TERKAIT

ARTIKEL POPULER

Rame 24 Jam

Rame Sepekan