Harga minyak dunia melonjak sekitar 4% pada penutupan perdagangan Kamis (8/10/2026).
Kenaikan ini dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap konflik di Timur Tengah serta ancaman gangguan produksi minyak akibat Badai Isaias yang bergerak menuju Pantai Teluk Amerika Serikat (AS).
Situasi tersebut membuat pelaku pasar kembali mencermati stabilitas pasokan energi global.
Mengutip Reuters, minyak mentah Brent ditutup menguat 4,1% atau sekitar USD4,08 menjadi USD104,28 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 3,6% atau sekitar USD3,21 menjadi USD91,49 per barel.
Dalam perdagangan intrahari, kedua acuan minyak tersebut bahkan sempat melonjak hingga USD5 per barel dan mencapai level tertinggi sejak 29 September 2026.
Konflik Timur Tengah Kembali Tekan Harga Minyak
Sebelumnya, harga minyak sempat melemah setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan tengah berdiskusi dengan Iran. Trump juga menjamin tidak akan ada serangan terhadap Iran hingga pemilihan paruh waktu di AS selesai.
Namun, ketidakpastian kembali meningkat setelah Washington menjatuhkan sanksi baru terhadap individu, jaringan, dan 17 kapal yang mengangkut minyak mentah, produk minyak, serta petrokimia Iran.
Di sisi lain, Iran dikabarkan sedang meninjau tanggapan AS atas proposal pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyatakan akan memberikan jawaban dalam beberapa hari ke depan.
Prancis dan Arab Saudi juga dilaporkan mengkaji opsi pengerahan aset militer untuk melindungi terminal minyak Yanbu, sementara Suriah mempertimbangkan bantuan militer bagi Arab Saudi dalam konfliknya dengan kelompok Houthi.
Selat Hormuz dan Ancaman Gangguan Pasokan
Ketegangan di kawasan Teluk semakin menjadi perhatian karena Selat Hormuz merupakan jalur strategis perdagangan energi dunia. Sebelum perang, sekitar 20% pasokan minyak dan bahan bakar global melewati jalur tersebut.
Peningkatan serangan terhadap kapal tanker yang melintas di kawasan itu turut memperbesar kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak, meskipun sejumlah negara produsen di kawasan Teluk disebut mulai meningkatkan ekspor.
Kepala energi MST Marquee, Saul Kavonic, memperingatkan bahwa situasi keamanan pelayaran masih berisiko memburuk.
Pernyataan tersebut menggambarkan besarnya risiko yang dihadapi pasar energi, terutama jika gangguan pelayaran berlangsung lebih lama dan menghambat distribusi minyak mentah ke berbagai negara.
Badai Isaias Ganggu Produksi Minyak AS
Selain konflik geopolitik, Badai Isaias turut menambah tekanan terhadap harga minyak dunia.
Badai tersebut bergerak menuju kawasan produksi lepas pantai di Teluk Meksiko, AS, sehingga sejumlah perusahaan energi mengambil langkah antisipasi dengan mengurangi atau menghentikan operasi.
Produksi minyak dan gas di kawasan itu dilaporkan terganggu, dengan penghentian produksi minyak mencapai sekitar 1,3 juta barel per hari atau 62,9% dari total produksi minyak di wilayah tersebut.
Pada Rabu (7/10/2026), Shell dan Chevron dilaporkan telah mengurangi operasi lepas pantai mereka. Sementara itu, BP menghentikan produksi di platform Na Kika dan Thunder Horse serta mengevakuasi seluruh personelnya dari fasilitas terkait.
Di tengah situasi tersebut, Badan Energi Internasional (IEA) sebelumnya menyepakati percepatan pelepasan cadangan minyak dan memprioritaskan pasokan diesel untuk meredam tekanan pasokan.
Ke depan, pergerakan harga minyak masih akan dipengaruhi perkembangan konflik Timur Tengah, keamanan Selat Hormuz, serta dampak Badai Isaias terhadap produksi energi AS.
Statement:
Saul Kavonic, Kepala energi MST Marquee
“Frekuensi serangan Iran terhadap kapal kini berada pada titik tertinggi sejak perang dimulai, dan kemungkinan akan semakin meningkat.”
3 Poin Penting:
- Harga minyak melonjak: Brent naik 4,1% menjadi US$ 104,28 per barel, sedangkan WTI menguat 3,6% menjadi US$ 91,49 per barel pada penutupan Kamis (8/10/2026).
- Konflik Timur Tengah meningkatkan risiko pasokan: Ketegangan AS-Iran, sanksi baru terhadap Iran, dan ancaman terhadap pelayaran di Selat Hormuz menjadi faktor utama yang mendorong kekhawatiran pasar.
- Badai Isaias mengganggu produksi AS: Penghentian produksi minyak di Teluk Meksiko dilaporkan mencapai sekitar 1,3 juta barel per hari, sehingga menambah tekanan terhadap pasokan energi global.


