Pertamina EP (PEP) Zona 7 Regional Jawa Bagian Barat terus menunjukkan taji dan komitmennya dalam memperkuat ketahanan energi nasional.
Melalui Jatibarang Field yang berlokasi di Indramayu, Jawa Barat, upaya penggenjot produksi minyak dan gas bumi (migas) terus dilakukan secara intensif.
Salah satu kunci utama keberhasilan operasional di kawasan ini berada pada optimalisasi Stasiun Pengumpul Akasia Bagus (SP-ABG).
Fasilitas SP-ABG terbukti menjadi tulang punggung yang sangat vital bagi kelancaran operasional migas di wilayah Jawa Bagian Barat.
Berbekal ratusan sumur aktif yang dikelola secara profesional, Lapangan Jatibarang sukses mencatatkan angka produksi minyak mentah yang sangat menjanjikan. P
eran teknologi modern di fasilitas ini membuat pengolahan sumber daya alam berjalan kian efektif dan efisien.
Penopang Utama Produksi Minyak Mentah di Indramayu
Supervisor Production SP-ABG, Dedy Gradienda, membeberkan bahwa secara keseluruhan Lapangan Jatibarang mampu memproduksi minyak mentah hingga menyentuh angka 11.000 barel per hari (barrel oil per day/BOPD).
Dari total produksi yang melimpah tersebut, struktur SP-ABG memberikan kontribusi signifikan hingga 2.500 BOPD. Artinya, fasilitas ini menopang sekitar 25-30% dari keseluruhan hasil produksi di Jatibarang Field.
Pencapaian ini sekaligus menegaskan posisi strategis SP-ABG dalam menjaga pasokan energi nasional secara berkelanjutan.
Tidak hanya fokus pada ekstraksi minyak bumi, lapangan ini rupanya menyimpan cadangan potensi gas alam dalam jumlah yang sangat besar di bawah tanah.
Namun, potensi gas tersebut sempat menghadapi tantangan teknis yang cukup berat sebelum akhirnya berhasil ditaklukkan.
Inovasi Teknologi penjinak Gas Berkarbon Tinggi
Kandungan gas alam di wilayah ini awalnya memiliki tingkat pengotor (impurities) yang sangat tinggi, dengan kadar karbon dioksida (CO2) dan hidrogen sulfida (H2S) mencapai 65%.
Kondisi tersebut sempat membuat gas alam tidak dapat dimanfaatkan secara langsung dan harus dibakar (flare) demi menjaga keselamatan lingkungan. Namun, berkat keandalan teknologi terkini, masalah besar tersebut kini berhasil diatasi sepenuhnya.
Pertamina EP menerapkan teknologi pionir berupa CO2 Removal Package dengan sistem amine (MDEA), Gas Dehydration Unit (DHU), serta Thermal Oxidation (TOX).
Rangkaian teknologi canggih ini berfungsi secara presisi memangkas kadar CO2, H2S, dan kandungan air. Alhasil, kualitas gas berhasil ditingkatkan hingga memenuhi standar kualitatif Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG) yang berlaku di industri.
Solusi Ramah Lingkungan yang Pertama di Indonesia
Dedy menjelaskan bahwa fasilitas pengolahan di SP-ABG ini menjadi satu-satunya kilang di Indonesia yang sanggup memangkas kadar CO2 ekstrem dari 65% turun drastis menjadi tinggal 5%.
Lewat proses pemurnian ini, gas beracun dan kotor sebesar 10–11 MMSCFD berhasil disulap menjadi gas bersih layak pakai untuk kebutuhan industri sebanyak 3,3–3,5 MMSCFD.
Langkah inovatif ini tidak hanya menyelamatkan lingkungan dari polusi udara akibat pembakaran gas, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi yang sangat tinggi.
Gas bersih yang dihasilkan kini siap disalurkan untuk mendukung roda perekonomian dan sektor industri nasional, membuktikan bahwa pengelolaan migas ramah lingkungan bukanlah hal yang mustahil.
Target Genjot Kapasitas Penuh Demi Target 2026
Tak berhenti sampai di situ, Pertamina EP Jatibarang Field sudah menyiapkan rencana ekspansi yang lebih tangguh untuk masa depan.
Perusahaan menargetkan peningkatan kapasitas pemrosesan hingga 22 MMSCFD feed gas demi menghasilkan hingga 8 MMSCFD gas bersih murni.
Target besar ini bakal diwujudkan seiring penuntasan rekomendasi operasional pada fasilitas Thermal Oxidizer (TOX).
Proses commissioning dan start-up untuk dua train pengolahan direncanakan siap berjalan pada akhir tahun hingga awal tahun mendatang.
Dengan pengoperasian full capacity di dua pabrik SP-ABG ini, Pertamina EP optimistis dapat mencapai target produksi gas tahun 2026 sekaligus memperkokoh pasokan energi bersih bagi negeri.
Statement:
Dedy Gradienda, Supervisor Production SP-ABG Indramayu
“Kita masih bisa memproduksikan minyak per hari ini sampai di 11.000 barrel oil per day, yang mana untuk struktur dari SP-ABG sendiri kita masih bisa berkontribusi di kisaran 2.500. Ya kurang lebih sekitar 25-30% dari total produksi Jatibarang itu dari SP-ABG. Jadi di Indonesia mungkin ini plant satu-satunya ya untuk bisa menurunkan kandungan CO2, CO2 content 65% menjadi 5%.” —
“Target itu ketika nanti dari TOX atau Thermal Oxidizer-nya sudah selesai, rekomendasinya sudah dijalankan, running TOX, nah kita akan mencoba running full capacity di 22 MMSCFD. InsyaAllah informasi yang saya dapat itu di akhir tahun atau awal tahun lah kita bisa commissioning dan start up dua train tadi.”
“Target di 2026, yang pasti kita akan berusaha me-running dua plant SP-ABG ini sampai full capacity di 22 MMSCFD supaya target di 8 MMSCFD akhir tahun bisa achieve.”
3 Poin Penting:
-
Kontribusi Produksi SP-ABG: SP-ABG menyumbang sekitar 2.500 BOPD atau 25–30 persen dari total produksi minyak mentah Jatibarang Field yang mencapai 11.000 BOPD.
-
Inovasi Penurunan Kadar CO2: SP-ABG menjadi pelopor fasilitas pengolahan di Indonesia yang berhasil menekan impurities gas bernilai CO2 tinggi dari 65 persen menjadi hanya 5 persen menggunakan teknologi CO2 Removal Package, DHU, dan TOX.
-
Target Peningkatan Kapasitas 2026: Pertamina EP siap melakukan commissioning dua train pengolahan guna memaksimalkan kapasitas hingga 22 MMSCFD feed gas demi menghasilkan 8 MMSCFD gas bersih untuk sektor industri.


